
Luna terdiam, mendapati suaminya yang tak mengakuinya sebagai istri bahkan di depan orang asing. Luna kira, Khafi akan menghargai dirinya. Namun ternyata, Luna harus menelan pil pahit bahwa Ia tak ada artinya bagi Khafi.
"Oh, baby sitter. Emm iya, Fi. Sorry pas istri Lo meninggal, Gua gak bisa ngelayad. Lo kan tahu, Gua baru balik ke Indonesia lagi." Erik merasa tak enak hati karena tidak hadir ketika pemakaman istri dari sahabatnya itu.
"Gak apa-apa. Gua masuk ke ruangan dulu, banyak kerjaan!" Seru Khafi.
"Ok. Ra, Kamu kenapa ikut Khafi ke kantor?" Tanya Erik sebelum Luna ikut masuk ke ruangan bersama Khafi.
"Emm..." Luna tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Erik.
"Anak Gua ngerengek pengen ikut, jadi terpaksa Luna harus ikut juga." Khafi menjawab pertanyaan Erik.
"Oh, gitu. Jadi Kamu bakal seharian dong di kantor?" Tanya Erik lagi pada Luna.
"Iya." Luna menjawab seadanya.
"Udah Lo kerja sana!" Pinta Khafi pada Erik.
"Iya," jawab Erik yang sejujurnya masih ingin berbicara banyak bersama Luna.
"Saya masuk dulu, Kak." Luna berpamitan pada Erik.
__ADS_1
Erik mengangguk, Ia masih menatap Luna yang kini telah masuk ke dalam ruangan Khafi.
Sementara itu, di dalam ruangan Khafi tampak bersikap canggung pada Luna. Pasalnya, Khafi peka akan ucapannya yang tak mengakui Luna di depan Erik.
Luna tampak duduk di sofa bersama Rena, Luna menidurkan Rena di sofa.
"Luna," panggil Khafi.
"Iya." Luna menoleh.
"Soal tadi..."
"Gak apa-apa. Aku paham kok, Mas." Luna mengerti apa yang akan Khafi katakan.
"Iya. Tapi pas Aku masuk, Kak Erik lulus. Kita sempat kenalan pas Aku daftar buat masuk ke sekolah itu. Bahkan Kak Erik jadi malaikat penolong buat Aku waktu itu," tutur Luna.
"Malaikat penolong?" Khafi mengerutkan keningnya, mendengar sang istri yang memuji sahabatnya.
"Iya. Awal pendaftaran itu kan harus ada uang masuk ke sekolah, saat itu uang Ibu sama Bapak kurang. Tiba-tiba ada Kak Erik yang waktu itu juga bayar biaya untuk acara kelulusannya, dan ternyata Kak Erik bayarin sisa uangku yang kurang sampai akhirnya Aku bisa sekolah disana. Kalau gak ada Kak Erik mungkin Aku gak jadi sekolah di sana," ujar Luna.
Khafi terdiam, Ia menunjukkan reaksi yang tak dapat di tebak.
__ADS_1
"Oh. Jadi Kalian gak ketemu tiap hari di sekolah, dong? Kan pas Kamu masuk, Erik lulus." Khafi seperti masih penasaran dengan perkenalan Luna dan Erik.
"Emm iya, gak sempet satu lingkup sekolah. Tapi komunikasi Kita di luar itu jalan kok," jawab Luna.
"Maksudnya? Setelah Erik lulus, Kalian masih berkabar? Atau sering ketemuan?" tanya Khafi.
"Kalau ketemu nggak juga, cuma berkabar aja. Sampai suatu hari, tiba-tiba Kak Erik ngilang gitu aja. Gak tahu kemana," jawab Luna lagi.
"Ngilang gimana maksudnya?" Tanya Khafi.
"Ya gak ada kabar, lost contact. Eh, Mas kok tanya-tanya soal Kak Erik terus, sih?" Luna balik bertanya.
Khafi memalingkan wajahnya, Ia menghela nafasnya dan seperti canggung.
"Nggak. Ya emang kenapa kalau Saya banyak tanya tentang Kalian?" Khafi mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Emm, gak ada yang salah juga sih. Kalau Mas mau Aku bisa ceritain semuanya selama Aku berkabar sama Kak Erik. Kak Erik itu pokoknya orangnya baik, ramah..."
"Gak usah!" Seru Khafi yang memotong perkataan Luna.
"Oh, ya udah kalau gitu." Luna kembali diam.
__ADS_1
Khafi merasakan hal aneh, Ia seperti tak nyaman ketika Luna berkali-kali menyebut nama Erik dengan ekspresi wajah yang tampak ceria.