
Beberapa hari setelah pertengkarannya dengan Luna, Khafi benar-benar berubah. Ia lebih banyak diam, dan bahkan lebih banyak menurut pada semua yang di ucapkan oleh Luna.
Kala itu, Luna tengah menyiapkan baju untuk Khafi. Dan Ia juga sudah membuatkan minuman hangat untuk Khafi, Khafi terlihat baru saja keluar dari kamar mandi.
Luna yang menyadari itu, sontak langsung berjalan untuk keluar dari kamar.
"Mau kemana?" Tanya Khafi.
"Mau keluar kamar, Kamu kan mau pakai baju." Luna menjawab tanpa menoleh ke arah Suaminya.
"Kenapa harus keluar?" Tanya Khafi lagi sembari memakai celana.
"Ya, ngapain juga Aku disini." Luna menjawab dengan canggung.
"Hemm. Aku udah pakai celana," ucap Khafi.
Luna terdiam, "kadang Saya, kadang Aku. Dia itu kayak bunglon, sering berubah-rubah!" Gerutu Luna.
Khafi melanjutkan memakai kemeja dan jas, lalu Ia meneguk teh yang di buatkan oleh Luna.
"Besok Kita pergi bulan madu kalau gak ada perubahan di kantor!" Seru Khafi.
Luna terkejut, Khafi begitu mendadak memberitahukan hal itu padanya.
"Besok? Tapi kok cepet banget. Maksudnya kenapa gak seminggu atau sebulan lagi gitu," ujar Luna.
"Ya Kamu emangnya banyak rencana? Gak mau besok?" Tanya Khafi.
"Mau. Eh, maksudnya Aku gimana Mas aja." Luna semakin merasa canggung.
__ADS_1
Khafi telah siap untuk berangkat bekerja, Ia pun meminta Luna untuk membawa Rena ke hadapannya lebih dulu.
Akhir-akhir ini, Khafi sangat jarang bermain dengan Rena. Ia tak ingin melewatkan moment emas bersama putri bungsunya, namun keadaan belakangan ini membuatnya lupa dengan ketiga anaknya.
"Aku berangkat kerja dulu. Rena mau gendong dulu?" Tanya Khafi pada Rena yang kini tengah di gendong oleh Luna.
Rena mengulurkan tangannya, Ia terlihat antusias untuk bermain dengan sang ayah.
"Rena. Papa kerja dulu, nanti kalau Papa pulang Kita main. Sekarang Papa kerja dulu boleh?" Khafi membujuk.
Rena tampak terdiam, Luna pun ikut menimpali.
"Rena, sini sama Ibu!" Pinta Luna.
Rena pun kembali pada pangkuan Ibu sambungnya, "Rena, Papa kerja dulu. Sekarang Rena mainnya sama Ibu dulu, ya!" Seru Luna.
Rena pun tampak memeluk Luna, dan Luna pun meminta Khafi untuk segera pergi.
Khafi pun mengangguk, Ia berjalan masuk ke dalam mobil dan segera melajukan kendaraannya.
***
Sesampainya di kantor, Khafi segera mengurus pekerjaannya agar bisa mengambil cuti.
Erik yang melihat Khafi begitu sibuk, tak berniat untuk menghampiri sahabatnya itu.
Erik tampaknya menaruh curiga pada Khafi, pasalnya beberapa kali Khafi menunjukan sikap aneh saat berurusan dengan Luna.
"Woy! Ngelamun aja!" Seru Yuke pada Erik yang tengah menatap serius ke arah jendela kantor Khafi.
__ADS_1
"Bikin kaget aja!" Seru Erik.
"Kenapa, sih? Lihatin apa?" Tanya Yuke sembari mengikuti arah tatapan Erik.
"Oh, Khafi. Ganteng ya?" Tanya Yuke sembari tertawa kecil.
"Ke. Lo katanya mau bantu Gua buat deket sama Luna," ujar Erik.
"Emm, iya. Terus? Kan Gua udah kasih nomornya ke Lo. Lo udah usaha belum?" Tanya Yuke.
"Udah. Malah Gua udah nembak Dia, tapi... Di tolak!" Seru Erik.
"Hah? Di tolak? Serius. Alasannya apa?" Tanya Yuke.
"Ya gak tahulah, gak jelas. Dan satu hal lagi, Khafi pernah bilang kalau Luna itu udah punya calon suami. Gua belum pastiin itu bener atau nggak ke Luna," tutur Erik.
Yuke membungkam, Ia tengah mencari cara agar bisa mendekatkan Luna dengan Erik.
"Emm, Rik. Gua mau ajak Lo ke luar kota, Lo bisa ikut?" Tanya Yuke.
Erik mengertukan keningnya, untuk apa Yuke mengajaknya ke luar kota.
"Ngapain?" Tanya Erik.
"Pokoknya Lo akan tahu sesuatu nanti, asal Lo mau ikut." Yuke menuturkan.
"Hemm, apa sih? Kapan?" Tanya Erik.
"Emm untuk keberangkatan, pasti dadakan. Jadi Gua mau Lo udah siap-siap kalau sewaktu-waktu Gua ajak Lo berangkat, soalnya pasti mendadak sih Kita berangkatnya!" Tukas Yuke.
__ADS_1
Erik tak paham dengan permintaan Yuke, namun Ia juga merasa penasaran dengan rencana Yuke dan memutuskan untuk menyetujuinya.