Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Kondisi Erik


__ADS_3

Dua hari berlalu, Luna sudah terlihat jauh lebih baik. Khafi berniat untuk meminta Luna pulang lebih dulu, sementara itu Ia akan menyelesaikan urusannya di Bali sendirian.


"Lun. Kamu pulang duluan, gak apa-apa?" Tanya Khafi.


"Pulang duluan? Terus Kamu gimana?" Tanya Luna.


"Aku disini sampai urusan sama Erik dan Yuke selesai," jawab Khafi.


Luna tampak berpikir, "Aku temenin Kamu aja," sahutnya.


Khafi menggelengkan kepalanya, "jangan. Kamu pulang aja! Lagian kasihan juga anak-anak pasti kangen sama Kamu," ujar Khafi, Ia menggunakan ketiga anaknya sebagai alat untuk membujuk Luna agar mau pulang lebih dulu.


Luna langsung tediam, di satu sisi Ia juga memang sangat merindukan anak-anak juga adiknya, Nuka.


"Tapi Kamu disini sendirian," ujar Luna.


"Aku bakal baik-baik aja, Kamu pulang, ya. Aku janji setelah urusannya selesai, Aku bakal langsung pulang!" Seru Khafi.


Walaupun berat hati, akhirnya Luna pun menyetujui permintaan suaminya itu.

__ADS_1


"Ya udah, Aku pesankan tiket buat Kamu pulang besok pagi." Khafi pun segera memesan tiket pesawat untuk sang istri, Ia akan lebih leluasa bertindak ketika sang istri tak ada di dekatnya. Khafi juga tak mau Luna kembali syok, ketika mengetahui bahwa Yuke memang berniat untuk mencelakainya.


***


Sementara itu di rumah sakit, tampaknya Erik sadar lebih dulu dari Yuke. Ia mendapatkan Luna di sebelah kakinya, sementara Yuke, Ia mengalami patah tulang di tangan juga lehernya. Erik melirik ke seluruh ruangan, Ia menyadari dimana dirinya berada.


"L-lu-luna..."


Erik berucap dengan terbata-bata, matanya masih berusaha untuk dapat melihat dengan lebih jelas.


Saat itu kebetulan jadwal pemeriksaan, salah seorang perawat yang hendak mengecek kondisi Erik segera memanggil Dokter ketika mendapati Erik telah sadar.


"Apa yang Kau di rasakan sekarang?" Tanya Dokter itu pada Erik.


"Sedikit... Pusing," jawab Erik.


Dokter pun kembali melanjutkan pemeriksaannya, tampaknya kondisi Erik cukup stabil saat itu.


"Dok. Siapa yang bawa Saya kesini?" Tanya Erik.

__ADS_1


"Saya kurang tahu, tapi sepertinya Dia kerabat Anda." Dokter menjawab seadanya.


"Kalau teman Saya, gimana kondisinya, Dok?" Tanya Erik lagi.


"Oh, iya. Teman Anda mengalami cedera cukup parah, tulang leher dan tangannya kanannya patah. Beberapa jam lalu, Dia belum sadar. Tapi Saya akan memeriksanya lagi setelah selesai memeriksa Anda," ujar sang Dokter.


"Oh, iya. Terima kasih, Dok." Erik kembali beristirahat, Ia diminta untuk lebih banyak tidur untuk segera memulihkan kondisinya.


Malam itu, Erik tak dapat tidur dengan mudah. Ia masih memikirkan siapa yang membawanya ke rumah sakit, dan Erik pun teringat dengan kondisi Luna.


"Luna gimana, ya? Apa Dia baik-baik aja?" Erik termenung sendirian, Ia benar-benar merasa bersalah dan akan sangat menyesal jika terjadi sesuatu pada Luna akibat dari kelakuan Yuke yang melebihi batas.


"Aku gak percaya si Yuke bisa senekat itu," gumam Erik.


Seorang perawat masuk untuk memberikan obat pada Erik, Erik pun meminta kepada perawat untuk membantunya.


"Sus, tolong kasih tahu Saya kalau teman Saya sudah sadar. Dan satu lagi, apa Suster tahu dimana ponsel Saya?" Tanya Erik.


"Oh, barang-barang Bapak Kami simpan. Saya bisa ambilkan, dan untuk kondisi teman Bapak biar nanti Kami kabari jika sudah sadar!" Seru perawat itu.

__ADS_1


Erik pun berterima kasih, Ia sangat membutuhkan ponselnya untuk menghubungi Khafi dan menanyakan kondisi Luna. Erik tahu, Khafi akan melontarkan banyak pertanyaan kepadanya. Namun Erik tetap ingin menghubungi sahabatnya, dan memastikan bahwa Luna baik-baik saja.


__ADS_2