
Luna masih mematung, Ia menatap sang suami yang menenggelamkan wajah di bahunya.
Luna terkejut, melihat tingkah Khafi yang begitu manis padanya.
Sejujurnya Luna merasa bahagia dengan perubahan sikap Khafi, namun Ia masih enggan untuk berharap banyak terhadap cinta sang suami untuknya.
"Mas. Kamu pulang gak ngabarin dulu!" Seru Luna.
Khafi pun mengangkat wajahnya, Ia memposisikan tubuh Luna untuk menghadap ke arahnya.
"Ceritanya Aku mau ngasih kejutan, Kamu gak terkejut emangnya?" Tanya Khafi.
Luna tersenyum tipis, "Aku terkejut, banget malah! Apalagi dengan tiba-tiba Kamu meluk kayak gini," ujar Luna.
Khafi mengangkat kedua alisnya, Ia menghela nafasnya.
"Gak boleh emang? Halal kan meluk istri sendiri?" Tanya Khafi.
"Boleh, dong." Luna menjawab dengan jujur, dan tiba-tiba saja Khafi kembali memeluknya membuat Luna terkejut lagi.
"Cie..." Ica dan Brian meledek kedua orang tuanya.
Luna langsung malu, Ia meminta Khafi untuk melepas pelukannya.
"Mas. Malu!" Seru Luna.
Khafi pun melepas pelukannya, kedua anaknya masuk ke dalam kamar dan ikut memeluk Khafi dan Luna.
__ADS_1
"Ica seneng deh lihat Papah baik sama Ibu," ujar Ica.
Khafi mengerutkan keningnya, "emangnya Papah sebelumnya pernah gak baik sama Ibu?" Tanya Khafi.
"Maksudnya Ica, Kita seneng Papah bisa nerima Ibu sebagai Ibu sambung Kita. Tapi Mami Selina juga selalu ada di hati Kita, boleh kan, Bu?" Tanya Brian pada Luna.
Luna tersenyum, "boleh dong, Sayang. Jangan pernah Kalian lupain Mami Selina, sampai kapanpun Mami Selina adalah Ibu yang udah ngelahirin Kalian." Luna menuturkan.
"Siap, Bu. Tapi Kita juga sayang sama Ibu kok," ujar Brian.
"Makasih," ucap Luna.
"Sama-sama." Ica dan Brian menjawab.
Kehangatan terasa di antara Mereka, namun tiba-tiba saja Luna merasa perutnya tak enak.
"Hoek!" Luna kembali memuntahkan isi perutnya.
Khafi yang melihat Luna seperti itu, sontak menyusul dengan wajah yang begitu khawatir.
"Luna, Kamu kenapa?" Tanya Khafi.
Luna tak menjawab, Ia masih merasakan mual yang begitu hebat.
"Ca, tolong bilang ke Bi Yuni buat bawain air hangat buat Ibu sekarang!" Pinta Khafi.
"Baik, Pah." Ica berlari keluar kamar, Ia langsung memanggil Bi Yuni dan meminta air hangat sesuai permintaan sang ayah.
__ADS_1
Brian dengan refleks memijit tengkuk Ibu sambungnya itu, Ia juga terlihat begitu khawatir.
"Pah, Ibu kenapa?" Tanya Brian pada Khafi.
Khafi menggelengkan kepalanya, "gak tahu, tapi Ibu kayaknya gak enak badan!" Seru Khafi yang memang belum bisa memastikan kondisi Luna.
Bi Yuni datang bersama Ica, Ia membawa secangkir air hangat.
"Ini, Pak air nya." Bi Yuni menyodorkan gelas berisi air hangat pada Khafi.
"Sini, minum dulu!" Pinta Khafi. Ia membantu Luna untuk dapat meneguk air dan berharap bisa melegakan rasa mualnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Khafi lagi.
Luna menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat begitu pucat.
"Aku bantu berdiri!" Seru Khafi.
Luna pun berdiri dengan perlahan, Ia menopangkan tubuhnya pada tubuh Khafi.
"Kenapa? Pusing?" Tanya Khafi.
Luna mengangguk, lalu Khafi, Brian, Ica dan Bi Yuni kembali di buat panik ketika tiba-tiba saja Luna jatuh dan tak sadarkan diri.
"Ibu!" Teriak Brian, dan Ica.
Khafi segera menggendong Luna, Ia meminta Bi Yuni untuk memberitahu kedua orang tuanya dan meminta untuk menghubungi Dokter keluarga.
__ADS_1
Bu Yuni berlari, Ia langsung menemui majikannya yang lain untuk memberitahukan kondisi Luna.