
Khafi menundukkan kepalanya, Ia merasa bersalah pada Luna.
"Aku minta maaf," ucap Khafi.
Luna menghela nafasnya, Ia pun seakan tak bisa melanjutkan kemarahannya ketika melihat raut wajah suaminya yang terlihat menyesal.
"Ya udahlah, gak usah di bahas!" Seru Luna.
"Aku... Janji bakal memperlakukan Kamu lebih baik lagi," ucap Khafi, terdengar tulus.
"Ga usah janji, Aku takut Mas gak bisa nepatin!" Pinta Luna.
"Kenapa? Aku kan mau berusaha, harusnya Kamu dukung dong!" Pinta Khafi.
Luna menghela nafasnya lagi, Ia menatap Suaminya dengan tegas.
"Kalau Mas memang mau memperlakukan Aku jauh lebih baik, Mas mau mulai belajar untuk mencintai Aku?" Tanya Luna.
Erik mengepalkan tangannya, kali ini sudah sangat jelas Ia dengar. Khafi dan Luna, memang memiliki hubungan dan bahkan sudah menikah.
Khafi masih terdiam, Ia memalingkan wajahnya dan tak sengaja menatap kaca yang dapat memantulkan bayangan orang yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Khafi menajamkan matanya, Ia memperhatikan sosok yang duduk di belakangnya.
"Tunggu. Kok yang duduk di belakang itu kayak Erik?" Khafi semakin menyipitkan matanya, dan memastikan bahwa orang yang di lihatnya memanglah Erik.
Khafi beralih menatap Luna, dan seolah memberi isyarat pada Luna untuk mengerti kode yang di berikan olehanya.
"Ssttt!" Khafi mencolek pelan tangan Luna.
"Apa sih, Mas. Gak usah colek-colek, deh!" Seru Luna yang belum memahami isyarat yang di berikan oleh suaminya itu.
Khafi membuka matanya lebar, menatap Luna dengan tatapan kesal.
Luna mengernyit, Ia mencoba untuk memahami apa yang di lakukan oleh Suaminya itu.
Luna meraih ponsel Khafi, dan menatap layar ponsel.
Luna membaca pesan yang di tulis oleh Khafi, sontak Ia terkejut namun Luna tak langsung menatap ke arah Erik sesuai permintaan Suaminya.
"Aku harus gimana sekarang?" Luna kembali menulis pesan dan memberikan kembali ponsel itu.
Khafi membaca, Ia pun menulis kembali dan memperlihatkan pada Luna.
__ADS_1
"Kamu pergi ke kamar sekarang, soal makanan nanti Aku pesan buat di kirim ke kamar!" Pinta Khafi.
Luna mengangguk, tanpa berbicara apapun Luna pun beranjak dari tempatnya dan berjalan cepat tanpa berniat untuk menoleh ke arah Erik.
Dengan ujung matanya, Erik terheran mengapa tiba-tiba Khafi dan Luna tak bersuara. Bahkan Erik juga tak menyangka bahwa Luna akan pergi, dan yak menyadari keberadaannya.
"Loh, Luna kok pergi duluan? Dia mau kemana?" Erik bertanya-tanya, tanpa berpikir panjang Ia pun beranjak dari tempatnya dan berjalan cepat menyusul Luna. Tak lupa, Erik menutup wajahnya agar tak terlihat oleh Khafi.
Ketika melihat Erik yang beranjak dari mejanya, Khafi langsung menoleh.
"Mau kemana Dia? Apa Dia mau nyusul Luna?"
Khafi segera meraih ponselnya, dan menghubungi Luna.
Sambungan telepon tersambung, Khafi segera memberitahu Luna bahwa Erik tengah berada di belakangnya.
"Kamu jangan ke kamar! Kamu ke toilet aja sekarang!" Pinta Khafi.
Tanpa bertanya, Luna menuruti perkataan suaminya. Luna pun berjalan menuju toilet perempuan, dan seketika Erik pun tak dapat mengikuti Luna lagi.
"Duh, kenapa harus ke toilet, sih!" Gerutu Erik.
__ADS_1
Luna masuk ke dalam toilet, dan mengunci pintu.
Luna menghembuskan nafas panjang, Ia merasa khawatir jika harus bertemu Erik saat itu juga.