
Selesai makan siang, Luna dan Khafi kembali ke ruangannya. Namun karena merasa bosan, Luna bermaksud untuk pulang lebih dulu.
"Mas. Anak-anak pasti udah pulang sekolah, kasihan Mereka di rumah gak ada Aku." Luna mulai menuturkan niatnya.
"Terus?" Tanya Khafi.
"Emm, ya terus Aku tadinya mau pulang sekarang." Luna melanjutkan perkataannya.
"Terus Aku? Di rumah kan ada Mamah," jawab Khafi dengan sensi.
Luna mengerutkan keningnya, "ya Mas kan masih kerja, pasti gak apa-apa dong kalau Aku pulang duluan. Emang di rumah ada Mamah Nuri, ada Mamah Windi, tapi kan kasihan kalau Mereka yang ngurusin Ica dan Brian." Luna mencari alasan.
"Brian dan Ica sudah besar. Mereka pasti gak akan merepotkan Mamah," timpal Khafi.
"Ish, Mas Khafi nih kenapa, sih? Gak peka banget! Gak tahu apa kalau Aku dan Rena bosan disini," gerutu Luna dalam hatinya.
"Iya, sih. Maksud Aku tuh..."
"Kamu bosan?" Sela Khafi.
Luna terdiam, lalu Ia menganggukkan kepalanya dengan ragu.
Khafi menghela nafasnya,Ia terlihat begitu menahan kekesalan.
"Kalau ngobrol sama Erik aja gak kelihatan bosen!" Sindir Khafi.
__ADS_1
"Erik? Kok jadi bawa-bawa Kak Erik, sih. Ini tuh gak ada hubungannya sama Kak Erik, lagian kalau Aku sampai sore disini juga ngapain? Aku gak bantuin Mas kerja, momong Rena di rumah lebih nyaman. Kalau disini gak bebas," ujar Luna.
"Disini aja! Tinggal dua jam lagi juga!" Pinta Khafi.
Luna membuang nafasnya dengan kasar, dan mau tak mau Ia tetap tinggal walau sebenarnya Luna sudah sangat merasa bosan.
Khafi mengambil sebuah remote tv, lalu Ia menyalakannya dan menayangkan film kartun agar Rena betah berlama-lama di kantornya.
Dan benar saja, ketika film mulai Rena langsung duduk dengan tenang dan menikmati tontonannya.
Ketika tengah menunggu suaminya, seseorang mengetuk pintu dari luar.
Luna berdiri, Ia bermaksud untuk membuka pintu.
Ketika membuka pintu, Luna mematung dalam sekejap.
Luna menelan salivanya, dan berbalik menoleh kearah suaminya.
"Mbak Yuke," jawab Luna.
"Hay, Fi." Tanpa permisi dan meminta izin, Yuke menerobos masuk ke dalam ruangan.
Khafi menatap ke arah Yuke, "ngapain ke sini?" Tanya Khafi.
"Main aja. Emangnya gak boleh Aku main kesini?" Tanya Yuke.
__ADS_1
Khafi tak menjawab, Ia memilih kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.
Yuke menatap sinis ke arah Luna, dan berubah drastis ketika menyapa Rena.
"Hay, Rena. Lagi nonton apa?" Tanya Yuke.
Rena tak menjawab, Ia juga terlihat fokus menonton tv.
"Ngapain Dia disini?" Tanya Yuke pada Khafi.
"Dia siapa?" Tanya Khafi tanpa menoleh ke arah Yuke.
"Ya Dia, baby sitternya Rena." Yuke menimpal.
Khafi mengangkat wajahnya, dan menatap sinis ke arah Yuke.
"Luna bukan lagi baby sitternya Rena. Dia Ibunya Rena," ujar Khafi.
Luna sedikit merasa menang di depan Yuke, namun tampaknya Yuke tak menyukai jawaban Khafi.
"Ibu Rena itu Selina! Gak ada yang boleh gantiin posisi sahabat Aku!" Seru Yuke.
Khafi tak menggubris pernyataan Yuke, "terserahlah, kenyataannya memang status Luna sekarang udah berubah!"
Yuke mengepalkan tangannya, Ia menatap tajam ke arah Luna.
__ADS_1
Namun Luna seolah memiliki kuasa, Luna bersikap selayaknya seorang Ibu pada Rena dan menunjukan pada Yuke bahwa Ia pantas menjadi istri Khafi.
Ketika tengah berkumpul, Erik kembali datang ke ruangan Khafi yang sontak membuat Khafi kembali kesal.