Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Tiket Bulan Madu


__ADS_3

Luna masuk ke dalam kamar, Ia menatap Khafi yang tengah bercermin dan menggunakan baju pilihannya.


Luna berjalan mendekati nakas, dan menyimpan minuman yang di buatnya untuk Khafi.


"Ini tehnya, Mas!" Seru Luna.


Lamunan Khafi buyar, Ia menoleh ke arah Luna yang sudah berdiri di belakangnya.


"Emm, Kamu mau pakai baju itu?" Tanya Luna dengan hati-hati.


Khafi melihat penampilannya, "iya. Kenapa? Gak cocok? Ini kan baju yang Kamu pilih," ujar Khafi.


"Nggak, bukan gitu. Maksud Aku, kok tiba-tiba Mas minta Aku buat pilihin baju?" Tanya Luna.


Khafi terdiam, Ia tak mungkin menjawab yang sebenarnya bahwa Ia merasa cemburu.


"Emang kenapa? Kan emang tugas Kamu siapin baju buat Aku!" Seru Khafi.


"Aku? Jadi sekarang, Kita manggilnya Aku Kamu, gitu?" Tanya Luna yang membuat Khafi canggung.


"Emm, ya suka-suka lah mau manggil apa." Khafi mencoba menyembunyikan kecanggungannya.


"Oh, iya. Ada perubahan di perjanjian pernikahan Kita!" Seru Khafi.


"Perubahan? Apa? Tambahan atau apa?" Tanya Luna.


"Ada lah pokoknya, nanti aja pulang kerja Kita bahas. Aku mau pergi kerja sekarang," ujar Khafi.


"Tehnya?" Tanya Luna.


Khafi melirik ke arah teh yang sudah di buatkan oleh Luna, sebenarnya Ia sedang tidak ingin minun teh, namun jika tidak di minum Ia takut Luna akan tersinggung dan Mereka malah akan bertengkar lagi. Khafi pun terlihat berjalan mengambil teh, dan meminumnya beberapa tegukan.


***


Luna mengantar Khafi hingga ambang pintu, namun Mereka terkejut ketika melihat Erik yang sudah ada di depan rumah.

__ADS_1


"Rik. Ngapain Lo kesini pagi-pagi?" Tanya Khafi.


Ia meminta Luna untuk segera masuk, namun Erik mencegahnya.


"Eh, Lun. Mau kemana?" Tanya Erik.


"Oh, Aku mau ke dalam, Kak. Harus ngurusin Rena," dalih Luna.


"Oh, ngobrol sebentar bisa? Ada yang mau Aku tanyain sama Kamu," pinta Erik.


Khafi terlihat panik, Ia takut jika Erik menanyakan perisal pesannya pada Luna malam tadi.


"Mau bicarain apa, Kak?" Tanya Luna.


"Soal yang sema..."


"Luna. Rena kayaknya nangis, Kamu masuk sekarang!" Pinta Khafi.


Luna terdiam, namun Ia tak membantah permintaan Khafi padanya.


"Baik, Pak." Luna mengerti bagaimana Ia harus bersikap di depan Erik.


"Ah udahlah, nanti aja. Sekarang Kita ke kantor, udah siang nih!" Ajak Khafi sembari setengah memaksa.


Erik pun terpaksa menurut, Ia bersama Khafi pun pergi ke kantor.


Luna mengintip dari balkon, dan mempertanyakan apa yang ingin di bicarakan oleh Erik.


Saat Khafi sudah pergi ke kantor, dan anak-anak pun sudah pergi sekolah. Saatnya Luna menyiapkan mertuanya sarapan, dan Mereka pun tampak berkumpul di meja makan.


"Lun. Gimana pas Kamu main ke kantor, Khafi? Jenuh, gak?" Tanya Bu Windi.


"Nggak, kok. Rena juga kayaknya betah, Mah. Oh iya, katanya semalam Mamah mau ngobrol sama Aku dan Mas Khafi. Tapi gak jadi," ujar Luna.


"Oh, iya. Semalam Mamah emang mau ngobrol sama Kalian, tapi pas Mamah mau manggil Mamah denger Kalian lagi teriak-teriak. Gak tahu lagi apa," ucap Bu Windi sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Luna merasa malu, pipinya memerah mendengar ledekan mertuanya.


"Oh, itu gak lagi apa-apa kok, Mah. Emangnya Mamah mau ngomongin apa?" Tanya Luna.


"Iya, Win. Kamu mau ngobrolin apa sama Luna sama Khafi?" Tanya Bu Nuri.


"Itu loh, Bu Nuri soal rencana Kita waktu itu." Bu Windi menuturkan.


Bu Nuri terdiam sejenak, lalu tak lama Ia mengingat rencana yang telah dibuatnya dengan sang besan.


"Oh, itu. Iya-iya, obrolin secepatnya!" Pinta Bu Nuri.


"Ngobrolin apa sih, Ma?" Luna semakin penasaran.


"Gini, Mamah tuh sama Mamah Nuri berencana buat kasih Kalian tiket, buat..."


"Selamat pagi semua," sapa Yuke yang tiba-tiba datang berkunjung.


Bu Windi yang merasa ucapannya terpotong oleh Yuke, sontak merasa kesal dengan kedatangan Yuke.


"Kamu itu kalau masuk rumah orang bisa ketuk pintu dulu, gak? Gak sopan banget!" Seru Bu Windi.


Yuke tampan tak peduli, Ia langsung duduk di meja makan tanpa rasa malu.


"Ya ampun, Tan. Kayak sama siapa aja sih," ucap Yuke.


Bu Nuri mendelik, "ya emang Kamu siapa? Bukan siapa-siapa, kan?" Sindir Bu Nuri.


Yuke tampak tersinggung, namun Ia mencoba menahan dirinya.


"Tante apa kabar? Udah lama Aku gak main kesini, kangen deh." Yuke cukup tahan banting dengan sikap tak ramah yang di tujukan oleh keluarga Khafi padanya.


"Baik." Semua menjawab singkat.


"Oh, iya. Lagi ngobrolin apa, sih? Tadi Aku sempet denger kalau Tante beliin tiket, tiket apa kalau boleh tahu?" Tanya Yuke.

__ADS_1


Bu Windi menghela nafasnya, "tiket bulan madu, buat Khafi sama Luna. Kenapa emangnya? Kepo banget," ucap Bu Windi.


Yuke terdiam, Ia tak bisa membiarkan Luna dan Khafi pergi berbulan madu. Yuke harus siap merancang rencana, untuk menggagalkan bulan madu Luna dan Khafi.


__ADS_2