
Pagi hari, Luna terlihat lebih segar apalagi setelah tubuhnya di bersihkan.
Kini Luna tengah mengASIhi buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki, Khafi memberi nama untuk sang putra Keenan Xelian.
Mata sang putra begitu mirip padanya, sedangkan hidung dan bibir lebih kepada Luna.
Khafi merasa kinu hidupnya begitu sempurna, memiliki empat orang anak yang lucu-lucu juga seorang istri cantik yang teramat baik hati.
Khafi tak menyangka, Luna yang umurnya jauh di bawahnya bisa menjelma menjadi malaikat untuk ketiga anaknya. Kini bahkan Tuhan menghadirkan malaikat kecil yang begitu tampan dari rahim seorang perempuan yang dulunya tak Ia cintai, namun kini perempuan itu telah memenuhi ruang hatinya.
Sore hari Luna di izinkan untuk pulang, orang rumah telah menyiapkan sambutan untuk kepulangan Luna juga bayinya.
Semua sanak keluarga dari Pak Seni datang untuk memberi ucapan selamat pada Khafi, Luna juga terlihat begitu bahagia.
Ia tak menyangka akan memiliki keluarga sesempurna ini, Luna bahkan merasakan kehadiran orang tuanya pada sosok ayah juga ibu mertuanya.
Ketiga anak sambung Luna terlihat bahagia menyambut kehadiran adik kecil Mereka, bahkan Nuka pun teramat begitu perhatian pada kondisi sang kakak selepas melahirkan.
Luna bersyukur dapat menyanyangi ketiga anak sambungnya tanpa membeda-bedakan, Ia juga berterima kasih karena telah di terima dengan baik oleh ketiga anak sambungnya itu.
Seminggu setelah bayinya lahir, Khafi dan keluarga menggelar acara tasyaqur dan aqiqah bayi Mereka.
__ADS_1
Banyak kolega yang di undang, bahkan Pak Seno mempersilahkan para tetangganya yang ingin hadir di acara tersebut.
Kebahagiaan begitu mengalir deras untuk Luna dan bayinya, bahkan perhatian Khafi kini bertambah untuk Luna.
"Mas. Kak Erik," ucap Luna ketika melihat Erik datang.
Khafi menoleh, Ia melempar senyum pada sahabatnya itu.
Tampak Erik berjalan mendekati Khafi dan Luna, Erik pun menatap bayi yang tengah di gendong Luna.
"Fi, Luna, selamat, ya." Erik berucap.
"Makan, Rik!" Seru Khafi.
"Siap, gampang. Gimana kondisi Luna?" Tanya Erik pada Khafi.
"Semakin membaik," jawab Khafi.
"Emm, Kak. Mbak Yuke, gimana keadaanya?" Tanya Luna dengan hati-hati.
Erik mengulum senyum, "Yuke semakin baik juga, Dia sudah bisa menerima kenyataan. Yuke juga tampak gak sabar buat ketemu Kalian, sekadar minta maaf. Aku pastiin Yuke udah berubah," ujar Erik.
__ADS_1
Luna terdiam, Ia masih merasa kasihan pada kondisi Yuke.
"Udah jangan di pikirin, Yuke baik-baik aja. Sekarang gak akan ada yang ganggu rumah tangga Kalian," lanjut Erik.
Khafi menepuk pelan pundak sahabatnya itu, Ia merasa bangga karena Erik bisa berbesar hati untuk menerima kenyataan bahwa Luna tak bisa Ia rebut dengan cara apapun tanpa restu dari Tuhan.
"Gua doain, semoga Lo dapat pasangan yang baik, yang bisa menerima Lo sebaik mungkin." Khafi berucap.
Erik mengangguk, untuk saat ini Ia memang belum terpikir untuk mencari pasangan.
Erik pun tampak berbaur dengan keluarga Khafi yang telah lama di kenalnya, Luna juga merasa tenang karena masalahnya kini telah selesai.
Luna berharap, rumah tangganya akan abadi hingga akhir hayat.
Luna mendoakan yang terbaik bagi Erik dan Yuke, tentunya Ia berharap dapat berhubungan baik dengan keduanya.
***
Hidup bukan tentang apa yang harus selalu Kita miliki, tetapi hidup mengajarkan Kita untuk ikhlas menerima bahwa apapun yang Kita inginkan tidak selalu harus Kita miliki.
......TAMAT......
__ADS_1