
Saat semua tengah berada di kamar masing-masing, Khafi masih menunggu istrinya sadar. Khafi menggenggam erat tangan Luna, tak lama Luna pun menggerakkan tangannya. Matanya mulai terbuka secara perlahan, pandangannya masih sangat kabur.
"Mas." Luna memanggil Khafi.
"Iya, Luna. Aku disini," ucap Khafi.
Luna menoleh, "Mas. Aku di kamar?" Tanya Luna sembari mengedarkan pandangannya.
"Iya. Kamu pingsan tadi, sekarang apa yang Kamu rasain? Masih pusing? Atau mau muntah lagi? Atau ada bagian lain yang sakit, gak?" Tanya Khafi dengan begitu cemas pada sang istri.
Luna menggelengkan kepalanya, tubuhnya memang masih terasa lemas, namun Ia tak lagi merasakan pusing bahkan tak ada keinginan untuk muntah.
"Aku udah baikan, kok. Maaf ya ngerepotin semuanya," ucap Luna.
"Nggak ngerepotin. Syukur kalau Kamu udah baikan, tapi kalau ada keluhan lagi langsung kasih tahu Aku!" Pinta Khafi.
"Iya, Mas. Mungkin magh Aku kambuh, soalnya selama Kamu di Bali perasaan Aku gak tenang. Aku juga sering telat bahkan lupa makan," ujar Luna.
__ADS_1
Khafi menghela nafasnya, "kenapa sampai kayak gitu? Aku kan udah bilang, disana Aku bakal baik-baik aja. Semua urusan juga udah beres," tutur Khafi.
Ya, beberapa terakhir memang Luna tak bisa tidur dengan nyenyak. Sering kali Ia juga melupakan kesehatannya, Ia juga kerap melupakan jam makannya.
Luna sangat mengkhawatirkan Khafi, Ia juga masih belum bisa tenang, mengingat kejadian yang menimpa dirinya.
"Maafin Aku." Luna merasa bersalah.
"Udah, gak usah bahas itu lagi. Sekarang Kamu makan, minum obat. Terus istirahat!" Pinta Khafi.
Luna mengangguk, Khafi pun memanggil Bi Yuni dan meminta untuk membuatkan bubur.
Di tempat lain, kondisi Yuke masih sama. Ia bahkan terlihat semakin depresi, sementara Erik Ia semakin jari semakin baik. Ia bahkan sudah mulai menggunakan kursi roda, dan sering menjenguk Yuke.
Erik merasa kasihan pada Yuke, tetapi Ia juga tak bisa jika harus di liputi rasa bersalah pada Luna setiap saat.
"Gimana ya keadaan Luna sekarang?" Erik teringat pada Luna.
__ADS_1
Ia sangat ingin menghubungi Luna, tetapi Ia lebih sangat ingin jika bisa bertemu dengan Luna.
Erik belum bisa pulang, Ia harus menjalani terapi terlebih dulu. Ia juga merasa kasihan pada kedua orang tua Yuke, yang harus menerima bahwa putri Mereka harus mendekam di jeruji besi dengan kondisi yang sangat tidak baik.
Erik sendiri, Ia lolos dari jeratan hukum. Dan setelah pulih, Ia akan bisa melenggang bebas.
Sementara itu, Luna kini di liputi rasa bersalah dan sangat berhutang budi pada Erik. Berkat Erik, Ia bisa lolos dari maut.
"Lalu kondisi Kak Erik sekarang gimana, Mas?" Tanya Luna.
"Dia pasti cepat pulih," jawab Khafi.
Luna terdiam, melihat reaksi sang istri, Khafi mulai merasa khawatir.
"Kamu jangan mikirin apapun, Erik dan Yuke akan baik-baik saja. Semua sudah ada yang urus, dan satu hal lagi. Jangan pernah merasa bersalah, atau bahkan merasa berhutang budi. Mereka sudah hampir merenggut nyawa Kamu!" Seru Khafi.
Luna menatap suaminya, Ia tak menyangka bahwa sang suami bisa tahu apa yang tengah menjadi beban pikirannya saat ini.
__ADS_1
"Tapi tetap aja, Kak Erik bisa sampai terluka parah karena ingin menyelamatkan Aku, Mas." Luna menuturkan.
Khafi menggelengkan kepalanya, Ia tak mau jika kebaikan hati Luna malah akan di jadikan senjata oleh Erik yang nyatanya masih menginginkan Luna.