Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Menunggu


__ADS_3

Khafi mencoba menemui istrinya, Khafi berusaha untuk menenangkan sang istri.


Luna terlihat duduk di tepi ranjang sembari menatap kosong ke luar jendela, terlihat matanya yang sembab akibat menangis tak berhenti.


"Hey," sapa Khafi.


Luna menoleh, namun tak ada senyuman di wajahnya.


"Kenapa? Mau maksa Aku buat operasi?" Tanya Luna dengan lesu.


Khafi merangkul pundak istrinya, Ia mencoba untuk menyemangati sang istri.


"Nggak. Aku gak akan maksa apapun, maaf kalau Aku bikin Kamu kecewa. Tadinya, Aku cuma mikirin keselamatan Kamu. Nyatanya, Aku salah. Aku harusnya mikirin perasaan Kamu dulu, dan harusnya Aku yakin sama apa yang Kamu putuskan. Sekarang, Aku izinkan Kamu buat bikin keputusan. Apapun itu!" Seru Khafi.

__ADS_1


Luna menoleh, "Aku cuma ingin merasakan gelombang cinta dari anakku, Mas. Aku cuma ingin merasakan gimana rasanya berjuang melahirkan normal, bukan Aku berpendapat bahwa melahirkan secara caesar itu tidak sempurna. Salahkah Aku jika Aku berharap bisa lahiran normal? Aku paham, mau itu caesar mau itu normal sama-sama berjuang bertaruh nyawa. Tapi yang bikin Aku sedih, bayiku harus di paksa keluar, Mas. Sedangkan Aku ingin merasakan kontraksi, apa Aku salah?" Tanya Luna yang kembali meneteskan air mata.


Khafi menggelengkan kepalanya, Ia lalu membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"Nggak, gak ada yang salah sama kemauan Kamu itu. Kalau memang itu mau Kamu, ya udah. Kita tunggu bayi Kita ngasih gelombang cinta, Kita tunggu waktu dimana Dia mau bertemu dengan Kita. Tapi satu yang Aku minta, setiap satu minggu sekali Kamu harus cek kandungan. Karena ini juga menyangkut keselamatan Kalian berdua, Aku cuma gak mau ada sesuatu hal buruk terjadi pada Kalian." Khafi mengutarakan ketakutannya.


Luna mengangguk, Ia bersyukur karena sang suami mau mengerti dengan kemauannya.


Sementara di tempat lain, Erik tengah menjenguk Yuke di sel. Ia menceritakan semua yang tak Yuke tahu selama di sel, tanpa bermaksud buruk, Erik hanya ingin menyadarkan Yuke dan meminta untuk berhenti mengganggu rumah tangga Luna dan Khafi.


Yuke tak berkutik, rasanya Ia masih belum rela namun apa yang di perjuangkannya dengan mengandalkan segala cara, malah membuatnya mendekam di penjara.


"Ke, jangan sia-siain hidup Kamu untuk orang yang gak mau untuk Kamu ada di hidupnya. Jujur, Gua juga berat awalnya. Tapi melihat gimana Mereka bahagia, membuat Gua sadar kalau Gua gak bisa merusah kebahagiaan Mereka!" Lanjut Erik.

__ADS_1


Yuke menunduk, Ia dima seribu bahasa. Entah apa yang ada di pikiran Yuke, namun Erik berharap Yuke akan berubah.


Minggu demi minggu berlalu, kehamilan Luna memasuki bulan ke sembilan bahkan hampir melebihinya.


Gelombang cinta tak kunjung datang, namun Luna masih berubaha ikhtiar mencari cara agar kontraksi itu datang dengan sendirinya.


Setiap pagi, Luna selalu berjalan santai di halaman rumah. Sesekali Khafi juga menemani sang istri berjalan santai di taman komplek, keduanya berharap gelombang cinta akan segera datang.


Hari perkiraan lahir bahkan telah terlewati, Dokter pun menyarankan Luna segera melakukan operasi. Kali ini, Luna merenung. Ia telah pasrah, keinginannya untuk melahirkan normal nyaris pupus.


"Beri Aku sepuluh hari, jika setelah sepuluh hari itu kontraksi gak muncul, Aku mau melakukan operasi." Luna menuturkan.


"Baik. Tapi Kami tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada bayi atau bahkan nyawa Ibu sendiri," ujar Dokter yang menangani kehamilan Luna selama ini.

__ADS_1


Luna menghela nafasnya, Ia pun menerima apapun yang akan terjadi kemudian.


__ADS_2