
Luna dan Khafi telah tiba di bandara, Mereka langsung menuju hotel. Sesampainya di hotel, Luna terlihat mengedarkan pandangannya menatap bagaimana mewahnya hotel yang di pesan oleh ibu mertuanya.
"Mas. Hotelnya bagus banget," ucap Luna.
"Jangan norak, deh!" Seru Khafi, Ia pun melakukan check in dan segera mengambil kunci kamarnya.
Khafi kembali berjalan, Luna pun masih sumringah karena ini kali pertama Ia menginap di hotel.
Sesampainya di hotel, Khafi dan Luna segera masuk.
Ketika keduanya telah berada di dalam kamar, di luar Yuke dan Erik tengah mengikuti Mereka.
"Ini hotelnya?" Tanya Erik.
"Iya." Yuke pun memesan dua kamar sembari menanyakan keberadaan Khafi pada resepsionis.
Setelah mendapat informasi yang di inginkan, Yuke dan Erik segera menuju kamar Mereka.
"Ke. Gua gak habis pikir sih Luna bisa sekamar sama Khafi," ucap Erik.
"Kenapa juga gak habis pikir? Mereka kan udah nikah!" Seru Yuke.
__ADS_1
"Apa?" Erik terkejut, Ia menghentikan langkahnya seketika.
Yuke menghela nafasnya, Ia menatap Erik dengan miris.
"Ke-kenapa bisa Luna menikah sama Khafi? Khafi kan baru aja kehilangan Selina," tanya Erik.
"Itu Dia, ini waktunya Lo buat rebut Luna dari Khafi. Karena apa? Karena Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena paksaan!" Seru Yuke.
"Paksaan? Kenapa? Ke, Gua masih gak ngerti!" Seru Erik.
"Jadi Selina nulis wasiat, dimana Dia mau Khafi menikahi si baby sitter itu kalau suatu saat Dia meningga. Gua juga gak habis pikir kenapa Selina sepercaya itu sama si perempuan ****** itu!" Hardik Yuke.
Yuke menghembuskan nafasnya kasar, "ok, sorry. Intinya Gua gak rela Khafi nikah sama Dia! Secara Lo tahu gimana usaha Gua buat dapetin Khafi, kan? Dan sekarang posisi Kita sama. Gua mau Lo pura-pura gak tahu soal pernikahan Mereka!" Pinta Yuke.
"Tapi kenapa?" Tanya Erik.
"Supaya mempermudah Lo buat deketin Dia!" Seru Yuke.
Erik terdiam, Ia masih tak menyangka dengan apa yang di dengarnya. Erik merasa kesempatannya untuk mendapatkan Luna pupus sudah, sebab perempuan yang di cintainya selama ini telah menjadi istri dari sahabatnya sendiri.
***
__ADS_1
Yuke dan Erik telah berada di depan pintu kamar Khafi dan Luna, namun Erik masih belum menebak dengan apa yang akan di lakukan oleh Yuke.
"Ini kamar Mereka. Jadi Kita mudah buat awasi Mereka!" seru Yuke.
"Sebenarnya Lo mau bikin rencana apa, sih?" tanya Erik.
"Nanti ajalah, Gua capek sekarang. Kita ke kamar masing-masing aja dulu!" pinta Yuke.
Erik pun menuruti segala perkataan Yuke, Mereka pun masuk ke kamar masing-masing.
Sementara itu, Luna dan Khafi tengah beristirahat. Khafi merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sedangkan Luna tengah duduk santai di balkon kamarnya.
"Ya ampun, indah banget pemandangannya." Luna tengah menikmati suasana di sekitar hotel yang begitu sejuk.
Ia melirik sekilas ke dalam kamar, tampak Khafi yang tertidur pulas.
"Hemm, capek mungkin Dia." Luna menatap Khafi lama, Ia masih bingung untuk apa Mereka berbulan madu, toh tidak akan terjadi apapun di antara keduanya.
"Buang-buang uang aja, sih. Ngapain juga bulan madu, toh Kita gak akan..." Luma membuyarkan lamunannya, Ia bertanya-tanya kapan dirinya bisa merasakan layaknya seorang istri.
"Sampai kapan ya kayak gini?" Luna menatap ke sembarang arah.
__ADS_1