
Khafi membopong Luna hingga kamar, Ia memnaringkan istrinya di atas tempat tidur. Di susul oleh orang tua, juga mertuanya yang ingin mengetahui kondisi Luna.
"Fi. Luna kenapa?" Tanya Bu Nuri yang langsung duduk di samping Luna.
"Gak tahu, tiba-tiba Luna muntah-muntah. Terus pingsan," jawab Khafi dengan suara bergetar.
Semua terdiam, namun tiba-tiba Ica berbicara hal yang membuat semua terkejut.
"Ibu gak akan sakit kayak Mami, kan?" Tanya Ica.
Khafi menoleh, Ia menatap putrinya dengan tatapan yang tak dapat di tebak.
"Nggak, Sayang. Ibu pasti baik-baik aja," ujar Bu Windi, berusaha untuk menenangkan cucunya.
"Dokternya mana sih? Lama banget!" Gerutu Khafi.
"Apa jangan-jangan Luna hamil?" Tebak Pak Seno.
Kembali semua terdiam, namun satu sisi Mereka juga bahagia jiga memang Luna tengah mengandung.
"Udah, pokoknya Kita tunggu dokter aja. Biar jelas semuanya!" Seru Khafi, Ia tak ingin terus-terusan menduga.
__ADS_1
Khafi menatap Luna, Ia terlihat begitu cemas.
"Kalau Luna benar hamil? Artinya, Aku akan punya anak dari Luna?" Khafi bergumam.
Selang sepuluh menit, Dokter datang. Ia meminta semua untuk keluar ruangan terlebih dulu, dengan alasan agar sirkulasi udara di dalam ruangan baik.
"Bisa keluar sebentar?" Tanya Dokter itu.
"Saya mau tetap disini!" Tolak Khafi.
"Ya sudah, silahkan. Selebihnya tolong tunggu di luar!" Pinta sang dokter.
Semuanya keluar, kecuali Khafi.
"Gimana, Dok?" Tanya Khafi.
"Sebentar, ya!" Pinta Dokter yang belum selesai melakukan pemeriksaan.
Khafi kembali menunggu, sembari terus memperhatikan Luna yang belum sadarkan diri.
"Gimana, Dok?" Tanya Khafi lagi.
__ADS_1
Dokter menyimpan peralatannya, lalu menatap Khafi dengan serius.
"Sebelumnya apa sering Istri Bapak sakit kayak gini?" Tanya Dokter itu.
Khafi menggelengkan kepalanya, baru kali ini Ia melihat Luna seperti itu.
"Gak pernah sih, Dok. Kenapa? Apa ada hal serius?" Tanya Khafi dengan gelisah.
"Begini. Saya belum bisa memastikan, tapi ini kemungkinan bukan tanda kehamilan. Karena memang belum teraba, mual muntah juga harus di amati lagi. Lalu, karena pasien belum sadar jadi Saya gak bisa menanyakan apa Istri Bapak sering mengeluh sakit ketika datang bulan, atau keluhan lainnya. Satu minggu setelah ini mungkin Saya akan kesini lagi, untuk memastikan. Pasien juga tampak memiliki asam lambung yang sewaktu-waktu bisa kambuh," ujar sang Dokter.
Khafi serasa sulit untuk bernafas, kabar ini memang tak seperti saat Selina dinyatakan menderita kanker serviks. Tetapi ada perasaan takut dan khawatir pada diri Khafi, Ia takut jika sang istri menderita sakit parah seperti Selina dulu.
"Tapi Istri Saya akan baik-baik aja kan, Dok?" Tanya Khafi.
"Semoga. Istirahat saja yang cukup, jaga pola makan. Obatnya di makan teratur, minggu depan Saya cek lagi." Snag Dokter menuturkan.
Khafi mengangguk, Ia pun mengantar Dokter keluar dari kamar.
"Terima kasih, Dok. Supir Saya akan mengantarkan Dokter pulang!" Seru Khafi.
"Baik, terima kasih juga. Saya pamit dulu, permisi semua." Dokterpun berpamitan, dan semua langsung menanyakan kondisi Luna pada Khafi.
__ADS_1
"Gimana, Fi?" Tanya Bu Windi pada putranya.
Khafi menghela nafasnya, Ia tak bisa memberi jawaban sebab Ia pun tak tahu apa yang di derita oleh Luna dengan pasti.