Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Tegang


__ADS_3

Hari ini, Luna tengah mengemas barang-barang yang akan di bawa untuk berbulan madu. Sejujurnya Luna tak yakin dengan keputusan Khafi ini, sebab Ia merasa Khafi terpaksa menyetujui kemauan ibunya.


"Mas. Kamu serius mau pergi?" Tanya Luna.


"Kenapa emangnya? Kamu gak mau?" Tanya Khafi.


"Bukan gak mau, cuma Kita mau ngapain disana?" Tanya Luna.


"Kalau bulan madu, menurut Kamu biasanya ngapain?" Pertanyaan Khafi membuat Luna tak berkutik seketika.


Luna mamalingkan wajahnya, Ia segera membereskan pekerjaannya.


Saat tengah berkemas, terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Iya." Khafi segera membuka pintu.


"Mamah." Khafi mempersilahkan ibunya untuk masuk.


"Ada apa, Ma?" Tanya Khafi.


"Nggak ini Mamah cuma mau kasih vitamin sama Kamu!" Seru Bu Windi.


Khafi mengerutkan keningnya, "vitamin apa, Ma?" Tanya Khafi.


"Emm pokoknya vitamin, Kamu minum aja!" Pinta Bu Windi.


Khafi menatap memperhatikan vitamin di dalam botol yang di berikan oleh ibunya, dan tampak Bu Windi berjalan menghampiri menantunya.


"Udah beres, Lun?" Tanya Bu Windi.


"Udah, Ma." Luna tersenyum sembari menutup kopernya.


"Baguslah. Fi, jaga baik-baik Luna selama disana, ya! Dan satu lagi... Cepet-cepet kasih cucu buat Mama!" Seru Bu Windi.


Khafi dan Luna pun tersenyum canggung, keduanya malu ketika di goda oleh Bu Windi.


"Gimana mau kasih cucu, Ma. Di sentuh aja Aku belum pernah," ucap Luna dalam batinnya.


"Ya sudah kalau gitu Mamah keluar dulu. Rena udah aman kok, Dia lagi di bawa main sama Bu Nuri ke Mall barenga Ica, Nuka, sama Brian juga.


"Emm, Ma. Emangnya gak apa-apa ya Aku tinggal Rena? Dia gak akan nyariin nanti?" Luna masih merasa tak tega pergi tanpa membawa Rena.

__ADS_1


"Udah Kamu gak usah mikirin Rena dulu, buat sekarang Kamu fokus aja liburan sama Khafi!" Pinta Bu Windi.


Luna menghela nafasnya, Ia pun menganggukkan kepala menuruti perkataan Ibu mertuanya.


"Udah siap?" Tanya Khafi.


"Udah." Luna mengambil tasnya.


"Ya udah Kita berangkat sekarang!" Seru Khafi, Ia pun menggeret kopernya.


***


Khafi dan Luna keluar dari rumah, dan segala masuk ke dalam mobil.


Setelah berpamitan, Khafi segera melajukan mobilnya menuju bandara.


Luna masih gugup, Ia tak tahu harus melakukan apa saat sampai di Bali nanti.


Tanpa Mereka ketahui, sedari tadi Yuke dan Erik mengikuti keduanya.


Di sisi lain, Erik masih bertanya-tanya mengapa Khafi dan Luna bisa sampai pergi berdua. Erik mempertanyakan hubungan keduanya, pasalnya Erik tak ingin jika terjadi sesuatu di antara Khafi dan Luna.


"Kalau dari jalur sih pasti ke Bandara," jawab Yuke.


"Hah? Bandara? Mereka mau kemana?" Tanya Erik yang terkejut mendengar pernyataan Yuke.


"Ke Bali!" Seru Yuke.


"Apa? Bali? Ke, Lo yang serius. Ngapain Mereka ke Bali?" Tanya Erik.


"Lo kenapa kaget? Kemaren kan Gua udah bilang kalau Gua mau ajak Lo keluar kota!" Seru Yuke.


"Ya Gua gak tahu kalau Mereka juga mau ke luar kota! Gua kira..."


"Udah, berisik. Lo duduk manis aja!" Pinta Yuke.


Erik pun seketika terdiam, walau terlalu banyak pertanyaan di dalam benaknya.


Sesampainya di Bandara, Khafi dan Luna segera melakukan check in, barang bawaan Mereka pun sudah melalui pemeriksaan dan Mereka segera menuju pintu keberangkatan.


Sedangkan di belakang, Yuke dan Erik pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Keduanya sangat berhati-hati agar Luna dan Khafi tak melihat Mereka, Erik sebenarnya begitu gemas ingin segera menanyakan perihal apa yang terjadi sebenarnya antara Luna dan sahabatnya itu.


"Ke. Lo udah nyiapin semuanya, artinya Lo udah tahu kalau Mereka mau pergi sebelumnya?" Tanya Erik, ketika Mereka telah duduk di kursi pesawat.


"Emm, iya." Yuke menjawab.


Erik semakin tak mengerti, Ia benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Sedangkan Luna dan Khafi, keduanya pun telah duduk berdampingan.


Luna merasa gelisah, pasalnya ini kali pertamanya naik pesawat.


Luna tampak pucat, hal itu di sadari oleh Khafi.


"Kenapa? Kamu kayak gak tenang gitu?" Tanya Khafi sembari memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sangat tegang.


"Emm, ini kali pertama Aku naik... Pesawat," ucap Luna dengan jujur.


Khafi tak menimpal, "merem aja kalau emang takut!" Serunya.


"Merem?" Dengan polosnya, Luna mengikuti perkataan suaminya.


Khafi sempat tertawa kecil, namun Ia enggan memperlihatkan reaksinya di depan Luna.


"Aduh!" Seru Yuke ketika tas seseorang tak sengaja menimpa kepalanya.


Luna sontak membuka matanya, dan menatap ke arah Khafi.


"Mas, Kamu denger gak?" Tanya Luna.


"Denger apa?" Tanya Khafi.


"Barusan yang bilang 'aduh'? Suaranya mirip Mbak Yuke," ujar Luna.


Khafi mengerutkan keningnya, "Kamu ngawur ah! Mana mungkin itu suara Yuke!" Tampik Khafi.


"Tapi barusan..."


"Udah, diem. Bentar lagi berangkat nih!" Seru Khafi.


Luna pun langsung menutup mulutnya, Ia tak kembali berbicara. Namun Luna masih yakin bahwa suara yang di dengarnya, adalah suara Yuke.

__ADS_1


__ADS_2