Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Kedatangan Erik


__ADS_3

Erik masih teringat dengan perkataan Khafi, Ia sangat ingin untuk segera bertemu dengan Luna. Sebelum itu, Erik harus memastikan terlebih dulu bahwa Khafi tak mengetahui niatnya itu.


Erik merasa, Khafi menghalanginya untuk bertemu dengan Luna. Namun Erik tak paham, apa yang membuat Khafi seperti itu.


Erik bermaksud untuk menemui asisten Khafi, dan menanyakan jadwal pekerjaan Khafi hari ini.


"Rani. Saya mau tanya, Pak Khafi hari ini jadwalnya padat, gak?" Tanya Erik.


"Ada meeting siang nanti, kenapa Pak?" Tanya Rani.


"Oh, jadi Pak Khafi sampai siang gak bisa di ganggu, ya?" Tanya Erik lagi untuk memastikan.


"Betul, Pak." Rani memastikan.


"Ya sudah kalau gitu. Kamu balik kerja!" Pinta Erik.


Erik pun bersiap, Ia berencana untuk menemui Luna tanpa sepengetahuan Khafi.


***


Sedangkan itu, sesuatu terjadi di sekolah Nuka.


Nuka di tuduh mencuri, ketika teman-temannya mengetahui bahwa Nuka memiliki ponsel dan sepatu baru yang harganya begitu mahal. Teman-teman Nuka yang mengetahui keadaan ekonomi Nuka sebelumnya, merasa tidak percaya bahwa Nuka dapat memiliki barang-barang mahal.


"Alah, sekolah juga keseringan jalan kaki. Mana mungkin bisa beli barang-barang bagus, duit dari mana Kamu?" Tanya salah satu teman Nuka.


"Tapi ini pemberian Kakak ipar Aku! Kalian gak tahu kan, Aku punya Kakak ipar yang kaya raya?" Nuka mencoba berbicara apa adanya.


"Tunggu! Kamu punya Kakak ipar? Kapan nikahnya Kakak Kamu? Jangan-jangan Kakaknya Nuka jadi simpanannya Om-om lagi," ledek teman-teman Nuka.

__ADS_1


Nuka tampak tak terima, Ia menggebrak meja bahkan membentak teman-teman yang menghina Kakaknya.


"Jaga bicara Kamu! Kakak Aku tidak seperti itu!" Bela Nuka.


"Dih, marah. Emang bener, kan? Mana ada orang kaya yang mau sama orang miskin kaya Kakak Kamu?" Teman-teman Nuka terus meledek Nuka, sampai membuat Nuka tak dapat menahan emosinya lagi.


Dan, Buk!


Nuka mendorong tubuh salah satu temannya hingga linbung, bahkan terjatuh. Teman Nuka tak terima, Mereka merundung Nuka secara beramai-ramai bahkan membalas dengan memukul Nuka.


Perkelahian pun tak dapat terelakan, hingga semua orang berusaha untuk memisahkan semua yang terlibat perkelahian.


Satu orang siswa terlihat berlari menuju ruang BK, dan melaporkan kejadian tersebut hingga membuat Nuka harus berhadapan dengan gurunya.


***


Sementara itu, Erik baru saja tiba di rumah Khafi. Ia segera memencet bel rumah, dan berharap bisa bertemu dengan Luna.


"Loh Mas Erik. Maaf, mau cari siapa? Pak Khafinya kan lagi kerja," Tanya Bi Yuni.


"Iya, Bi tahu. Tapi Saya kesini bukan cari Khafi, tapi mau ketemu sama Luna. Ada?" Tanya Erik.


Bi Yuni mengerutkan keningnya, dari mana Erik mengenal Luna, karena setahu Bi Yuni Luna tak memiliki banyak kenalan bahkan tak pernah menceritakan bahwa Ia mengenal sahabat dari majikannya itu.


"Mas Erik kenal sama Bu Luna?" Tanya Bi Yuni.


Erik tampak terhendak, Ia baru saja mendengar Bi Yuni memanggil Luna dengan sebutan 'Bu'.


"Maaf, Bi. Tadi Bibi manggil Luna apa? Bu?" Tanya Erik.

__ADS_1


Bi Yuni tersenyum, saat hendak menjawab pertanyaan Erik, tiba-tiba saja Luna datang menghampiri dan memotong pembicaraan Bi Yuni.


"Iya, kan sekarang..."


"Hay, Kak. Ngapain kesini?" Tanya Luna yang langsung menatap Bi Yuni dengan panik.


"Hay, Lun. Iya nih maaf kesini gak bilang dulu," ujar Erik.


"Oh, iya. Emm, sebentar ya Kak. Aku ada urusan dulu sama Bi Yuni," ucap Luna sembari meminta Bi Yuni untuk mengikutinya.


Bi Yuni pun mengikuti Luna, dan penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh majikan barunya itu.


"Ada apa, Bu?" Tanya Bi Yuni.


"Ih, Bibi. Jangan panggil Luna, Ibu! Panggil Luna aja!" Pinta Luna.


"Loh, kenapa? Sekarang kan Kamu udah nikah sama Pak Khafi, ya Bibi harus manggil Kamu dengan panggilan 'Ibu' biar sopan." Bi Yunu menuturkan.


"Nggak, pokoknya panggil Luna aja! Dan satu lagi, Bibi jangan bilang sama Kak Erik kalau Aku udah nikah sama Pak Khafi. Terus Bibi harus bersikap biasa aja ke Aku, layaknya waktu Aku masih jadi baby sitternya Rena. Ngerti kan, Bi?" Tanya Luna.


Bi Yuni masih tak paham, mengapa Luna meminta hal aneh seperti itu.


"Kenapa sih, ada apa? Kamu sama Pak Khafi baik-baik aja, kan?" Tanya Bi Yuni.


Luna terdiam, Ia menghela nafasnya.


Bi Yuni menatap Luna dengan dalam, Ia yakin bahwa ada sesuatu tengah di tutupi oleh Luna.


"Cerita sama Bibi, ada apa?" Pinta Bi Yuni.

__ADS_1


"Nanti Aku ceritain, pokoknya Bibi ikuti aja sesuai apa yang Aku bilang tadi. Ok?" Tanya Luna.


"Iya deh." Bi Yuni akhirnya dapat di ajak bekerja sama, walau dalam hatinya Ia sangat yakin bahwa terjadi sesuatu dalam rumah tangga gadis yang sudah Ia anggap seperti anaknya sendiri.


__ADS_2