Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Lahir


__ADS_3

Luna sampai di rumah sakit, Ia di larikan segera ke ruang bersalin. Beberapa dokter kandungan masuk ke dalam ruangan, dan mengecek bukaan.


"Baru bukaan 4 menuju 5, coba Ibu tarik nafas, tenang. Jalan santai, nantu Saya cek lagi bukaannya setelah sekitar 3 jam lagi!" Perintah dari Dokter.


"Hah? 3 jam, lama banget, Dok. Istri Saya udah kesakitan," ujar Khafi.


"Fi. Memang prosedur nya seperti itu!" Seru Bu Windi.


Khafi menghela nafasnya, Ia lalu membantu Luna untuk tarik nafas dan berusaha agar Luna tenang.


"Kita jalan santai sini!" Seru Khafi.


Setelah beberapa saat berjalan di ruangan, Khafi juga membantu Luna untuk duduk di atas ball birth. Ia terus menemani Luna setiap detik, Ia seakan tak mau melewatkan apapun di detik-detik kelahiran bayinya.


Selang dua jam, kontraksi semakin hebat. Luna di bantu tim medis untuk berbaring di atas tanjang, kembali di lakukan pengecekan bukaan.


"Sudah lengkap, Dok!" Seru salah satu tim.


"Baik, siapkan semuanya!" Pinta Dokter.

__ADS_1


Khafi tetap berada di samping Luna, Dokter juga mulai membantu Luna untuk tarik nafas.


"Baik, Ibunya lihat Saya! Tarik nafas, buang! Lakukan berulang, Bu! Tunggu aba-aba dari Saya, ya!" Pinta Dokter pada Luna.


Luna menuruti semua perintah dari Dokter, sementara itu Khafi tetap menemani Luna walau sebenarnya Ia tak kuat mendengar ringisan Luna yang tak berhenti.


"Ok, tarik nafas buang! Tarik nafas, buang. Siap-siap, Bu. Tarik nafasnya, ayo ngeden!" Pinta sang Dokter.


"Heuuuu..." Nafas Luna tertahan, Ia mengejan sekuat tenaga, tangannya berpegangan pada kedua lututnya. Sementara Khafi, Ia memilih memejamkan mata sembari menenggelamkan wajahnya di atas kepala sang istri.


"Ayo, Sayang. Kamu kuat!" Terdengar Khafi memberi semangat pada Luna.


Luna kembali mengejan sekuat tenaga, Ia mengejan dengan lama sehingga bayi dapat keluar dengan mudah.


"Bagus, Bu! Ayo sekali lagi!" Pinta Dokter.


Kembali Lune mengejan, terdengar suara gunting yang melukai daerah kewanitaannya yang membuat bayi keluar setelah itu.


Khafi mengangkat kepalanya, sementara Luna Ia merasakan sensai yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Perutnya seakan kosong tak berisi apapun, namun Luna tak bisa langsung lega, Ia masih harus mengeluarkan plasenta. Saat Luna tengah kembali mengejan, Khafi beralih memburu bayinya yang tengah mendapat penanganan.

__ADS_1


"Dok, bayi Saya kenapa? Kenapa Dia gak nangis?" Tanya Khafi dengan cemas.


Dokter belum menanggapi, Ia fokus untuk menyelamatkan bayi yang tengah di tanganinya.


Khafi memandang getir, berbagai cara dokter lakukan. Hampir sekitar sepuluh menit kemudian, tangisan itu mulai menggema.


Sonta Khafi langsung menangis, Ia bersujud bersyukur karena bayinya bisa di selamatkan. Sementara itu, tengah di lakukan proses penjahitan pada Luna. Khafi tak memberitahu apa yang terjadi pada bayi Mereka pada Luna, Ia tak mau jika Luna khawatir.


Terlebih, terdapat bercak merah yang menutupi setengah wajah bayi Mereka.


"Dok, apa warna merah di wajahnya berbahaya?" Tanya Khafi.


"Semoga tidak, semoga hanya tanda lahir biasa. Untuk enam bulan pertama mungkin masih berukuran besar, tapi lambat laun akan mengecil atau bahkan hilang dengan sendirinya." Dokter menjawab.


Khafi menghela nafas, Ia berharap tak ada hal buruk menimpa bayi juga istrinya.


"Lalu, kista yang di miliki istri Saya, gimana?" Tanya Khafi.


"Oh, soal itu sepertinya kistanya hancur saat proses persalinan. Kita akan berikan pengobatan khusus terkait hal itu," ujar Dokter yang membuat Khafi kembali lega.

__ADS_1


Ia meninggalkan bayinya, dan kembali menemui sang istri yang masih terbaring lemas.


__ADS_2