Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Rasa Penasaran Erik


__ADS_3

"Kalau boleh tahu, kapan rencana bulan madunya?" Tanya Yuke.


Semua mata tertuju padanya, mempertanyakan apa maksud pertanyaan Yuke.


"Kenapa Kamu mau tahu?" Tanya Bu Nuri.


"Ya nggak apa-apa, rencananya Aku juga mau liburan. Siapa tahu barengan gitu," dalih Yuke.


"Rahasia. Ya kalau mau liburan, liburan aja sendiri. Gak usah pakai acara mau barengan segala, mana ada bulan madu rame-rame. Yang ada nanti Kamu malah ganggu lagi!" Seru Bu Windi.


Yuke mendelik, Ia tetap mencoba untuk menahan emosinya.


"Ma. Sarapannya udah? Biar Luna beresin," tanya Luna.


"Iya, udah. Mamah jadi tiba-tiba hilang selera, kenyang jadinya. Biar Bi Yuni aja yang beresin," ujar Bu Windi.


"Mamah juga udah, Lun. Sini Mamah bantuin!" Seru Bu Nuri.


"Gak usah, Ma. Biar Luna aja yang beresin, Mamah istirahat aja, atau mungkin mau main sama Rena?" Tanya Luna.


"Oh, iya deh. Mamah main sama Rena aja, sini Renanya!" Bu Nuri bergantian mengajak cucunya bermain, sedangkan Luna segera membereskan piring kotor bekas sarapan. Bu Windi pun tampak ikut menyusul besannya, dan Yuke masih duduk di tempatnya dengan wajah kesal.


"Emm, Mbak Yuke mau sarapan?" Tanya Luna.


Yuke menatap Luna dengan tajam, lalu Ia berdiri dan berbicara sinis pada Luna.


"Awas ya, Lo. Gua pastiin Lo gak akan tenang, dan gak akan ada tuh yang namanya bulan madu!" Ancam Yuke sebelum Ia pergi meninggalkan rumah.


Luna hanya terdiam, Ia mencoba untuk tidak menanggapi perkataan Yuke dengan serius.

__ADS_1


Luna beralih menuju dapur, bermaksud untuk mencuci piring.


***


Sementara itu, Khafi dan Erik baru saja tiba di kantor. Erik masih menuntut penjelasan, mengapa semalam Khafi bisa mengangkat panggilan teleponnya pada Luna.


"Fi. Jawab dulu! Kok malem Lo bisa pegang hp Luna?" Tanya Erik.


"Apa sih, dari parkiran sampai kesini masih aja nanyain itu?" Khafi mencoba untuk mengalihkan pembahasan namun Erik lagi-lagi menuntut penjelasan darinya.


"Ya Gua masih penasaran aja, kok bisa hp baby sitter sampai di pegang sama majikannya? Kan aneh aja," ujar Erik.


Khafi menghentikan langkah kakinya, Ia memasang wajah datar.


"Anehnya dari mana? Hp si Luna ada di sofa, kebetulan Gua lagi main di kamarnya Rena. Terus Gua denger hp Dia bunyi terus, ya Gua penasaran siapa tahu penting, kan? Jadi Gua angkat aja," dalih Khafi.


"Terus Lo bilang Luna lagi mandi, kan? Terus Lo tahu baby sitter anak Lo lagi mandi, tapi Lo masih tetap stay di kamar?" Tanya Erik.


Khafi menahan nafasnya, Ia kembali harus mencari alasan yang tepat dan meyakinkan.


"Emm, siapa bilang Gua tetap stay di kamar. Abis angkat telepon dari Lo Gua langsung keluar kok bawa Rena," jawab Khafi.


"Artinya Lo gak bilang kalau Gua minta Luna buat ketemuan?" Tebak Erik.


Khafi tak berkutik, Ia belum mendapat jawaban untuk pertanyaan Erik yang satu itu.


"Kalau soal itu, Gua minta maaf. Gua beneran lupa, serius!" Seru Khafi.


"Ah, Lo gimana sih? Katanya mau Lo bilangin, Gua udah nunggu Luna di taman sampai hampir dua jam!" Seru Erik.

__ADS_1


"Iya, sorry. Nanti lagi kan bisa, emang mau ngobrolin apa sih?" Tanya Khafi.


"Gua mau nembak Dia!" Seru Erik, yang membuat Khafi terkejut.


Khafi diam seribu bahasa, tanpa sadar tangannya mengepal menahan amarah.


"Lo gak bisa nembak Dia!" Seru Khafi.


Erik mengerutkan keningnya, "kenapa gak bisa? Bentar. Lo gak suka kan sama Luna?" Tanya Erik.


Khafi memalingkan wajahnya, Ia mencoba kembali bersikap seperti biasa.


"Nggak, bukan gitu. Maksud Gua, Luna itu udah... Punya calon suami." Khafi berucap asal.


Erik tampak terkejut, Ia seakan tak percaya mendengar penuturan Khafi.


"Calon suami? Lo tahu dari mana kalau Luna udah punya calon? Kok Luna gak cerita ke Gua?"


"Ya mungkin Dia gak mau bahas urusan pribadinya sama orang lain," ujar Khafi.


"Orang lain? Gua ini teman dekatnya Dia dari SMA, bukan orang lain." Erik memperjelas kalimatnya.


"Ya tapikan Lo udah lama gak berkabar sama Dia," tukas Khafi.


Erik terdiam, perkataan Khafi mrmang ada benarnya. Namun, Erik masih tak percaya jika Luna telah memiliki calon suami.


"Udah, Gua banyak kerjaan!" Khafi pergi menghindari Erik yang mungkin akan banyak bertanya yang lain-lain lagi.


Sementara itu, Erik masih mematung di tempatnya. Ia bermaksud untuk mencari tahu kebenaran tentang Luna, Ia tak bisa membiarkan rasa penasarannya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2