
Hari demi hari, Luna terus sabar menanti. Khafi dengan telaten menemani sang istri untuk berjalan santai, Khafi juga terus memberikan semangat pada Luna.
Namun di hari ke sembilan, Luna hampir menyerah. Gelombang cinta yang di nanti tak kunjung datang, Luna bahkan sudah ikhlas jika harus melakukan operasi caesar untuk segera mengeluarkan bayinya yang di sadarinya sudah tak aktif seperti sebelumnya.
"Mas. Kalau malam ini Aku gak dapetin gelombang cinta itu, Aku siap buat operasi." Luna berucap dengan lirih.
Khafi terdiam, Ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Luna dan bayinya.
"Yaudah, apapun jalannya itu pasti yang terbaik. Normal ataupun caesar, Kamu tetap Ibu yang kuat!" Seru Khafi.
Luna mengangguk, Ia pun memasrahkan dirinya untuk melakukan tindakan operasi.
***
Ketika malam tiba, saat itu Luna dan Khafi tengah bersantai di kamar sembari bermain bersama Rena. Namun karena perut mulas, Luna meminta di antar ke kamar mandi pada Khafi.
"Bisa? Aku tinggal, ya!" Seru Khafi setelah Luna berada di kamar mandi.
"Bisa. Ya udah Kamu ke tempat tidur lagi, takut Rena jatuh!" Pinta Luna. Khafi mengangguk, Ia pun menutup pintu kamar mandi dan kembali menghampiri Rena.
Setelah sekitar sepuluh menitan, Luna keluar dari kamar mandi. Khafi hendak berdiri untuk membantu sang istri berjalan, namun Luna meminta Khafi untuk tetap di tempatnya.
__ADS_1
Luna berdiri di hadapan Khafi, Ia merasakan mulasnya tak hilang walau telah buang air besar.
"Kenapa?" Tanya Khafi.
Luna terlingat meringis, sesekali Ia juga mengusap perutnya yang terasa kencang.
"Gak tahu nih, Mas. Udah buang air, tapi mulasnya gak ilang!" Sahut Luna.
Khafi terdiam, Ia merasakan sesuatu yang tak asing dari pernyataan sang istri.
"Sekarang masih mulas?" Tanya Khafi.
"Iya." Luna kembali meringis, kini Ia berjalan mundur dan menyandarkan punggungnya di lemari.
Khafi berdiri, lalu Ia berjalan mendekati istrinya.
"Mulasnya sampai ke pinggang belakang, gak?" Tanya Khafi lagi.
Luna hanya mengangguk, Ia terus mengusap perutnya yang tak berhenti terasa kencang.
Khafi terdiam, Ia mengingat kembali apa yang Selina ucapkan ketika hendak melahirkan Rena.
__ADS_1
"Dulu, Selina juga kayak gini pas mau lahiran Rena. Kayaknya ini kontraksi Sayang," ujar Khafi.
"Hah?" Luna terkejut, Ia tak tahu harus berreaksi seperti apa. Nyatanya rasa mulas yang Ia rasakan begitu hebat, bahkan Ia tak mampu untuk banyak bicara.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Saran Khafi.
"Hah, ke rumah sakit? Tapi Kamu yakin ini kontraksi?" Tanya Luna yang kembalu merasakan mulas di perutnya.
"Yakin. Aku udah tiga kali nemenin Selina lahiran, Aku gak mungkin salah. Kamu tunggu, atau sini! Kamu duduk! Aku mau manggil Mamah sama yang lain dulu," ujar Khafi. Ia pun membantu sang istri untuk duduk, lalu Khafi memangku Luna dan berlari kecil keluar kamar.
Luna yang kini terduduk, sesekali melirik ke arah jarum jam dan mencoba untuk menghitung berapa kali rasa mulas itu datang.
Sementara itu, Khafi kembali bersama orang tua juga mertuanya.
"Luna, Kamu kontraksi?" Tanya Bu Nuri.
Luna hanya mengangguk, keringat mulai bercucuran di keningnya.
Bu Nuri mengusap keringat yang hampir mengenai pelupuk mata menantunya itu, dan Bu Windi segera menyiapkan perlengkapan untuk di bawa ke rumah sakit karena Mereka yakin bahwa Luna akan segera melahirkan.
"Fi, angkat Luna! Kita ke rumah sakit sekarang! Bi Yuni jaga rumah sama anak-anak, kalau ada apa-apa langsung kabari!" Seru Pak Seno.
__ADS_1
Bi Yuni mengerti, Khafi segera memangku Luna dan membawanya ke mobil. Mereka pun segera menuju rumah sakit, selama di perjalanan Khafi terus menyemangati sang istri yang terus menerus meringis kesakitan.