
Khafi mencoba menghubungi Luna, namun Luna tak menjawab panggilan teleponnya. Khafi kesal, tak biasanya Luna mengacuhkan panggilan teleponnya. Khafi terdiam, Ia teringat pada Erik.
"Tunggu. Kata Rani, Erik keluar karena urusan pribadi. Apa jangan-jangan Erik nemuin Luna?"
Khafi kembali meraih ponselnya, dan menghubungi Erik.
Sama saja, Erik pun tak menjawab panggilan telepon dari Khafi.
"Ini Mereka kenapa sih? Dua-duanya gak ada yang bisa di hubungi!" Gerutu Khafi.
"Kata Mamah, Nuka ada masalah di sekolah. Ada apa, ya? Apa Aku susul ke sekolah aja?" Khafi pun tambak bergegas masuk ke ruangannya, dan tak lama Ia kembali keluar dan memberitahu bahwa Ia harus pulang lebih awal pada sekretarisnya, Rani.
***
Sementara itu, Luna dan Erik baru saja tiba di sekolah. Luna segera menemui guru BK, dan mencari Nuka untuk meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak, maaf. Ruangan BK sebelah mana, ya?" Tanya Luna pada satpam sekolah.
"Oh, Ibu silahkan lurus. Nanti belok ke kiri, ruangan BK ada di ujung lorong." Satpan menjelaskan.
"Oh, iya. Makasih," ucap Luna, Ia segera mengikuti arahan satpam itu dan tak lama Luna menemukan ruangan dimana ada beberapa siswa yang tengah berkumpul.
"Maaf, permisi. Apa ini ruang BK?" Tanya Luna.
"Iya, Kak. Kakak ini siapa?" Tanya seorang Siswa.
__ADS_1
"Saya Kakaknya Nuka," jawab Luna.
"Oh, baik. Saya kasih tahu dulu ke Ibu guru, Kak." Siswa itu masuk dan memberitahukan bahwa Luna sudah datang.
"Silahkan masuk, Kak." Siswa itu keluar dan mempersilahkan Luna untuk masuk.
Luna meminta Erik untuk menunggu di luar ruangan, dan Erik pun tak keberatan akan hal itu.
"Permisi, Bu. Saya Kakak dari Nuka," ucap Luna di ambang pintu.
"Oh, mari silahkan masuk!" Pinta guru BK.
Luna mengangguk, dan duduk di samping Nuka dengan satu siswa yang tak lain adalah lawan duelnya.
"Sebelumnya Saya ucapkan terima kasih untuk waktunya, dan Saya minta maaf jika mengganggu." Guru BK Nuka membuka pembicaraan.
Nuka terlihat menundukkan wajahnya, Ia merasa tak salah karena telah membela sang Kakak.
"Begini, Bu. Nuka ini katanya tak terima dengan ucapan temannya ini yang berkata hal tidak benar terhadap kakaknya, yaitu Ibu. Dari ceritanya, dari awal Nuka sudah menjelaskan hal yang sebenarnya, namun teman-temannya tak percaya dan malah melontatkan perkataan yang tidak enak yang memicu emosi Nuka dan terjadilah perkelahian." Guru BK itu menjelaskan.
Luna menatap ke arah adiknya, terlihat Nuka masih menundukkan wajahnya.
"Kenapa, Nuka?" Tanya Luna baik-baik.
"Dia duluan, Kak. Dia hina Kakak, katanya Kakak jadi simpanan Om-Om. Padahal Kakak kan udah nikah sama..."
__ADS_1
"Sstt!" Luna meminta Nuka menghentikan kalimatnya, Ia takut jika Erik mendengar perkataan Nuka.
"Kenapa, Kak? Aku kan lagi jelasin apa yang sebenarnya terjadi." Nuka heran mengapa sang kakak menghentikannya berbicara.
"Nuka. Kakak tahu, Kamu marah. Tapi ya sudah, gak apa-apa. Mereka gak perlu tahu yang sebenarnya, toh Kita juga gak rugi. Biarkan Mereka dengan anggapan Mereka sendiri, yang penting Kakak tidak seperti itu!" Seru Luna.
"Tapi, Kak. Mereka menuduh Nuka mencuri karena punya sepatu dan hp baru dengan harga mahal," lanjut Nuka.
Luna menghela nafasnya, Ia lalu menatap ke salah satu teman Nuka yang terlibat perkelahian.
"Dek. Nuka tidak mencuri, Dia mendapatkan barang-barang itu dari pemberian Kakak iparnya. Kamu jangan menuduh hal yang tidak benar, ya! Bertemanlah dengan baik." Luna menasehati teman Nuka.
"Iya, Kak. Maaf," ucap teman Nuka.
"Bu. Saya rasa masalah ini penyebabnya adalah kesalahpahaman, dan mungkin tidak perlu di perpanjang." Luna menuturkan.
"Baik, Bu. Saya rasa juga masalah ini selesai, Mereka bisa saling meminta maaf dan kembali berteman." Guru BK menambahkan.
Terlihat Nuka dan teman-temannya saling meminta maaf, dan di perintahkan untuk kembali ke kelas karena memang jam belajar belum selesai.
Ketika menunggu Luna, tiba-tiba saja Khafi datang dan membuat Erik terkejut.
"Khafi," ucap Erik.
Tak lama Nuka keluar dari ruangan, di susul oleh Luna. Keduanya menatap ke arah Khafi, dan terlihat jelas bagaimana raut wajah panik Luna.
__ADS_1
"Astaga, Aku lupa ngabarin Mas Khafi." Luna bergumam.