
Khafi segera memakai baju, dan setelah selesai Ia kembali memanggil Luna.
Dengan gugup, Khafi membuka pintu.
Dan... Bruk!
Luna yang sedari tadi menyandar pada pintu kamar, sontak terjatuh tepat di dada suaminya.
Kembali keduanya saling menatap, dan Khafi mendorong Luna dengan cepat.
"Ih, kasar banget!" Bentak Luna.
"Ya Kamu ngapain? Kenapa bisa jatuh?" Tanya Khafi.
"Aku nyender tadi di pintu, mana Aku tahu kalau Mas mau buka pintu." Luna menjawab dengan kesal.
"Ya udah, mau masuk gak?" Tanya Khafi.
Tak menjawab, Luna langsung masuk ke dalam kamar dan mendudukan tubuhnya di sofa.
Khafi menyusul, Ia melihat secangkit minuman di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Itu, teh?" Tanya Khafi dengan canggung.
"Iya. Katanya tadi pusing!" Seru Luna yang berbicara tanpa menatap ke arah Khafi.
"Oh. Ya gimana gak pusing," jawab Khafi asal.
Luna mengangkat wajahnya, "maksudnya? Emang apa yang bikin pusing?" Tanya Luna.
Khafi memalingkan wajah, dan duduk di atas tempat tidur.
"Ya siapa lagi," jawab Khafi yang membuat Luna menebak.
"Aku?" Tebak Luna.
"Bukan Saya yang bilang, ya. Kamu sendiri yang nebak," ujar Khafi.
__ADS_1
Luna menahan emosinya, dan Ia beranjak dari tempatnya.
"Mau kemana?" Tanya Khafi.
"Mandi! Kenapa?" Tanya Luna dengan sinis.
Khafi terlihat canggung, Ia tak lagi menimpali pertanyaan istrinya. Luna pun berjalan menuju lemari untuk mengambil baju ganti, dan setelah itu Ia segera masuk ke dalam kamar mandi.
Ketika tengah berada di kamar mandi, Khafi mendengar ponsel Luna berbunyi. Awalnya Khafi tak mempedulikan siapa yang menghubungi istrinya, karena selama ini, Ia tak pernah melihat atau mendengar Luna menerima telepon dari orang lain di luar keluarganya.
"Siapa sih yang telepon?" Khafi yang merasa terganggu dengan bunyi nyaring ponsel, bermaksud untuk mencari tahu siapa yang menghubungi istrinya.
Khafi berjalan menuju sofa, dan mengambil ponsel Luna.
"Nomor tak di kenal? Siapa ini?" Khafi penasaran.
Ia mengangkat telepon itu, walau Ia tahu Luna akan sangat marah jika mengetahui Ia lancang menerima panggilan masuk ke ponselnya.
"Halo?" Sapa Khafi.
"Halo. Maaf, ini benar nomornya Luna?" Tanya si penelepon.
"Iya, benar. Ini... Siapa?" Tanya Khafi yang ternyata si penelepon berjenis kelamin laki-laki.
"Oh. Luna nya ada? Saya dengan Erik, temannya Luna. Ini siapa, Saya seperti gak asing sama suaranya?" Tanya Erik yang juga tampak mengenali suara Khafi.
"Erik? Ngapain Lo nelepon Luna jam segini?" Tanya Khafi yang langsung merasa kesal.
"Khafi? Lo ngapain angkat telepon dari Gua? Luna nya mana? Kok hpnya ada di Lo?" Tanya Erik.
Khafi terkeju, Ia lupa dengan statusnya bersama Luna di depan Erik.
"Oh, emm Luna lagi mandi. Ini hpnya ketinggalan di kamar Rena, karena bunyi terus ya Gua angkat aja!" Dalih Khafi, berharap Erik akan percaya pada ucapannya.
"Kok Lo tahu kalau Luna lagi mandi?" Tanya Erik.
"Ya tahulah, Dia kan izin!" Seru Khafi yang tak bisa mengontrol emosinya ketika berbicara dengan Erik.
__ADS_1
"Izin? Masa mau mandi aja izin sama Lo?" Tanya Erik yang merasa ada yang salah.
"Ya kenapa emangnya? Udah, banyak tanya. Ngapain Lo telepon Luna?" Tanya Khafi.
"Oh, ini Gua mau izin buat ajak Luna keluar nanti malem. Bentaran kok," ujar Erik.
"Keluar malam? Mau ngapain?" Tanya Khafi.
"Ya jalan aja, kenapa emangnya? Boleh, lah. Luna juga butuh hiburan kali," ucap Erik.
"Emang mau ketemu dimana?" Tanya Khafi.
"Ada, deh. Kejutan, nanti Gua jemput Luna ke rumah. Boleh, kan?" Tanya Erik.
"Gak boleh!" Tolak Khafi.
"Loh, kenapa?" Tanya Erik.
"Maksud Gua, Lo kasih tahu aja dimana tempatnya. Biar Gua kasih tahu nanti ke Dia," dalih Khafi, yang sejujurnya ingin tahu kemana Erik akan membawa istrinya.
"Hemm. Ke tempat dimana pertama Kita ketemuan, di taman deket sekolah Luna dulu. Bentar aja kok, Gua janji gak bakal lama-lama apalagi pulang larut malam!" Erik mencoba membujuk Khafi untuk membiarkannya bertemu dengan Luna.
"Lo tunggu di tempat aja, Luna nanti kesana sama supir. Gua bilangin sama Luna sekarang!" Seru Khafi yang langsung menutup panggilan telepon dari Erik.
Khafi membuang kasar nafasnya, dan Ia terlihat begitu kesal.
"Ngapain pegang ponsel Aku?" Tanya Luna yang membuat Khafi terkejut.
"Ih, bikin kaget aja!" Seru Khafi.
"Kaget? Emang gak denger apa Aku buka pintu barusan? Itu kenapa Hp Aku ada di Kamu?" Tanya Luna yang langsung merebut ponselnya.
Khafi terlihat gugup, Ia mencoba mencari alasan yang akan di percayai oleh Luna.
"Nggak, iseng aja lihat-lihat. Emang kenapa? Gak boleh, itu kan hp dari Saya juga." Khafi berdalih.
Luna menatap dengan curiga, Ia lalu melihat isi ponselnya yang sayangnya Khafi menghapus riwayat panggilan dari Erik.
__ADS_1
Luna tak curiga, Ia tak melanjutkan debatnya dengam sang suami.
Merasa istrinya tak mencurigainya, Khafi lega dan berniat untuk tidak memberitahukan perihal ajakan Erik pada Luna.