
Semakin hari seiring berjalannya waktu, perut Luna semakin membesar. Selama kehamilan, Khafi dan Luna rutin mengecek kondisi janin juga kista yang di miliki Luna.
Terakhir, kista yang di miliki Luna berukuran 3cm. Hal itu, tidak terlalu berdampak pada kehamilan Luna.
Namun, di bulan-bulan akhir tepatnya di akhir usia kandungan Luna yang berusia 8 bulan.
Ketika itu, Luna bermaksud untuk melakukan USG. Nyatanya, kista yang di miliki Luna membesar.
Dokter menyarankan agar Luna segera melakukan operasi, sontak hal itu membuat Luna down.
Sepulang dari rumah sakit Khafi dan Luna kembali ke rumah, sesampainya di rumah Luna langsung berjalan cepat menuju kamarnya.
"Luna, Khafi. Kalian udah pulang? Gimana hasil cek nya?" Tanya Bu Windi.
Luna tak menjawab, Ia memilih untuk menyendiri di dalam kamar. Melihat reaksi sang menantu, membuat Bu Windi menanyakan apa yang terjadi pada putranya.
__ADS_1
"Fi. Luna kenapa?" Tanya Bu Windi.
Khafi berjalan pelan, Ia menundukkan tubuhnya di sofa.
"Fi. Kok Kamu gak jawab, ada apa sama Luna? Dia baik-baik aja, kan? Kandungannya sehat, kan?" Tanya Bu Windi.
Khafi menghela nafasnya, raut wajahnya tampak begitu cemas.
"Janinnya sehat, tapi..."
"Tapi apa?" Sela Bu Windi.
"Operasi? Terus bayi Kalian?" Tanya Bu Windi yang mulai ikut cemas.
"Ya, Bayi Kita juga harus segera di keluarkan." Khafi menjawab dengan getir.
__ADS_1
"Apa? Tapikan usia kandungannya baru 8 bulan, masuk 9 bulan juga masih semingguan lagi, kan? Terus Luna gimana?" Tanya Bu Windi.
Khafi mengusap wajahnya dengan kasar, pasalnya Luna enggan mengeluarkan bayinya sebelum waktunya. Ia sangat ingin merasakan kontraksi alami dari sang bayi, dan berharap bisa melahirkan normal layaknya kebanyakan ibu.
"Luna gak mau operasi, Dia kekeh mau nunggu sampai hari perkiraan lahir. Luna maunya Dia lahiran normal, Ma!" Seru Khafi.
Bu Windi tampak cemas, "tapi apa gak berdampak pada kandungannya? Terus Dokter bilang apa pas denger penolakan dari Luna?" Tanya Bu Windi.
"Dokter menyerahkan semuanya pada Kita, Dia cuma menyarankan dan gak mungkin untuk maksa juga. Sekarang tinggal gimana caranya bujuk Luna untuk mau operasi," ujar Khafi.
Bu Windi merasa kasihan pada kondisi menantunya itu, Ia merasakan bagaimana hancurna Luna saat ini.
"Fi. Operasi itu tindakan besar, apalagi menyangkut dua nyawa. Luna, dan bayi Kalian. Gak mudah untuk memutuskan keputusan besar semacam ini, perlu banyak pertimbangan dan yang paling penting adalah kesiapan orang yang akan melakukan operasi itu. Mamah paham gimana perasaan Luna saat ini, Mamah juga merasakan hal itu saat harus melahirkan Kamu secara caesar.
Yang harus Kita lakukan sekarang, bukan mencari cara untuk membujuk Luna. Tapi gimana caranya agar Luna tenang, gak banyak pikiran. Karena kalau sampai Luna banyak pikiran, akan berpengaruh sama tensi darahnya. Dan itu berpengaruh juga pada kandungan Dia!" Seru Bu Windi.
__ADS_1
Khafi terdiam, apa yang di bicarakan oleh sang Ibu memang ada benarnya. Khafi merasa Ia terlalu egois jika memaksa Luna untuk mau operasi, tampa Ia pikirkan bagaimana mental Luna menghadapi permasalahan yang menimpa kandungannya saat ini.
Khafi tak mengerti tentang metode melahirkan, maka dari itu Ia akan menerima keputusan sang istri yang ingin melahirkan secara normal dan menolak untuk mengeluarkan bayinya dalam waktu dekat ini.