
Luna kembali menemui Erik, Ia menanyakan maksud kedatangan Erik yang sangat mendadak.
"Kak, maaf lama. Emm, ada apa , Kak?" Tanya Luna.
"Oh, emm Kita bisa duduk dulu gak? Biar enak aja gitu ngobrolnya," ujar Erik.
Luna mengangguk, Ia mengajak Erik untuk duduk di kursi teras rumah.
"Emm, mau minum apa, Kak? Biar Aku buatin?" Tanya Luna.
"Oh, gak usah. Kita ngobrol aja," tolak Erik.
"Oh, gitu. Emm ada apa kalau boleh tahu?" Tanya Luna.
Erik tampak menyiapkan dirinya, Ia sangat berharap jika apa yang di katakan oleh Khafi itu semua adalah bohong.
"Emm, nggak Aku cuma mau ngobrol aja sama Kamu. Oh iya, kemarin malem kok Kamu gak dateng?" Tanya Erik.
Luna terdiam, Ia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Erik.
"Gimana maksudnya, Kak? Dateng kemana?" Tanya Luna yang memang tak mengetahui perihal pesan yang di titip Erik pada Khafi.
Erik ikut terdiam, "dateng ke taman. Kemaren kan Aku ngajak Kamu ketemuan, cuman kebetulan waktu itu yang angkat Khafi. Katanya Kamu lagi mandi terus Dia juga gak sengaja denger ponsel Kamu bunyi pas Dia lagi di kamar Rena," tutur Erik.
Luna tampak mencermati perkataan Erik, Luna tak tahu jika Erik mengajaknya untuk bertemu.
"Mas Khafi gak bilang apa-apa. Tapi kenapa? Kalau Aku bilang yang sejujurnya sama Kak Erik, gak mungkin. Nanti Mas Khafi pasti marah." Luna mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan Erik untuknya.
__ADS_1
"Oh, itu. Iya, Aku gak bisa dateng karena... Rena gak mau di tinggal." Luna berdalih.
"Oh, gitu, ya. Padahal Aku udah nunggu lama loh, kata Khafi Kamu bakalan di anter sama supir biar Aku gak usah jemput kesini." Erik tersenyum kecewa.
"Iya, maaf, Kak. Aku gak enak juga kalau keluar malam, apalagi di anter supir. Terus gak mungkin juga Aku bawa Rena keluar malam-malam, nanti Pak Khafi marah. Sekali lagi, Aku minta maaf ya, Kak." Luna merasa bersalah, Ia juga bertanya-tanya mengapa Khafi tak memberitahunya tentang pesan Erik.
"Iya gak apa-apa, Aku ngerti kok." Erik mau tak mau harus menerima penjelasan Luna.
"Kalau boleh tahu, kenapa Kakak ngajak Aku ketemuan? Ada apa?" Tanya Luna.
Erik tampak canggung, namun sepertinya nyalinya tak ciut dan tetap akan melanjutkan niatnya.
"Emm, sebenarnya ada hal penting yang mau Aku bicarain sama Kamu." Erik mulai menuju topik utamanya.
"Apa itu?" Tanya Luna.
Luna terkejut, Ia tak menyangka jika Erik akan menyatakan perasaannya.
"Suka? Maksudnya gimana ya, Kak?" Luna masih mencerna arti kata 'suka' yang di ucapkan oleh Erik.
"Iya sebenernya Aku pengen bilang ini dari sejak Kita masih sering komunikasi, tapi karena kejadian hp hilang jadi tertunda. Luna Aku gak tahu sejak kapan perasaan itu ada, tapi Aku berbicara jujur sama Kamu kalau Aku jatuh cinta sama Kamu. Dan perasaan itu masih sama seperti pertama kali Aku jatuh cinta, Aku bahagia banget bisa ketemu lagi sama Kamu. Aku mengira ini sebuah takdir, takdir yang membawa Kamu untuk bisa menjadi milik Aku. Luna... Aku mau Kamu jadi pacar Aku." Erik benar-benar berbicara pada topik utamanya, Ia tak berbasa basi dalam mengutarakan perasaannya.
Luna tampak terdiam, Ia tak percaya bahwa Erik jatuh cinta padanya. Sejujurnya, Luna pernah memiliki perasaan yang sama pada Erik bahkan mungkin Ia lebih dulu memendam perasaannya. Satu sisi Luna senang, karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan, namun di sisi lain Luna juga merasa bingung dengan jawaban yang akan di berikan pada Erik.
"Kak, maaf tapi Aku bener-bener gak nyangka Kakak bakal nyatain cinta sama Aku. Kakak gak keliru kan sama perasaan Kakak?" Tanya Luna.
Erik menggelengkan kepalanya dengan cepat, "gak. Aku gak keliru, Aku yakin sama perasaan Aku ke Kamu. Luna..."
__ADS_1
Luna terkejut, ketika Erik tiba-tiba menggenggam tangannya.
"Kamu mau jadi pacar Aku?" Tanya Erik sekali lagi.
Luna menelan salivanya, jantungnya begitu berdetak lebih cepat dari biasanya. Luna benar-benar bahagia mengetahui perasaan Erik padanya, Luna menatap dalam wajah Erik dan seketika bayangan Khafi muncul membuat Luna membuyarkan lamunannya.
"Astaga!" Luna memejamkan matanya, Ia juga menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Erik.
"Kenapa, Lun?" Tanya Erik yang terheran melihat reaksi Luna.
Luna mencoba bersikap sewajarnya, Ia juga sedikit memalingkan wajahnya dari Erik.
"Kak, Aku gak tahu harus jawab apa. Yang pasti Aku seneng, dan berterima kasih karena Kakak udah mau jujur dengan perasaan Kakak. Tapi untuk saat ini, Aku gak bisa." Luna menuturkan.
"Gak bisa? Gak bisa gimana maksudnya, Lun? Kamu gak punya perasaan yang sama ke Aku?" Tanya Erik.
"Nggak bukan gitu. Emm, aduh gimana ya." Luna tampak kebingungan, Ia tak mungkin mengungkapkan yang sebenarnya. Pasalnya, Khafi melarangnya untuk memberitahu siapa Ia sebenarnya. Namun Luna juga harus memberi jawaban pada Erik, dan Luna tak tahu harus memberi jawaban apa.
"Kak, maaf. Ini terlalu mendadak buat Aku, Kita udah lama gak berkabar. Dan selama itu juga, banyak hal yang terjadi yang belum bisa Aku ceritain sama Kakak. Jadi untuk saat ini maaf Aku belum bisa membalas cinta Kakak," ucap Luna dengan dada yang begitu sesak.
Erik terdiam, Ia masih berusaha menuntut Luna untuk memberi alasan mengapa Luna menolaknya.
"Luna Aku hargai keputusan Kamu, tapi Aku masih gak bisa terima dengan alasan Kamu nolak Aku. Sebenarnya apa yang terjadi sama Kamu? Apa Kamu udah... Nikah?" Tanya Erik.
Luna terdiam, pertanyaan Erik membungkam mulut Luna. Luna tak berkutik, Luna tengah memikirkan bagaimana Ia mengakhiri perbincangannya dengan Erik dan memberitahu Khafi tentang apa yang Erik katakan padanya.
"Ya Tuhan, Aku harus jawab apa?" Luna tengah berpikir keras.
__ADS_1