
Luna telah di pindahkan ke ruang rawat inap, Khafi dan yang lainnya tengah menunggu Luna sadar.
Saat itu, semua orang merasa khawatir pada Luna. Perasaan bercampur aduk seketika, namun yang pasti semua menginginkan Luna untuk kembali sehat seperti semula.
Hampir lima belas menit, Luan kini telah sadar. Ia melihat sekelilingnya, ruangan yang akhir-akhir ini tak asing baginya.
"Aku... Di rumah sakit lagi?" Tanya Luna sembari menatap kosong langit-langit ruangan.
Mendengar suara Luna, Khafi segera memburu dan mendekat ke arah sang istri.
"Luna, Kamu udah sadar. Gimana, ada yang sakit?" Tanya Khafi.
Luna belum menjawab, Ia langsung di buat sedih karena lagi-lagi Ia harus berurusan dengan rumah sakit.
"Aku kenapa?" Tanya Luna dengan lemah.
Khafi menghela nafasnya, Ia begitu berat mengatakan hal yang sebenarnya pada Luna.
"Lun. Kamu hamil!" Sela Bu Windi dengan raut wajah yang bahagia.
Luna terkejut, Ia tak berkata apapun.
__ADS_1
"Ha... Hamil?" Tanya Luna dengan tidak yakin.
Bu Windi mengangguk, namun tiba-tiba Bu Nuri berjalan dan duduk di samping Luna.
"Luna, Kamu hamil. Tapi ada satu hal yang harus Kita sampaikan ke Kamu," ujar Bu Nuri.
Wajah Luna yang awalnya sempat terlihat tersenyum, kini kembali terlihat cemas.
"Emm, biar Aku aja yang kasih tahu." Khafi menyela.
Luna menatap ke arah suaminya, Ia pun menunggu Khafi untuk segera menjelaskan apa yang terjadi padanya.
"Gini, Kamu emang lagi hamil. Kita semua seneng, Kamu juga senengkan?" Tanya Khafi.
"Iya, jadi gini. Kata dokter, ada... Kista di rahim Kamu." Khafi berucap.
"Apa?" Luna terkejut, refleks Ia menyentuh perutnya dan matanya tampak berair.
"Tapi Kamu tenang dulu, jangan panik, jangan khawatir. Kata Dokter kista itu masih tahap observasi, dari segi ukurannya masih di amati apakah mengecil atau bagaimana. Selama gak ada keluhan, terus Kamu rajin USG semua akan aman. Kamu harus jaga kesehatan, demi anak Kita!" Khafi mencoba untuk menenangkan hati Luna dan berusaha untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, Khafi juga berusaha untuk tetap tenang di depan sang istri.
"Tapi janinnya gimana?" Tanya Luna.
__ADS_1
"Aman. Pokoknya Kamu fokus sama kehamilan dan kesehatan Kamu dulu! Jangan banyak pikiran, toh tiap bulannya Aku pasti bawa Kamu cek kandungan kok." Khafi menuturkan.
Luna menarik nafas panjang, Ia seolah merasakan sesak yang teramat berat di dadanya.
"Ya udah, Aku percaya. Semoga kandungan Aku baik-baik aja," ucap Luna.
"Pasti baik-baik aja, kok. Kamu percaya sama Aku!" Pinta Khafi.
Luna mengangguk, kini senyumnya kembali merekah. Melihat kemesraan Khafi dan Luna, Erik mulai percaya bahwa keduanya telah jatuh cinta. Erik pun tampak mengasingkan diri, dan memutuskan untuk berhenti berharap untuk bisa mendapatkan Luna.
Setelah beberapa jam mendapat perawatan, akhirnya Luna di perbolehkan untuk pulang.
"Mas. Aku mau asinan deh," ujar Luna.
"Hah? Asinan? Kenapa tiba-tiba pengen asinan?" Tanya Khafi.
"Ih, namanya juga orang hamil!" seru Bu Nuri yang memilih untuk pulang bersama Khafi dan Luna.
"Asinan dimana?" tanya Khafi.
"Sok Kamu jalan aja, nanti Mamah berhentiin kalau ada pedagangnya!" pinta Bu Nuri.
__ADS_1
"Hemm, iya, Ma." Khafi mulai merasakan dampak dari kehamilan Luna, yaitu ngidam. Dan mau tak mau, Ia harus melaksanakan keinginan sang istri dengan suka rela.