Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Ketidaktahuan Erik


__ADS_3

Luna tak mengerti mengapa Khafi menyalahkan dirinya, bahkan Khafi masih membentak di saat Rena belum tenang dari tangisnya.


"Kok Kamu nyalahin Aku, Mas? Aku salah apa? Perasaan Aku gak ngelakuin kesalahan apapun seharian ini," ujar Luna.


"Gak ngelakuin kesalahan katamu? Terus sejak tadi Kamu sama Erik? Pantes gitu seorang yang udah menikah seakrab itu sama laki-laki lain?" Tanya Khafi.


Luna melihat sisi lain dari Suaminya, namun tetap saja Luna merasa tak pernah melakukan kesalahan.


"Aku sama Kak Erik emang udah kenal sebelumnya, dan Aku rasa sikap Aku ke Kak Erik itu masih wajar-wajar aja." Luna menatap dalam suaminya.


"Kamu cemburu, Mas?" Tanya Luna.


Khafi terdiam, "cemburu?" Ia terlihat termenung.


Khafi menggelengkan kepalanya, raut wajahnya kini kembali berubah tegas.


"Cemburu apa sih, kepedean banget. Gimana mau cemburu, perasaan suka juga gak ada sama Kamu!" Seru Khafi.


Luna seketika tak bergeming, Luna tersadar dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Suaminya.


Melihat reaksi istrinya, Khafi pun ikut terdiam. Ia sadar, perkataannya telah menyinggung Luna.


Luna tak memperpanjang perdebatannya dengan Khafi, Ia lebih memilih menjauh dan kembali berusaha menenangkan Rena yang masih menangis.


Luna melihat ada seorang pedagang balon karakter, Luna mendekati pedagang itu dan memperlihatkan berbagai balon karakter lucu pada Rena.


"Rena, lihat! Balonnya banyak sekali, lucu-lucu. Rena mau?" Tanya Luna, Ia mencoba mengalihkan perhatian Rena.


Benar saja, Rena berhenti menangis. Ia kini terlihat kagum dengan balon-balon yang ada di hadapannya. Rena pun menunjuk sebuah balon berkarakter hewan, dan Luna juga membelikan balon itu untuk Rena.


"Nih, Ibu kasih satu. Rena udah puas nangisnya? Udah lega?" Tanya Luna.


Rena mengangguk, Ia kini terlihat kembali tertawa.


Setelah di rasa tenang, Luna memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil.


Khafi menyusul istrinya, Ia pun masuk ke dalam mobil.


Luna tak mempedulikan Khafi sama sekali, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Luna.


Hal itu membuat Khafi tak nyaman, Ia juga merasa tak enak hati pada istrinya.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Khafi.

__ADS_1


"Hemm." Luna hanya menjawab asal.


Khafi menghela nafasnya, Ia lalu menghidupkan mesin dan melajukan kembali mobilnya.


Sesampainya di rumah, Luna langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu suaminya.


Khafi melihat perbedaan dari sikap Luna, dan Khafi sadar bahwa ialah penyebabnya.


"Lun. Kok udah pulang?" Tanya Bu Windi.


"Oh, iya Mah. Katanya Mas Khafi kurang enak badan," dalih Luna.


"Oh, gitu." Bu Windi beralih menatap putranya yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Fi. Kata Luna Kamu gak enak badan?" Tanya Bu Windi.


"Oh, emm iya. Agak pusing sedikit," jawab Khafi dengan gugup.


"Ya ampun. Ya sudah Kamu istirahat sana!" Pinta Bu Windi.


"Mah. Luna ke kamar Rena dulu ya," ucap Luna.


"Oh, iya. Nanti Kamu coba pijitin kepalanya Khafi, siapa tahu bisa membantu!" Pinta Bu Windi.


Luna sempat terdiam, sebelum akhirnya Ia mengiyakan permintaan mertuanya.


Khafi pun berjalan menuju kamarnya, Ia memilih untuk beristirahat karena memang kepalanya sedikit pening. Bukan karena tidak enak badan, tetapi karena perdebatannya dengan Luna di tepi jalan tadi.


***


Di halaman kantor Khafi, Yuke masih berdiam diri karena kesal pada Khafi yang tak memberikannya tumpangan.


Saat itu, kebetulan Erik juga pulang lebih awal. Ia melihat Yuke yang tengah melamun, dan bermaksud untuk menghampirinya.


"Ngapain bengong disini?" Tanya Erik yang membuat Yuke terkejut.


"Ish, ngagetin aja!" Seru Yuke.


"Dih. Ngelamun, Non? Kayak yang gak ada kerjaan aja!" Ledek Erik.


Yuke tak menimpal, raut wajahnya masih terlihat sangat kesal.


"Kayaknya lagi badmood nih," sindir Erik.

__ADS_1


"Iyalah, gimana gak badmood. Si Khafi tadi ninggalin Gua disini, udah di gedor-gedor juga mobilnya!" Gerutu Yuke.


"Lah, emangnya gak ada taksi online sampai harus maksa nebeng sama orang yang gak mau ketumpangan sama Lo?" Tanya Erik.


"Ketumpangan-ketumpangan! Emang Gua setan!" Yuke masih sangat kesal.


"Marah-marah mulu, ih. Cepet tua, loh. Mana mau nanti si Khafi sama cewek yang mukanya udah keliatan tua," ujar Erik.


Yuke menarik nafasnya panjang, dan membuangnya dengan perlahan.


"Huh. Gua kesel banget, sumpah. Susah banget sih Dia buat di deketin," ucap Yuke.


Sekarang Erik tahu penyebab Yuke sangat kesal, pasalnya Erik tahu betul bagaimana Yuke menyukai Khafi sedari masih ada Selina.


"Gimana mau lancar, kalau yang deketinnya terlalu agresif. Terlalu grasak grusuk," sindir Erik.


"Ya terus gimana lagi?" Tanya Yuke.


"Ya santai aja, sih. Khafi tuh gak suka cewek agresif, gak suka sama yang terlalu terang-terangan ngejar Dia. Lo ikutin deh saran dari Gua!" Pinta Erik.


"Saran? Saran apaan?" Tanya Yuke.


"Gua bisa ngasih cara buat Lo biar bisa deketin Khafi, tapi ada syaratnya." Erik menuturkan.


"Syaratnya apa?" Tanya Yuke lagi.


Erik terlihat tersenyum, dan terdiam sejenak memikirkan syarat yang akan Ia ajukan.


"Ok. Syaratnya itu, Lo juga harus bantuin Gua biar bisa deketin Luna! Gimana?" Tanya Erik.


Yuke terkejut, Ia tak percaya bahwa Erik akan mempermudah jalannya.


"Lo suka sama si baby sitter itu?" Tanya Yuke.


"Luna. Dia punya nama, Ke!" Seru Erik.


"Iya deh, Luna. Lo suka sama Dia? Sejak kapan?" Tanya Yuke.


"Sebenernya Gua suka sama Dia udah lama, sebelum Gua kuliah ke luar negeri. Tapi gara-gara waktu itu hp Gua ilang, jadi tertunda deh buat nembah Dia. Nah, mumpung sekarang ada jalan nih, Lo mau gak bantuin Gua?" Tanya Erik.


Yuke tampak berpikir, ini akan sangat menguntungkan baginya.


"Kayaknya si Erik ini emang gak tahu kalau Luna sama Khafi udah nikah, hemm. Gua manfaatin aja kebucinan si Erik ini," ucap Yuke dalam batinnya.

__ADS_1


"Ok, Gua setuju sama syaratnya. Mulai sekarang Kita saling bantu, ok!" Seru Yuke.


"Siap, deal!" Keduanya pun setuju, dan mulai merancang rencana untuk melancarkan aksi Mereka.


__ADS_2