Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Menyerahkan Diri


__ADS_3

Luna tengah memandang langit biru, lamunannya jauh entah kemana. Ia tak menyadari, bahwa sedari tadi Khafi berdiri di belakangnya.


"Lihatin apa sih?" Tanya Khafi yang membuat Luna terkejut.


"Hah. Kaget Aku, Mas!" Seru Luna.


Ia membenarkan posisi duduknya.


"Lagian ngelamunin apa sampai gak ngeuh suami sendiri udah berdiri dari tadi," ujar Khafi.


"Emm, nggak. Oh iya, sebenernya Kita ngapain sih Mas kesini? Kasihan Rena tahu di tinggalin," tanya Luna.


Khafi memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, Ia menatap ke arah langit yang sama dengan Luna.


"Emm, terserah. Kamu maunya Kita ngapain?" Goda Khafi.


Luna mengerutkan keningnya, "kenapa tanya Aku? Kan Kamu yang ngajakin ke sini," ujar Luna.


"Emm, Aku cuma mau menuruti kemauan Mamah aja sih. Kasihan Dia udah beliin tiket liburan, masa Kita gak pergi. Dan juga..."


"Dan juga apa?" Tanya Luna.

__ADS_1


"Dan juga memenuhi kemauan Mamah yang pengen punya cucu," lanjut Khafi.


Luna terkejut, Ia membulatkan matanya. Pipinya seketika terasa panas, Luna pun menutupi pipinya yang memerah agar tak terlihat oleh Khafi.


"Ma-maksud Kamu apa, sih Mas?" Luna pura-pura tak mengerti dengan perkataan Khafi.


"Ya Aku akan melakukan kewajibanku sebagai seorang suami, itu aja. Kamu juga berhak kan mendapatkan itu?" Tanya Khafi.


Luma menunduk, Ia teringat akan sesuatu.


"Mas. Mungkin Aku bisa aja, memberi alasan sama Mamah kenapa Aku belum juga hamil. Kalau Kamu mau, Aku bisa beralasan kalau Aku susah punya anak, bahkan mandul mungkin untuk menutupi semua ini. Tapi Aku gak bisa kalau harus melakukan hal itu, hanya karena paksaan dan tuntuntan dari orang lain. Aku gak mau anakku lahir tanpa rasa cinta daru ayahnya," ujar Luna.


"Mas. Sakit, Kamu apa-apaan sih narik Aku kayak gini?" Tanya Luna sembari mencoba melepas genggaman tangan suaminya.


Khafi tak mempedulikan ringisan istrinya, Khafi bahkan melakukan hal yang tak terduga oleh Luna.


"Mas. Hep..."


Luna terdiam, matanya melebar ketika bibir Khafi tiba-tiba mendarat di bibirnya.


Seketika Luna mematung, tubuhnya terasa sangat kaku.

__ADS_1


Beberapa saat, Luna sadar dan mencoba untuk berontak.


Namun tenaganya kalah, Luna tak cukup kuat untuk mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


Tubuh Luna seakan semakin melemas, ketika sang suami mendorongnya hingga terjatuh di atas tempat tidur.


Jantung Luna berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan tak ada penolakan sedikitpun ketika sang suami mulai menjamahi seluruh bahian tubuhnya.


Saat itu, terjadilah hal yang selama ini Luna pertanyakan. Ia telah memberikan dirinya pada sang suami.


Di kamar lain, Erik tengah terdiam. Ia masih tak percaya dengan kenyataan dimana wanita yang selama ini di inginkannya telah menjadi milik pria yang tak lain adalah sahabatnya.


Erik mencoba untuk meyakinkan dirinya, bahwa tak akan pernah ada cinta antara Luna dan Khafi. Erik berharap, pernikahan Mereka memang karena paksaan dan tak akan bertahan lama.


"Gak bisa. Khafi gak bisa lakuin ini sama Gua, dulu Selina. Sekarang Luna," racau Erik.


Ya, sebelum akhirnya Khafi menikahi Selina, ada Erik yang ternyata sempat menaruh harap pada Selina sebelum Ia mengenal Luna.


Erik yang begitu menyayangi sahabatnya, memilih untuk merelakan Selina untuk Khafi. Erik bahkan pindah sekolah, hanya demi tak melihat kemesraan Khafi dan Selina.


Kini, hal itu kembali terulang. Bahkan nyaris sama seperti dulu, dan kali ini Erik enggan untuk mengalah lagi. Erik akan berusaha untuk memiliki Luna, bagaimana pun caranya.

__ADS_1


__ADS_2