Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

Erik masih menunggu jawaban dari Luna, sementara itu Luna masih tak tahu harus menjawab apa. Luna tengah berpikir, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Ia melihat nomor tak di kenal masuk.


"Ini siapa, ya?" Gumam Luna.


"Siapa, Luna?" Tanya Erik.


"Gak tahu, Kak. Kayaknya ini bukan nomor hp sih, kayak nomor telepon rumah gitu." Luna menjawab.


"Ya udah angkat dulu, siapa tahu penting!" Saran Erik.


Luna mengangguk, Ia pun mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.


"Halo?" Sapa Luna.


"Halo selamat siang, Bu. Saya Ratna guru BK Nuka, Saya ingin meminta waktu Ibu untuk datang ke sekolah hari ini. Bisa?" Tanya Guru Nuka.


Luna terkejut, baru kali ini Ia di minta untuk datang ke sekolah adiknya bahkan oleh guru BK.


"Memangnya adik Saya kenapa, Bu?" Tanya Luna yang mulai panik, melihat kepanikan Luna Erik pun mencoba untuk menenangkan.


"Nuka terlibat perkelahian, dan setiap orang tua atau wali murid yang terlibat Saya panggil hari ini. Saya harap Ibu bisa datang," ujar guru BK.


"Iya, Saya ke sekolah sekarang." Luna pun menutup panggilan teleponnya, dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah.


"Luna, ada apa? Kok Kamu panik gitu?" Tanya Erik.


"Kak, Adik Aku berkelahi di sekolahnya. Aku gak tahu kenapa Nuka sampai bisa berkelahi, sebelumnya Dia gak pernah kayak ginu. Aku harus ke sekolah sekarang!" Seru Luna.


"Aku antar Kamu, ya." Erik memberi penawaran.


"Nggak usah, Kak. Aku pergi sendiri aja," tolak Luna.


"Luna. Kamu harus segera ke sekolah, Aku bisa antar Kamu biar Kamu cepet sampai. Udah gak usah banyak alasan, Kita berangkat sekarang!" Ajak Erik.


Luna pun mengiyakan, Ia bahkan lupa berpamitan pada kedua mertuanya.


***

__ADS_1


Sementara itu, di kantor.


Khafi baru akan melaksanakan meeting. Sebelum itu, Khafi sempat bermaksud untuk menemui Erik namun Ia mendapati Erik tak ada di tempat.


"Rani. Erik kemana, ya?" Tanya Khafi.


"Oh, Pak Erik tadi izin keluar sebentar, Pak." Rani menjawab.


"Keluar sebentar? Kemana? Ada meeting di luar?" Tanya Khafi.


"Tidak ada, Pak. Tapi sepertinya Pak Erik ada urusan pribadi," jawab Rani.


"Urusan pribadi?" Khafi terdiam, tak biasanya Erik meninggalkan kantor di jam kerja.


Khafi pun tak bertanya lebih lanjut, Ia harus segera meeting dan menyelesaikan pekerjaannya.


Di perjalanan menuju sekolah, Luna teringat pada Rena yang Ia tinggal bersama ibu mertuanya.


"Astaga, Rena." Luna berucap.


"Kenapa, Lun?" Tanya Erik.


"Astaga. Kalau Aku telpon Mamah di depan Kak Erik, nanti Dia curiga karena Aku manggil Ibu Mas Khafi dengan sebutan 'Mamah'. Apa Aku telpon Bi Yuni aja, ya." Luna pun beralih mencari nomor ponsel Bi Yuni.


"Halo, Bi. Bi Aku mau titip pesan, boleh? Tolong bilang ke Ibu, Aku pergi ke sekolah Nuka dulu. Ada sedikit masalah," ucap Luna.


Setelah mendengar jawaban Bi Yuni, Luma berterima kasih dan menutup panggilan teleponnya.


"Lun. Boleh tanya, gak?" Tanya Erik.


"Tanya apa, Kak?" Luna khawatir jika Erik kembali bertanya tentang statusnya.


"Kamu tinggal di rumah Khafi, bawa adik juga?" Tanya Erik.


"Oh, itu. Iya Kak, abisnya Nuka mau tinggal sama siapa lagi." Luna menjawab.


"Oh, gitu. Baik banget Khafi sama keluarganya ke Kamu," ujar Erik.

__ADS_1


"Iya, alhamdulillah. Mereka semua baik banget sama Aku, apalagi Bu Selina. Dia itu bagaikan malaikat buat Aku," jawab Luna apa adanya.


"Hemm, gitu. Oh iya, emm Kamu kan cantik, baik, pokoknya idaman setiap cowok. Khafi kan Duda, Kamu... Gak ada rasa suka gitu sama Dia?" Tanya Erik


Mata Luna melebar, pertanyaan Erik sungguh selalu di luar perkiraannya.


"Haha, Kak Erik nih apaan sih. Mana boleh bawahan naksir majikannya, ada-ada aja nih nanyanya." Luna berdalih.


"Ya kan banyak tuh yang majikan naksir bawahannya, bahkan ada yang nikah juga. Khafi kan ganteng," ujar Erik.


"Udah ah, gak usah bahas itu. Aku mau fokus ke masalah Nuka dulu!" Pinta Luna.


Di rumah, Bi Yuni menyampaikan pesan dari Luna.


"Maaf, Bu. Saya dapat pesan dari Non Luna, katanya Dia pergi ke sekolah Nuka dulu. Ada sedikit masalah, tapi lupa pamit sama Ibu." Bi Yuni menjelaskan.


"Ke sekolah? Masalah apa? Terus Luna pergi sama siapa?" Tanya Bu Windi.


"Saya juga kurang tahu, Bu." Bi Yuni menjawab.


"Oh, ya sudah makasih ya, Bi." Bu Windi meminta Bi Yuni untuk kembali, sementara itu Ia penasaran bersama siapa Luna pergi.


"Sama siapa ya Luna ke sekolah? Terus ada masalah apa." Bu Windi bergumam.


"Coba Kamu telepon Khafi, siapa tahu Khafi tahu. Atau mungkin bisa jemput Luna ke sekolah," saran Bu Nuri.


"Oh, iya ya. Aku telepon dulu Khafi deh!" Bu Windi mengambil ponselnya dan segera menghubungi Khafi.


Beberapa saat setelah panggilan terhubung.


"Halo, Fi. Kamu sibuk?" Tanya Bu Windi.


"Halo, Ma. Baru beres meeting nih, kenapa?" Tanya Khafi.


"Oh, nggak. Mamah cuma mau tanya, Luna ke sekolah sama siapa, ya?" Tanya Bu Windi.


"Luna ke sekolah? Kapan? Khafi gak tahu," tanya Khafi.

__ADS_1


"Loh, Mamah kira Kamu tahu. Tadi kata Bi Yuni, Luna bilang Dia mau ke sekolah, ada sedikit masalah sama Nuka!" Seru Bu Windi.


Khafi tak menjawab, Ia tak tahu menahu soal masalah yang menimpa adik iparnya. Luna pun tak memberi kabar padanya, hal itu membuat Khafi memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2