Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Keputusan Khafi Tentang Bulan Madu


__ADS_3

Khafi dan Luna sampai di rumah, Khafi bergegas turun dan berjalan cepat menuju kamarnya. Ibu dan mertuanya yang tengah berada di ruang keluarga, Khafi lewati begitu saja.


"Khafi kenapa, ya. Kayak orang yang lagi marah gitu?" Tanya Bu Nuri.


"Iya, Saya juga gak tahu." Bu Windi terheran melihat tingkah putranya.


Tak berselang lama, Luna menyusul dengan langkah tergesa.


"Luna!" Panggil Bu Windi.


Luna menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah mertuanya.


"Kalian kok bisa pulang barengan? Ada apa, Khafi keliatannya lagi marah?" Tanya Bu Windi.


"Emm, iya. Nanti Luna ceritain, sekarang Luna harus susul Mas Khafi dulu, Ma. Gak apa-apa, kan?" Tanya Luna.


"Yaudah, Win. Biarin Mereka berdua dulu, takutnya lagi ada masalah!" Pinta Bu Nuri.


"Ya udah Kamu temui Khafi dulu!" Pinta Bu Windi.


Luna mengangguk, Ia pun melanjutkan langkahnya menyusul sang suami.


Di dalam kamar, Khafi melempar tasnya. Ia membuka jas dan melemparnya lagi, Khafi terlihat begitu marah.


Sesampainya di kamar, Luna melihat jas, tas, juga dasi yang berserakan di lantai. Luna mengambilnya satu persatu, lalu Ia menatap Khafi dengan terheran.


"Kamu ini kenapa sih sebenarnya, Mas? Kenapa Kamu semarah ini?" Tanya Luna.


Khafi berbalik, dadanya naik turun menahan emosi yang bergemuruh.


"Kamu tanya kenapa? Kamu kira gimana perasaan seorang suami mendapati istrinya pergi dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuannya? Dimana harga dirnya?" Bentak Khafi.


"Jadi masalahnya adalah tentang harga diri? Bukan karena cemburu karena istri Kamu jalan sama laki-laki lain?" Tanya Luna.


Khafi bertolak pinggang, matanya begitu merah menyala.


"Cemburu? Untuk apa Aku cemburu? Kamu harusnya bisa menjaga harga diri suamimu!" Seru Khafi.


"Lalu gimana dengan harga diriku, Mas? Kami nikahi Aku tapi Kamu gak mau ngakuin Aku sebagai istri Kamu, Kamu menolak untuk bersikap layaknya seorang suami istri, bahkan Kamu melarang Aku melakukan semua kewajibanku sebagai seorang istri. Gimana dengan harga diri Aku? Kamu gak bisa bersikap seenaknya kayak gini!" Bentak Luna.


Khafi terdiam, Ia mengatur nafasnya.


"Kalau Kamu gak cemburu, kenapa Kamu harus semarah ini. Harusnya Kamu senang, dengan begitu Kamu bisa ceraian Aku dan biarin Aku sama orang lain. Untuk apa menjalani rumah tangga tanpa cinta!" Lanjut Luna.

__ADS_1


"Kalau bukan karena anak-anak, Aku juga gak akan mau menikah dengan laki-laki yang memperlakukan istrinya dengan buruk! Itu bukan impian Aku, Mas." Luna tak dapat menahan air matanya, Ia menangis mendudukan tubuhnya di sofa.


Khafi dengan keras kepalanya, Ia masih menyangkal bahwa Ia memang cemburu. Ia tak menyukai jika istrinya dekat dengan laki-laki lain, namun Ia juga tak bisa menjalani perannya layaknya seorang suami.


"Berhenti menangis!" Pinta Khafi.


"Kenapa? Apa Kamu juga mau ngelarang Aku buat nangis? Apa tangisan Aku juga ngeganggu Kamu? Jahat Kamu!" Luna masih meluapkan emosinya.


Khafi tak berkutik, ada sedikit rasa penyesalan di hatinya namun Ia enggan untuk berkata jujur.


Di luar ruangan, kedua mertua Luna sayup-sayup mendengar pertengkaran keduanya. Mereka terlihat khawatir, namun Mereka juga tak bisa ikut camput terhadap masalah yang terjadi pada rumah tangga keduanya.


"Win. Kayaknya rencana Kamu soal bulan madu Luna dan Khafi harus di percepat, deh. Siapa tahu dengan begitu, hubungan Mereka kembali membaik. Gimana?" Usul Bu Nuri.


"Emm, ide bagus. Aku gak pernah loh denger Khafi semarah itu, kira-kira Mereka kenapa, ya?" Tanya Bu Windi.


"Iya. Tapi setahuku pas Dia masih sama Selina, Khafi memang sempat marah seperti itu di karenakan kesalahpahaman. Khafi cemburu berat sama teman kuliah Selina yang kebetulan waktu itu ketemu di Mall itu juga gak sengaja," ujar Bu Nuri.


"Hemm, apa jangan-jangan sekarang Khafi juga lagi cemburu, ya?" Tanya Bu Windi.


"Ya semoga hanya karena itu, ya. Tapi kok sampe segitunya," ujar Bu Nuri.


"Takut Luna kenapa-kenapa." Bu Nuri melanjutkan.


"Tenang, Nur. Khafi gak ringan tangan kok, Dia gak mungkin apa-apain Luna. Percaya deh!" Seru Bu Windi.


Khafi masih terdiam, namun tak lama Ia berucap hal yang membuat Luna menghentikan tangisnya dengan seketika.


"Kita batalkan semua peraturan yang udah di buat! Dan bersikap kayaknya pasangan suami istri." Khafi berucap.


***


Setelah perkataan Khafi itu, keduanya diam membisu. Di dalam kamar, keduanya seperti asing.


Hingga suara ketukan pintu, membuat keduanya terhentak. Luna berjalan untuk membuka pintu, dan tengah berdiri kedua mertuanya sembari membawa Rena.


"Mamah," ucap Luna.


Khafi menoleh, Ia pun turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri istrinya.


"Mamah. Kalian ngapain kesini?" Tanya Khafi melihat Ibu juga mertuanya berdiri tepat di depan kamarnya.


"Emm, Mamah mau kasih tahu sesuatu." Bu Windi berucap.

__ADS_1


"Emm, masuk, Ma. Duduk dulu!" Pinta Luna.


Keduanya masuk, Luna mengambil alih Rena dari pangkuan Ibu mertuanya.


"Mau bicarain apa, Ma?" Tanya Khafi.


"Emm. Ini!" Ibu Khafi menunjukan sesuatu di ponselnya pada Khafi.


"Tiket pesawat ke Bali? Mamah mau ke Bali?" Tanya Khafi.


"Oh, ya nggak lah. Ini buat Kamu!" Seru Bu Windi.


Khafi mengerutkan keningnya, Ia tak mengerti mengapa ibunya memesankan tiket pesawat menuju Bali untuknya.


"Buat Aku? Ngapain Aku ke Bali?" Tanya Khafi.


"Bulan madu!" Jawab Bu Windi.


Khafi terkejut, Ia menoleh manatap istrinya.


"Bu-bulan madu? Kok Mamah gak bilang dulu sama Aku?" Tanya Khafi.


"Kejutan ceritanya, Fi. Hadiah pernikahan," sahut Bu Windi.


"Udah mau aja, Fi. Kalian kan belum punya waktu berdua selama ini," ujar Bu Nuri.


"Mah, tapi Aku gak mungkin ninggalin Rena." Luna menyela.


"Gampang, kan ada Kita. Rena pasti anteng selagi Dia gak lihat pas Kalian pergi," ujar Bu Windi.


"Iya. Gimana, mau, kan?" Tanya Bu Nuri.


Luna hanya terdiam, karena Ia merasa tak berwenang untuk memutuskan.


Sedangkan Khafi, Ia tengah menimbang keputusannya.


"Mungkin ini waktu yang tepat buat memperbaiki hubungan Aku sama Luna. Tapi Dia mau gak ya?" Khafi bertanya-tanya.


"Emm, ya udah. Aku atur jadwal dulu di kantor!" Seru Khafi.


Luna pun tampak menatap ke arah Khafi, Ia tak percaya bahwa suaminya akan menyetujui rencana ibunya.


"Kok Mas Khafi mau? Ada apa, ya? Apa Dia punya rencana? Jangan-jangan Dia mau buang Aku nanti di Bali." Luna memejamkan matanya, pikirannya buruk terhadap sikap Khafi yang berubah-ubah dan tak dapat Ia tebak.

__ADS_1


"Jadi Kamu setuju, Fi? Alhamdulillah kalau gitu, Mamah gak sabar buat punya cucu dari Kamu dan Luna!" seru Bu Windi yang di susul dengan Bu Nuri yang tertawa.


Luna dan Khafi memilih memalingkan wajah, Mereka tak habis pikir dengan rencana yang telah di siapkan oleh Ibu-ibu Mereka.


__ADS_2