Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Kekhawatiran Khafi


__ADS_3

Lewat pukul 6 sore, Khafi terlihat gelisah karena menimbang apa yang di putuskannua yaitu tidak memberi tahu Luna tentang ajakan Erik.


Luna melihat sedari tadi Suaminya gelisah, dan berniat untuk menanyakan apa yang tengah membuat Suaminya itu begitu gelisah.


"Kamu kenapa, sih? Mondar mandir dari tadi, Mas?" Tanya Luna.


Khafi hanya menoleh, namun tak menjawab pertanyaan istrinya.


Dalam hati, Khafi tengah berpikir mengapa Ia sampai bersikap seperti itu pada Luna.


"Apa sih bagusnya istri Gua? Kenapa dalam waktu kurang dari sebulan, Gua bisa ngerasa gak rela kalau ada cowok yang suka sama Dia?" Khafi tengah bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Luna menelisik, Ia terheran melihat tingkah suaminya. Luna yang merasa di abaikan, memilih untuk merebahkan tubuhnya dan segera tidur.


"Luna!" Seru Khafi yang membuat Luna batal terlelap.


"Apa?" Luna menjawab dengan kesal.


"Emm Kamu tidur di kasur, sana!" Pinta Khafi.


Luna mengerutkan keningnya, Ia seakan tak percaya dengan permintaan suaminya.


"Gimana maksudnya? Aku tidur di kasur? Sama Kamu? Atau Kamu mau tukeran, tidur di sofa?" Tanya Luna.


Khafi mendengus, Ia menatap Luna dengan tajam.

__ADS_1


"Tidur di kasur sekarang!" Seru Khafi.


Lĺuna tak banyak bertanya, Ia langsung menuruti perintah Suaminya dan tidur di salah satu sisi.


Khafi mengambil sebuah guling, dan menyimpannya di tengah-tengah tempat tidur. Tanpa banyak bicara, Khafi ikut merebahkan tubuhnya namun dengan posisi membelakangi Luna.


Luna tak mengerti mengapa Khafi bersikap aneh, namun Luna yang sudah merasa kantuk, memilih untuk segera tidur.


"Aku harus lakuin sesuatu nih," gumam Khafi, nyatanya Luna masih mengganggu pikirannya sampai Ia tak dapat tertidur pulas.


***


Pagi hari, Luna sudah bangun dan mandi lebih dulu. Ia melihat Khafi yang masih tertidur, dan berniat membangunkannya.


"Mas, bangun! Udah siang," ujar Luna sembari menepuk pelan lengab Suaminya.


Khafi mendudukan tubuhnya, dan menyandarkan punggungnya sejenak.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Khafi dengan setengah sadar.


Luna melirik ke arah jam dinding, "setengah tujuh," jawab Luna.


Khafi mengangguk, Ia pun menurunkan kakinya dan beranjak dari tempat tidur. Melihat Suaminya yang sudah bangun, Luna segera membereskan tempat tidur.


"Oh iya, tolong siapin baju kerja Aku!" Pinta Khafi sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Luna yang tengah melipat selimut, sontak menghentikan kegiatannya.


"Gak salah?" Tanya Luna, namun Khafi sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku? Mas Khafi bilang 'aku' tadi?" Luna masih tak percaya, Ia pun berjalan menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya dengan keras.


"Mas. Kamu gak salah nyuruh Aku ngambilin baju kerja?" Tanya Luna untuk memastikan.


"Nggak!" Teriak Khafi dari dalam.


"Serius? Tapi Aku harus siapin baju yang mana?" Tanya Luna.


"Yang mana aja!" Teriak Khafi lagi.


Luna tampak kebingungan, Ia langsung menuju lemari dan mencari baju yang menurutnya cocok untuk suaminya.


"Kemeja ini, jasnya ini, celana ini. Masuk gak, ya?" Luna menimbang.


"Ah udahlah, biarin aja. Siapa suruh minta disiapin baju, Aku kan belum tahu seleranya." Lunq tak peduli, baju yanh di pilihnya akan di pakai atau tidak. Luna kini melanjutkan membereskan tempat tidur, setelah itu Ia bermaksud untuk membuatkan kopi.


Di dalam kamar mandi, Khafi terlihat tak seperti biasanya. Ia tampak sedikit sumringah, dan raut wajah tegas terlihat sedikit melunak.


Selesai mandi, Khafi keluar dan melihat baju yang telah di pilihkan oleh Luna.


"Hemm, perpaduan warna yang lumayan masuk." Khafi segera memakai baju pilihan istrinya itu, namun ketika hendak memakai kemeja, tiba-tiba Khafi terdiam.

__ADS_1


"Lin. Salah gak sih yang Aku lakuin sekarang? Aku meminta wanita lain, untuk memilihkan baju. Dulu, Kamu yang selalu siapin baju untuk Aku. Aku rindu, Lin." Khafi memejamkan matanya, entah mengapa tiba-tiba Ia merindukan istrinya, Selina.


__ADS_2