Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Membuka Hati


__ADS_3

Luna berdiri di pinggir pantai, menatap ujung laut yang berkabut. Luna tak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini, yang Ia tahu, di kota itu Ia telah memberikan segalanya pada Khafi. Namun ada satu hal yang Luna khawatirkan, yaitu bagaimana dengan perasaan Khafi terhadapnya.


"Kenapa?" Tanya Khafi sembari membawa sebuah makanan.


Luna menoleh, Ia meraih makanan yang di belikan oleh suaminya itu. Luna diduduk, Ia menikmati makanan dan mengisi perutnya yang keroncongan.


"Kenapa gak di jawab?" Tanya Khafi lagi.


Setelah menelan makanan yang memenuhi mulutnya, Luna menatap ke arah Khafi dan berkata tentang apa yang Ia khawatirkan.


"Kenapa Kamu ngelakuin itu sama Aku, Mas?" Tanya Luna.


Khafi terdiam, Ia tengah mencerna pertanyaan yang di lontarkan oleh istrinya.


"Kenapa Kamu tanya soal itu?" Tanya balik Khafi.


"Aku butuh jawaban, bukan pertanyaan!" Seru Luna.


Khafi menghela nafasnya, Ia beralih menatap ke sembarang arah.

__ADS_1


"Karena Aku mau," jawab Khafi dengan jujur.


Luna mengernyit, "mau? Artinya, semua yang terjadi itu karena nafsu sesaat?" Tanya Luna.


Khafi menatap balik Luna, "nafsu sama istri sendiri... halal, kan?" Tanya Khafi.


Luna tak berkutik, kini gilirannya yang mengalihkan pandangan.


"Aku cuma khawatir," ujar Luna.


"Khawatir kenapa?" Tanya Khafi yang seakan ingin tahu apa yang tengah menjadi beban pikiran Luna saat ini.


Khafi terdiam, namun tak ada reaksi berlebihan yang di tunjukkan olehnya.


"Artinya Kamu normal. Maksudku, kalau Kamu hamil berarti gak ada masalah sama Kamu. Yang jadi pertanyaanku, kenapa Kamu harus khawatir?" Tanya Khafi.


Luna menghela nafasnya, "mungkin Aku bisa hidup dengan pria yang tidak mencintai Aku, tapi... Aku gak bisa melihat jika suatu saat anakku lahir, dan Ia tahu tak ada cinta dari sang ayah untuk ibunya." Luna menuturkan.


Kini Khafi paham, apa yang menjadi beban pikiran sang istri.

__ADS_1


Khafi merenung sejenak, entah apa yang Ia pertimbangkan.


"Aku ngerti, Kamu berhak mendapatkan apa yang menjadi hak Kamu, termasuk hati Aku sepenuhnya. Aku bisa berusaha dan mulai membuka hati untuk mencintai Kamu, tapi ada satu hal yang Aku minta."


"Apa?" Tanya Luna.


"Kalaupun suatu hari Aku jatuh cinta sama Kamu, Aku mohon. Biarkan Selina tetap ada di sisi lain hatiku, Dia berhak untuk memiliki ruang tertentu di dalam hatiku. Aku gak mungkin dan gak bisa untuk melupakan Selina," ujar Khafi.


"Aku gak pernah meminta Kamu untuk lupain Bu Selina, bahkan Aku juga gak berhak untuk menggantikan sosok Ibu bagi anak-anak Kamu sama Bu Selina. Aku juga punya satu permintaan, sisakan satu ruang khusus untuk Aku. Istri Kamu yang berjanji pada dirinya untuk taat dan menemani Kamu di sisa hidupnya," ucap Luna.


Khafi terdiam, tak ada kata yang sanggup Ia ucapkan. Khafi merasa jahat jika Ia terus mengabaikan kehadiran Luna, entah sejak kapan, Khafi juga merasa bahwa Ia membutuhkan Luna di hidupnya.


Luna terhentak, ketika Khafi memeluknya dengan tiba-tiba.


Namun apa yang Khafi lakukan, malah membuat Luna merasa nyaman.


"Mulai hari ini, mari jalani semuanya sebagaimana layaknya seorang pasangan!" Seru Khafi.


Luna tersenyum, Ia mengucap syukur bahkan air matanya menetes mendengar perkataan suaminya. Bahkan Ia tak dapat berkata-kata, Luna membalas pelukan sang suami dan menenggelamkan wajahnya di balik tubuh kekar sang suami.

__ADS_1


__ADS_2