
Khafi menatap ke arah Erik dan Luna secara bergantian, Ia merasa kesal mengapa bisa Erik berada di sekolah Nuka bersama istrinya.
"Ngapain Lo disini?" Tanya Khafi pada Erik.
"Oh, Gua nganter Luna. Tadi Dia dapet telepon kalau adiknya berkelahi di sekolah, Luna buru-buru harus ke sekolah jadi Gua anter. Lo sendiri, ngapain kesini?" Tanya balik Erik.
Khafi menatap ke arah Luna, dan Luna hanya bisa menundukkan wajahnya di depan Khafi.
"Kak. Aku ke kelas dulu, ya!" Nuka berpamitan karena Ia memiliki satu pelajaran lagi sebelum bel pulang sekolah.
Nuka mencium tangan Luna dan juga Khafi, Nuka melewati Erik begitu saja karena memang Ia belum mengenal Erik sebelumnya.
Erik menatap Nuka, juga menatap Luna yang terlihat begitu canggung.
"Jadi gimana? Udah selesai urusannya, Lun?" Tanya Erik.
"Emm, udah, Kak." Luna menjawab seadanya.
Khafi masih terdiam, menatap tajam ke arah Luna.
"Fi. Lo mau ngapain kesini? Gua sama Luna udah mau cabut, nih. Lo masih mau disini?" Tanya Erik.
Khafi tak menjawab, Ia tengah menahan marahnya agar tak meledak di depan Erik.
"Emm, Kak. Kakak pulang duluan aja, lagipula Kakak harus ke kantor, kan? Aku soalnya masih ada urusan disini," ujar Luna.
Erik mengerutkan keningnya, baru saja Luna berbicara bahwa urusannha selesai, namun sekarang Luna memintanya untuk pulang sendiri dengan alasan Ia masih memiliki urusan yang harus di selesaikan.
"Tapi katanya udah beres?" Tanya Erik.
"Emm, iya. Tapi ada yang mau Aku bicarain sama gurunya Nuka," dalih Luna.
__ADS_1
"Ya udah Aku tungguin aja!" Seru Erik.
"Eh, gak usah, Kak. Kakak duluan aja, takutnya Aku lama. Kakak juga belum bereskan kerjanya?" Tanya Luna.
"Rik. Lo keluar kantor dari jam berapa?" Tanya Khafi.
"Emm, lupa Gua." Erik berdalih.
"Lo bukannya ada kerjaan penting yang harus beres besok? Kenapa Lo malah keluar kantor? Gua gak mau ya project gede itu sampaj jatuh ke perusahaan lain!" Khafi mencari cara agar Erik pergi saat itu juga.
Erik terdiam, memang Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya hari itu.
"Tapi Luna..."
"Aku bisa pulang sendiri!" Seru Luna.
"Oh, gitu." Erik menatap ke arah Khafi, Ia masih mempertanyakan urusan Khafi di sekolah.
"Lo mau bereng ke kantor, Fi?" Tanya Erik.
"Oh, ok kalau gitu Gua duluan." Erik pun terpaksa pergi, walau sebenarnya urusannya dengan Luna belum selesai.
Setelah melihat mobil milik Erik pergi, Khafi segera mengajak Luna untuk pulang.
"Kita pulang!" Ajak Khafi dengan nada dingin.
Luna pun merasakan hawa yang beda, Ia tahu jika Khafi akan sangat marah padanya. Luna menerima semua kemarahan Khafi, karena memang Ia mengakui bahwa Ia telah melakukan kesalahan.
Di dalam mobil, Khafi tak bersuara sedikitpun. Luna pun belum cukup berani untuk memulai pembicaraan, Ia takut Mereka malah bertengkar di dalam mobil dan mengganggu fokus Khafi dalam melajukan kendaraannya.
"Semakin di bebaskan, semakin berani ya Kalian ketemuan di belakang Saya!" Seru Khafi yang memecah kesunyian.
__ADS_1
Luna menoleh, "maksud Mas apa? Aku gak berniat ketemuan sama Kak Erik di belakang Mas," ujar Luna.
"Terus tadi apa? Kamu sengaja gak ngasih tahu Saya soal masalah Nuka? Malah ngajak Erik segala!" Bentak Khafi.
Luna terkejut mendengar bentakan Khafi, nafasnya naik turun, matanya mulai berair.
"Biar Aku jelasin dulu. Tadi tiba-tiba Kak Erik ke rumah, terus Dia nanya soal ajakan Dia yang minta ketemu di taman. Dia tanya kenapa Aku gak dateng, padahal Dia udah nunggu lama." Luna menuturkan.
Khafi tersudut, Luna pun menatap Suaminya penuh tanya.
"Kata Kak Erik, Mas angkat telepon dari Dia. Kenapa Mas gak kasih tahu Aku?" Tanya Luna.
Khafi memalingkan wajahnya, Luna balik menyerangnya.
"Ya hak Saya lah mau ngasih tahu atau ngga!" Seru Khafi.
Luna mengerutkan keningnya, jawaban Khafi terdengar aneh di telinga Luna.
"Kok hak, Mas. Itu kan ponsel Aku, terus ada orang yang titip pesan harusnya Mas sampein ke Aku!" Seru Luna.
"Terus kenapa? Oh, Kamu nyesel gak ketemuan sama Erik malem itu, iya? Bener-bener ya istri macam apa, Kamu?" Bentak Khafi lagi.
Luna terdiam, matanya semakin memerah.
"Terus Mas sendiri suami macam apa, hah? Mas bersikap seolah Mas cemburu, ngekang Aku untuk ketemu untuk berkomunikasi sama laki-laki lain sedangkan Mas sendiri gak mau ngakuin kalau Aku ini istri, Mas! Suami macam apa Kamu, hah?" Luna balik membentak.
Khafi tak berkutik, terlebih ketika Ia melihat Luna yang mulai terisak.
"Kalaupun Mas kasih tahu ke Aku soal pesan itu, Aku juga gak akan pergi, kok. Aki tahu diri, Aku bisa jaga kehormatan Mas sekalipun Mas gak ngakuin Aku sebagai istri Mas di depan semua orang!" Lanjut Luna.
"Jadi Kamu keberatan soal peraturan yang Saya buat? Ya udah Kita batalin semuanya!" Seru Khafi.
__ADS_1
Kini Luna berbalik terdiam, Ia tak paham dengan apa yang di ucapkan suaminya barusan.
Khafi pun terlihat berusaha meredam amarahnya, namun Ia masih tetap kesal mendapati istrinya pergi dengan pria lain tanpa sepengetahuannya.