Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Cemburu


__ADS_3

"Emm...Aku." Luna tampak kebingungan.


"Kalian ngapain disini?" Tanya Khafi yang tiba-tiba datang menghampiri Luna juga Erik.


Luna menoleh, keduanya pun berdiri menghadap Khafi.


"Fi. Beres meetingnya?" Tanya Erik.


Khafi hanya mengangguk, raut wajahnya tampak tak suka.


"Awas Rena jatuh, tuh!" Seru Khafi pada Luna.


Luna pun menatap Rena yang tengah bermain, dan memilih untuk menyusul Rena.


"Aku susul Rena dulu," ucap Luna meninggalkan Khafi juga Erik.


Khafi masih tak bergeming, Ia hanya berdiri tegak sembari mendongakkan wajahnya.


"Lo kayaknya deket banget sama Luna," ujar Khafi.


Erik tertawa kecil, tatapannya kini beralih pada Luna yang tengah ikut bermain bersama Rena.


"Iya. Sebelum Gua kuliah, Kita sering banget berkabar. Shapira..."


"Luna!" Tegas Khafi.

__ADS_1


"Oh, Ok. Luna itu orangnya ramah banget, terus Dia itu mudah beradaptasi. Setiap orang yang kenal sama Luna, pasti bakal cepet nyaman." Erik menjelaskan bagaimana Luna di matanya.


"Berlebihan!" Seru Khafi.


"Berlebihan?" Erik menautkan kedua alisnya.


"Berlebihan gimana maksud, Lo? Lo mungkin belum kenal banget sama Luna, atau terlalu menutup diri. Jangan karena Luna cuma seorang baby sitter, Lo jadi jaga jarak sama Dia. Dia orangnya asik tahu!" Seru Erik.


Khafi semakin di buat tak nyaman dengan penuturan Erik, Ia tak suka karena Erik terlalu memuji istrinya.


"Rena. Makan siang dulu!" Pinta Khafi.


Luna menoleh mendengar teriakan Khafi, Ia langsung membujuk Rena untuk berhenti bermain.


"Lo mau makan siang dimana? Bareng deh," tanya Erik yang sejujurnya ingin mencuri waktu agar dapat lebih lama berbincang dengan Luna.


Luna berjalan menghampiri keduanya, tanpa berlama-lama Khafi pun mengajak Luna ke sebuah kantin di kantornya.


"Kita makan di luar kantor aja, Fi. Gimana?" Tanya Erik.


"Nggak. Kasihan Rena kepanasan," tolak Khafi.


"Oh. Ya udah deh di kantin juga boleh," ujar Erik.


Sesampainya di kantin, Khafi segera melihat daftar menu. Begitu pun dengan Erik, namun Luna masih sibuk membujuk Rena agar mau duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Luna, Aku pesenin moccacino dingin, ya. Kata Kamu itu minuman favorit, kan?" Tanya Erik.


"Oh, boleh, Kak." Luna tak menolak, namun Ia juga sempat memperhatikan sikap Khafi yang terlihat kesal.


"Kalau makannya, Kamu mau apa?" Tanya Erik.


Luna menatap ke arah Khafi, Ia bermaksud untuk meminta agar Khafi lebih peka padanya. Melihat sikap suaminya yang dingin, membuat Luna memilih untuk menanggapi Erik.


"Gimana Kakak aja, apapun makanan yang di pilih Aku pasti makan, kok." Luna menuturkan.


Khafi terlihat memalingkan wajahnya, dadanya pun tampak naik turun.


"Kalau Rena mau apa?" Tanya Erik.


"Rena gak boleh makan sembarangan, Dia punya cemilan sendiri dan makanan sendiri." Khafi menyela.


"Oh, gitu. Ok kalau gitu maaf," ucap Erik.


Luna menyuapi Rena lebih dulu sembari menunggu pesanan datang, Khafi terlihat sibuk dengan ponselnya. Berbeda dengan Erik yang terus menerus mencoba mendekati Luna, berbagai pertanyaan Erik lontarkan. Khafi yang hanya memainkan ponselnya asal, sudah merasa jengah dan pada akhirnya mengirim pesan pada Luna.


"Gak usah senyum-senyum gitu sama Erik, gak usah genit!" Khafi mengirimkan pesan itu pada istrinya.


Luna yang mendengar ponselnya berbunyi, langsung membuka pesan yang di kirim oleh suaminya.


"Kenapa? Cemburu?" Luna membalas pesan Khafi dengan nada menggoda.

__ADS_1


Khafi membaca balasan istrinya, reaksinya cukup membuat Luna menahan tawanya. Khafi menatap tajam ke arah Luna, dan Luna hanya menunduk menahan tawanya.


__ADS_2