Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Sia Sia


__ADS_3

Luna dan Khafi tengah menikmati hari pertama Mereka akur, keduanya memilih untuk makan bersama di sebuah resto yang dekat dengan pantai.


"Emm, boleh tanya?" Tanya Khafi.


"Heem, tanya apa?" Balas Luna sembari mengunyah makanannya.


"Emm, Erik pernah nembak Kamu?" Tanya Khafi.


Luna tersedak, Khafi segera menyodorkan minuman yang ada di depannya pada Luna.


"Minum!" Pinta Khafi.


Luna pun meneguk minuman untuk melegakan tenggorokannya.


"Emm. Kenapa nanya itu?" Tanya Luna.


"Kenapa emangnya? Gak boleh?" Tanya Khafi.


"Bukan gak boleh. Emm, sebenernya Kak Erik emang pernah nyatain cintanya sama Aku." Luna berucap apa adanya.


"Hah? Kapan? Kenapa gak bilang?" Tanya Khafi dengan sinis.


"Ya ini kan mau bilang, Mas. Emm Mas inget waktu Kak Erik ke rumah pas Kamu lagi di kantor? Nah, waktu itu Kak Erik nyatain cintanya sama Aku." Luna melanjutkan ceritanya.


Khafi menggebrak meja, membuat Luna terkejut dan memancing perhatian pengunjung resto.

__ADS_1


"Mas. Apaan sih?" Luna menatap Khafi dengan tajam.


"Terus Kamu jawab apa?" Tanya Luna.


"Ya Aku tolak lah!" Seru Luna.


"Beneran?" Tanya Khafi.


"Ya iyalah, Mas. Masa Aku terima, Aku kan udah punya suami. Ya walaupun Aku gak di anggap," ujar Luna.


Khafi merubah raut wajahnya, "jangan gitu dong, ini kan Aku lagi usaha buat bikin hubungan Kita lebih baik!" Pinta Khafi.


"Hemm iya deh, iya." Luna menjawab.


Luna terdiam sejenak, "jujur Aku juga punya perasaan sama Kak Erik." Luna menjawab, Khafi pun terkejut dan seakan tak terima dengan jawaban Luna.


"Tapi dulu, sebelum Kak Erik tiba-tiba ngilang. Terus sebelum Aku menikah, dan sekarang Aku mungkin udah gak bisa punya perasaan sama Kak Erik. Aku mau fokus sama rumah tangga Aku, sama Suami Aku, sama anak-anak Aku. Untuk Kak Erik, Aku harap Aku masih bisa berteman sama Dia." Luna memberi jawaban yang sejujurnya.


Khafi tertegun, begitu banyak hal yang Luna tinggalkan demi untuk menjalani kewajibannya sebagai seorang istri. Bahkan, Luna berusaha untuk menjadi Ibu yang baik untuk ketiga anaknya.


"Maaf, ya." Khafi berucap.


"Maaf, untuk apa?" Tanya Luna.


"Untuk semua yang pernah Aku lakuin, yang bikin Kamu sakit hati. Aku..."

__ADS_1


"Udahlah, Mas. Aku ngerti kok kenapa Kamu kayak gitu, pasti berat buat Kamu nerima perempuan baru bahkan yang tidak Kamu cintai untuk menjadi istri Kamu. Aku juga gak akan berharap banyak sama Kamu, Aku cuma mau ngejalanin tugas dan kewajiban Aku sebagai seorang istri." Luna menuturkan.


"Makasih." Khafi mulai merasa beruntung, Ia memiliki istri yang begitu tulus menerima dirinya.


***


Sedangkan di hotel lain, Erik dan Yuke memutuskan untuk keluar. Mereka berniat untuk mencari keberadaan Khafi dan Luna, keduanya enggan membiarkan Luna dan Khafi untuk berduaan lebih lama.


"Kita mau cari kemana sekarang?" Tanya Erik.


"Pokoknya cari ke semua hotel yang ada di Bali!" Seru Yuke.


"Hah? Serius?" Tanya Erik.


"Seriuslah. Kenapa gak mau? Ya udah Lo pulang aja!" Seru Yuke.


"Ya udah, deh. Hayu!" Ajak Erik.


Keduanya pun mendatangi hotel satu persatu.


Sudah beberapa hotel di datangi oleh Erik dan Yuke, namun belum membuahkan hasil.


Di sela perjalanan, Erik sempat terpikir kenapa Ia sampai melakukan hal sia-sia seperti sekarang ini.


"Apa Aku harus seperti ini? Apa Aku harus ngejar-ngejar Luna dengan cara barbar kayak gini?" Erik seakan merasa waktunya habis hanya untuk melakukan hal yang sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2