Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Kecewa


__ADS_3

Khafi tengah tertidur lelap di samping Luna, sedangkan Luna sendiri Ia masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya.


Luna mengintip pada balik selimut, Luna memejamkan matanya mendapati tubuhnya yang tak memakai sehelai bajupun.


"Astagfirulloh, ini beneran kejadian? Jadi sekarang Aku udah... Gak perawan," ucap Luna.


Ia mengingat lagi bagaimana Khafi menyentuhnya dengan lembut, Luna mengingat bagaimana Ia menatap wajah suaminya dengan jarak yang teramat dekat.


Luna melirik ke arah Khafi, Ia memandangi pria yang telah mendapatkan Ia sepenuhnya.


Tak terduga, Khafi berbalik ke arahnya dan bahkan mengulurkan tangannya hingga tanpa sadar menyentuh bahu Luna yang tengah menghadap ke arah Suaminya.


"Makasih, Lin." Khafi mengigau.


Sontak hal itu membuat Luna terhentak, Luna beranggapan bahwa Khafi saat melakukan hubungan suami istri dengannya, namun dalam bayangan Khafi Ia tengah melakukan hal itu dengan istri pertamanya, Selina.


"Mas. Kamu jahat banget!" Luna menepis tangan Suaminya yang berada di pundaknya, perbuatannya itu membuat Khafi terbangun dari tidurnya.


"Apa sih?" Khafi dengan setengah sadar, Ia tak tahu dengan apa yang telah di lakukannya.


"Jahat Kamu!" Bentak Luna.


Khafi tak mengerti, "jahat apa? Kamu ini kenapa, tiba-tiba bilang Saya jahat?" Tanya Khafi.


"Kamu pikir aja, Kamu lakuin hal itu sama Aku, tapi yang Kamu sebut itu nama Bu Selina. Apa namanya kalau bukan jahat?" Tanya Luna.


Khafi tak berkutik, Ia tak sadar jika dirinya sampai mengucapkan nama Selina di depan Luna bahkan setelah Ia melakukan kewajibannya pada Luna.


Sembari masih berbalut selimut, Luna segera memakai bajunya lagi dan berlalu menuju kamar mandi.


Khafi masih tertegun di tempatnya, Ia merasa bersalah pada Luna.

__ADS_1


"Kenapa Aku bisa ngomong gitu?" Khafi mengacak frustasi rambutnya, hubungan yang hendak di mulainya malah kembali buruk karena ulah yang tak di sengaja olehnya.


"Setelah ini, Aku harus berbuat apa? Luna pasti kecewa banget," gumam Khafi.


***


Hari menuju malam, Luna duduk di balkon hotel menatap langit yang gelap.


Sedangkan Khafi, Ia masih mencari cara untuk bisa meminta maaf pada istrinya.


Khafi berjalan mendekati Luna, Ia sempat merasa ragu namun tetap berusaha untuk mengajak istrinya berbicara.


"Emm, Aku mau makan. Kita cari makan dulu ke bawah!" Ajak Khafi.


"Aku gak laper!" Seru Luna dengan ketus.


Khafi terdiam, namun tiba-tiba terdengar suara sesuatu.


Luna mengernyitkan keningnya, perutnya berbunyi tanda Ia tengah kelaparan. Namun karena masih merasa kecewa pada Khafi, Ia memilih untuk berbohong.


"Udah gak usah pura-pura, perut Kamu bunyi. Aku mau cari makan, kalau mau ikut, ayo! Kalau nggak Aku tinggal, nanti kalau Kamu kelaperan tengah malem jangan nyalahin Aku!" Seru Khafi yang berpura-pura hendak meninggalkan Luna makan malam.


"Kalau nanti Aku kelaperan malem, gimana dong? Cari makan kemana?" Luna tengah menimbang.


"Aku ikut!" Seru Luna.


Khafi yang tengah memunggungi Luna, sontak tersenyum. Caranya berhasil membujuk Luna untuk ikut bersamanya, dan Khafi berharap Ia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Luna.


Sesampainya di restoran yang ada di hotel, Khafi segera memilih makanan.


"Mau makan sama apa?" tanya Khafi.

__ADS_1


"Sama apa aja, yang penting kenyang!" Jawab Luna.


Tiba-tiba pelayan resto menyela, "nah ini lain, Mas. Biasanya perempuan kalau di tanya mau makan apa, jawabnya terserah. Kalau Mbak ini, beda nih."


Khafi tertawa kecil, "emang Dia agak lain."


Luna menyipitkan matanya, mendengar dua orang yang tengah membicarakannya.


Tanpa sepengetahuan Luna dan Khafi, sedari tadi Erik tengah memperhatikan keduanya.


Setelah mendapat makanan, Khafi dan Luna segera mencari meja dan menyantap makanan.


"Emm, Luna." Khafi mencoba memulai perbincangan.


"Hemm." Luna menjawab dengan dingin.


"Aku... minta maaf soal..."


"Udahlah, gak usah di bahas!" pinta Luna.


"Tapi Aku beneran gak sengaja. Aku kan ngomong gitu pas lagi gak sadar," dalih Khafi.


Luna menaruh sendoknya, dan menatap Khafi dengan kesal.


"Sadar gak sadar, secara gak langsung Kamu emang gak bisa terima Aku, Mas. Bahkan setelah melakukan hal itupun, yang ada di ingatan Kamu itu cuma Bu Selina! Menurut Kamu, kalau Kamu yang ada di posisi Aku. Gimana?" Tanya Luna.


Erik yang mendengar perbincangan Luna dan Khafi, sontak penasaran dengan apa yang di maksud oleh perkataan Luna.


"Melakukan apa? Apa maksud Luna, Mereka udah..."


Erik mengepalkan tangannya, Ia tak terima jika memang Khafi telah menjamah perempuan yang di incarnya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2