
Pagi-pagi sekali, Khafi mengantarkan Alena ke Bandara. Di sana Khafi meminta Luna untuk mengabarinya setibanya Luna di rumah, Luna pun tampak berat meninggalkan Khafi sendiri di Bali.
"Mas, beneran Aku pulang duluan?" Tanya Luna.
Khafi mengangguk, "iya. Kamu pulang duluan!" Seru Khafi.
"Udah jangan cemberut gitu! Aku juga nanti nyusul pulang kok," lanjut Khafi.
"Hemm, iya deh."
Pesawat yang akan di tumpangi Luna akan segera berangkat, Khafi pun meminta Luna untuk bersiap.
"Udah mau berangkat, tuh! Gih!" Pinta Khafi.
Luna pun meraih tangan Khafi, dan menciumnya.
"Aku pulang!" Seru Luna.
"Iya."
Saat hendak berbalik, Luna kembali di tarik oleh Khafi dan Luna terkejut ketika Khafi memeluk dan mencium keningnya.
Luna tersenyum, Khafi pun melepas pelukannya dan memandang sang istri yang mulai berjalan berjauh.
Setelah pesawat yang di tumpangi Luna take off, Khafi bermaksud untuk segera mengunjungi Rumah sakit dimana Erik dan Yuke di rawat.
Sesampainya disana, yang pertama kali Khafi temui adalah Erik.
__ADS_1
Perlahan, Khafi membuka pintu ruangan Erik. Erik yang saat itu baru selesai di lakukan pemeriksaan, sontak terdiam ketika melihat kedatangan Khafi.
"Dok." Khafi menyapa Dokter yang hendak keluar dari ruangan.
"Kerabat pasien?" Tanya Dokter itu.
"Iya." Khafi menganggukkan kepalanya.
"Oh, syukurlah akhirnya pasien ada yang mengunjungi. Sebelumnya pasien menanyakan barangnya mungkun untuk menghubungi Bapak," ujar sang Dokter.
"Oh, begitu. Kalau boleh tahu, gimana kondisi sahabat Saya, Dok?" Tanya Khafi.
Mendengar Khafi yang masih menganggapnya sahabat, membuat Erik termenung.
"Bahkan disaat Aku tengah berkeinginan merebut istrinya, Dia masih menganggapku sahabat!" Erik bergulat dalam hatinya.
"Oh, lakukan yang terbaik untuk keduanya, Dok!" Pinta Khafi.
"Baik, Kami akan melakukan perawatan yang terbaik untuk mendukung kesembuhan pasien. Kalau begitu Saya pamit dulu," ujar sang Dokter.
Khafipun menganggukkan kepalanya, Ia mengantar dokter itu hingga ambang pintu.
Setelah itu, Khafi kembali berjalan mendekati sahabatnya.
Sekilas Khafi memperhatikan kondisi Erik, tatapan Khafi tertuju pada kaki Erik yang mengalami cedera.
"Gimana sekarang? Masih ada keluhan?" Tanya Khafi.
__ADS_1
Erik menggelengkan kepalanya, tampaknya Ia tengah merasa bersalah pada Khafi.
"Fi. Luna... Gimana?" Tanya Erik dengan ragu.
"Luna, baik. Dia udah pulang duluan ke Bandung," jawab Khafi.
"Pulang duluan? Tapi kenapa?" Tanya Erik.
"Gak kenapa-kenapa, rasanya disini Dia gak aman!" Sindir Khafi.
Erik terhentak, Ia memalingkan wajahnya karena rasa bersalahnya.
Khafi menatap Erik, Ia seakan tahu dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Erik.
"Kenapa? Ada yang mau Lo omongin soal kejadian beberapa hari yang lalu?" Tanya Khafi.
Erik menarik nafasnya dengan dalam, dan menghembuskannya dengan kasar.
"Soal itu... Gua minta maaf," ucap Erik.
"Ok. Minta maaf karena?" Khafi terus memancing agar Erik mau berkata jujur.
"Karena ulah Yuke yang udah berniat untuk menabrak Luna. Tapi sumpah, itu di luar dugaan Gua, Fi!" Seru Erik, mencoba meyakinkan Khafi dengan ceritanya.
Khafi terdiam, dugaannya ternyata benar. Khafi begitu kecewa terhadap Yuke, apa yang di lakukan Yuke adalah tindakan kriminal yang dapat membuat nyawa seseorang melayang.
"Kenapa Kalian membuntuti Kami sampai kesini?" tanya Khafi. Ia seakan geram dengan kelakuan dua temannya itu, pasalnya apa yang di lakukan keduanya menyangkut keselamatan sang istri yang bahkan tak memiliki salah apapun.
__ADS_1
Erik menundukkan wajahnya, Ia merasa sangat malu dengan apa yang telah di lakukannya beberapa hari ini.