Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Mencari Alasan


__ADS_3

Luna dan Erik kini telah berada di taman, dan benar saja Rena langsung meminta turun dari pangkuan Luna.


"Ain," ucap Rena dengan lucunya.


"Oh Rena pengen main? Ya udah, Ibu turunin, ya. Mainnya jangan lari-lari," ucap Luna.


Rena mengangguk, Ia pun terlihat berjalan bebas kesana kemari memetik bunga juga rumput yang ada di taman.


"Lucu ya," ucap Erik.


"Iya, Rena emang lucu banget, Kak." Luna menjawab tanpa melihat ke arah Erik. Berbeda dengan Erik, yang malah menatap tulus ke arah Luna.


"Oh iya, Kakak kenapa tiba-tiba ngilang gak ada kabar?" tanya Luna.


"Oh, itu. Iya Aku minta maaf, sebenarnya waktu itu Aku berangkat kuliah ke luar negeri. Sehari disana, tadinya Aku mau ngabarin Kamu tapi ternyata hpku malah hilang. Jadi ya Aku gak bisa hubungin Kamu bertahun-tahun sampai akhirnya Aku gak nyangka banget bisa ketemu Kamu lagi," ujar Erik.


"Ya ampun, gitu ya. Pantas saja Kakak tiba-tiba ngilang gitu aja, Aku kira Kakak gak mau kenal lagi sama Aku." Luna menuturkan.


"Gak mungkinlah Aku gak mau kenal orang sebaik Kamu," jawab Erik.


Luna tersipu, "kakak jauh lebih baik dari Aku."

__ADS_1


Erik tersenyum, "oh iya, Ibu sama Bapak Kamu apa kabar?" tanya Erik.


Raut wajah Luna berubah seketika, Ia kini terlihat menundukkan pandangannya. Melihat perubahan sikap Luna, membuat Erik merasa tak enak hati.


"Kamu kenapa? Apa pertanyaan Aku ada yang nyinggung Kamu?" Tanya Erik.


Luna menggelengkan kepalanya, "Ibu sama Bapak, sudah meninggal, Kak." Luna menjawab dengan lirih.


Erik tampak terkejut dan tak percaya, "meninggal? Ya Ampun maaf, Aku gak tahu soal itu." Erik semakin merasa tak enak hati.


"Gak apa-apa, Kak." Luna tampak kembali menampilkan senyumanya.


"Emm kalau boleh tahu, karena apa?" tanya Erik dengan hati-hati.


"Ibu sama Bapak kecelakaan, pas di hari kelulusan Aku." Luna kembali terlihat murung, Ia selalu menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa kedua orang tuanya.


"Andai Bapak sama Ibu gak Aku minta untuk hadir di acara kelulusanku, mungkin Bapak sama Ibu masih ada." Luna kini menangis pelan.


Dengan ragu, Erik mengangkat tangannya dan mengusap pelan punggung Luna.


"Hus! Gak usah ngomong gitu. Semua udah takdir, Kamu gak boleh merasa bersalah atas kejadian yang menimpa orang tua Kamu." Erin mencoba menenangkan Luna.

__ADS_1


Luna mengangguk, kedua bibirnya mengatup menahan tangisnya agar tak terus menderas.


"Iya. Sekarang Aku sudah ikhlas, Kak. Aku juga mau buktiin sama Bapak sama Ibu, kalau Aku bisa kuat walau gak ada Mereka."


"Bagus. Itu memang harus Kamu lakukan, lanjutkan hidup Kamu dan buktikan sama kedua orang tua Kamu bahwa Kamu bisa membanggakan Mereka di surga sana!" Seru Erik.


Tanpa keduanya sadari, sedari tadi Khafi diam-diam memperhatikan keduanya. Ia memilih untuk mengintip, tanpa berniat untuk menghampiri istri juga sahabatnya itu.


"Mereka lagi ngomongin apa, sih? Kenapa juga si Erik pake acara ngelus punggung Luna segala!" Seru Khafi yang masih menajamkan matanya untuk memperhatikan istri juga sahabatnya dari jauh.


"Emm, udah lega?" Tanya Erik.


Luna menghapus air matanya, Ia lalu kembali tersenyum di depan Erik.


"Emm, lumayan. Maaf ya Kak, jadi terbawa suasana gini." Luna berucap.


"Gak apa-apa." Tanpa sengaja, Erik memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis Luna dan sontak hal itu memantik rasa penasaran.


"Lun. Kalau boleh tahu, Kamu... udah nikah, atau masih single?" Erik bertanya dengan ragu, namun Ia tetap melanjutkan niatnya.


Luna terdiam, Ia menelan salivanya.

__ADS_1


"Duh, Aku harus jawab apa, ya?" Luna tengah mencari jawaban untuk menutupi statusnya, namun Ia seakan berat jika harus berbohong pada Erik.


__ADS_2