
Luna telah di pindahkan ke ruang rawat, sedangkan bayinya masih di ruangan yang berbeda.
Khafi terus menemani sang istri, sedangkan Ibu juga mertuanya yang tengah menemani bayi Mereka.
Tak lama Luna mulai bertenaga setelah menjalani beberapa tindakan, Ia menanyakan bagaimana keadaan bayinya.
Khafi memberitahukan bahwa sang bayi lahir dengan sehat dan sempurna, Luna sangat bersyukur mendengar hal itu.
"Kamu gimana sekarang? Udah enakan?" Tanya Khafi, baru kali ini Ia menemani persalinan yang berbeda dari istri pertamanya. Luna begitu membuat Khafi khawatir, bahkan sejak bayi Mereka masih di dalam kandungan.
"Udah lumayan enakan, tapi badan Aku gak enak banget. Pengennya tuh mandi, Mas." Luna menuturkan.
"Pengen mandi? Emm gimana ya? Nanti ya, nunggu perawat dulu, biar Mereka nanti yang bantu mandiin Kamu!" Seru Khafi.
"Tapi kapan? Aku udah gerah banget," ucap Luna.
"Iya sabar dong!" Pinta Khafi, tak lama seorang perawat datang untuk mengecek tensi darah Luna.
"Nah, itu perawat dateng. Sus, istri Saya pengen mandi katanya!" Seru Khafi.
"Oh, boleh. Tapi gak bisa sekarang, besok pagi aja, ya Bu!" Seru Perawat sambil melakukan tugasnya mengecek tekanan darah Luna.
__ADS_1
"Kenapa besok, Sus?" Keluh Luna.
"Coba, Ibu duduk, bisa?" Tanya perawat itu. Luna di bantu oleh Khafi, Ia pun berusaha untuk duduk.
"Aw. Pelan-pelan, Mas." Luna merasakan nyeri pada bagian belakang tubuhnya.
Khafi sangat berhati-hati, namun tetap saja Luna terus meringis.
Setelah Luna berhasil duduk, Ia merasakan tidak nyaman.
"Kenapa?" Tanya Khafi.
"Sakit banget," sahut Luna.
"Oh, ya udah kalau gitu, Sus." Luna akhirnya mau menunggu hingga esok hari, walau sejujurnya badannya terasa sangat lengket akibat dari keringat sewaktu melahirkan.
Semetara itu, Khafi menatap Luna dengan penuh haru.
"Kenapa, Mas?" Tanya Luna.
Khafi menggelengkan kepalanya, Ia lalu mengelus dan merapihkan rambut Luna yang sedikit berantakan.
__ADS_1
"Eh, rambutku acak-acakan, ya?" Luna ikut merapihkan rambutnya.
"Ngga, udah cantik lagi kok." Khafi membuat Luna langsung terdiam.
"Makasih, ya. Kamu udah berjuang, Kamu udah rela bertaruh nyawa untuk bayi Kita." Khafi menuturkan.
Luna tersenyum, Ia lalu meraih tangan Khafi.
"Semua Ibu akan melakukan hal yang sama demi buah hatinya," ujar Luna.
Khafi mengangguk, "iya. Tiga kali Aku nemenin Selina lahiran, tapi waktu itu keadaan Selina gak seperti Kamu. Tiga kali Dia melahirkan caesar, selama menunggu jam operasi Kita masih bisa ngobrol santai, ketawa-ketawa. Sedangkan sekarang, Aku baru ngerasain setakut ini." Khafi berucap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku lihat keringat Kamu yang begitu banyak, darah yang mengalir entah seberapa banyak. Luka yang Kamu dapatin setelah anak Kita lahir, dan rasa sakit setelahnya juga. Aku bener-bener takut tadi, Aku takut Kamu..."
"Mas. Aku sekarang baik-baik aja, Aku masih ada di depan Kamu, Aku juga akan berjuang untuk cepat pulih agar bisa ngurusin Kamu lagi, sama anak Kita juga." Luna mencoba untuk menenangkan hati Khafi.
Khafi melakukan hal tak terduga, Ia berhambur memeluk istrinya bahkan sampai menitikan air mata tanpa sepengetahuan Luna.
"I love you," ucap Khafi dengan lirih.
Luna terseyum, Ia membalas pelukan erat dari suaminya.
__ADS_1
"I love you more."