
Luna baru saja selesai melakukan pemeriksaan, Khafi merasa lega karena tak ada hal serius yang di alami oleh istrinya.
Masih terlihat jelas wajah pucat Luna, Ia masih mengingat bagaimana laju kendaraan yang di bawa Yuke begitu kencang hendak menghantam dirinya.
Luna terduduk lesu di ruang tunggu, tangannya mengepal, tatapannya tampak kosong.
"Hey!" Khafi duduk di samping Luna.
Luna menoleh dengan reaksi datar, Khafi merangkul tubuh istrinya yang masih begitu lemas.
"Kenapa ngelamun?" Tanya Khafi.
Luna menghela nafasnya, "Mas. Gimana ya kondisi Mbak Yuke sama Kak Erik?" Luna masih memikirkan kondisi kedua orang itu. Bahkan Luna tak menyadari, bahwa semua itu terjadi atas kesengajaan Yuke yang ingin mencelakainya.
"Udah di tangani Dokter, Kita tunggu aja kabarnya. Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa kebetulan mobil yang di kemudikan Yuke hampir mau nabrak Kamu. Padahal Kamu udah nyebrang loh, dan pasti si Yuke juga lihat Kamu yang mau nyebrang. Aku curiga semua ini ada unsur kesengajaan!" Seru Khafi.
"Mas. Jangan suudzon dulu!" Pinta Luna.
__ADS_1
"Aku bukan suudzon, tapi emang feeling Aku kuat untuk kejadian sekarang ini. Aku gak bisa diem aja kalau emang benar semua ini ulah Yuke dan Erik!" Seru Khafi.
Luna terdiam, Ia tahu jika Yuke memang sangat tak menyukainya. Tapi sampai detik ini, Luna tak pernah memiliki pikiran bahwa Yuke akan berbuat sejauh ini padanya.
"Kalau iya ini ada unsur kesengajaan, kenapa Mbak Yuke sampai tega mau celakai Aku?" Tanya Luna.
Khafi menghembusjan nafasnya dengan kasar, "yang pasti, Dia akan ngelakuin apa aja untuk mendapatkan apa yang Dia mau!" Seru Khafi.
Luna kembali termenung, jawaban Khafi memang masuk akal. Yuke sangat menginginkan Khafi, dan Luna tahu bahwa Yuke akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan Khafi.
"Mas. Aku mau lihat Kak Erik!" Pinta Luna.
"Ya udah Kita ke ruang UGD, Kita cari tahu kondisi Mereka."
Khafi pun mengajak Luna menuju ruang dimana Erik dan Yuke di tangani, Ia juga merasa khawatir dengan kondisi Erik. Bagaimanapun Khafi dan Erik sudah berteman sejak lama, Ia tak mungkin membiarkan Erik sendirian dalam kondisi seperti ini.
Khafi dan Luna sudah sampai di depan ruang UGD, sekilas Khafi melihat dari kaca pintu beberapa Dokter yang tengah menangani Erik dan Yuke.
__ADS_1
Tak lama, seorang perawat keluar dari ruangan dan tampak mencari seseorang.
"Maaf, Mas dan Mbak saudara dari kedua pasien bukan?" Tanya perawat itu pada Khafi dan Luna.
"Iya, Dok. Saya kerabat Mereka," sahut Khafi.
"Oh, baik. Kondisi keduanya mulai stabil, dan akan segera di pindahkan ke ruang rawat. Mohon untuk segera mengurus administrasinya!" Pinta perawat itu.
"Oh, baik. Sekarang akan Saya urus," jawab Khafi.
"Ya sudah, terima kasih!" Seru perawat itu dan kembali masuk ke dalam ruangan.
"Kamu tunggu disini, Aku ke bagian administrasi dulu!" Khafi membantu Luna untuk duduk di kursi tunggu yang tersedia, Ia pun bergegas pergi untuk mengurus segala sesuatunya.
Luna masih terduduk lesu, sesekali Ia melirik ke arah ruang UGD.
"Apa Mbak Yuke berniat untuk bunuh Aku?" Luna masih memikirkan apa yang menjadi kecurigaan Khafi terhadap kejadian yang menimpa dirinya.
__ADS_1
Ia merasakan takut, jika suatu hari Yuke akan kembali mencoba untuk mencelakainya.