
Malam ketiga di rumah sakit, Yuke sadar. Ia merasakan badannya begitu kaku, Yuke melirik sekilas beberapa bagian tubuhnya yang memakai perban, Ia kesulitan bergerak ketika mendapati lehernya yang teramat nyeri.
Saat itu seorang perawat masuk untuk mengecek tekanan darah Yuke, Ia segera memanggil Dokter saat mendapati Yuke yang telah sadar.
Tak lama, Dokter datang dan mengecek kondisi Yuke.
Dokter menanyakan beberapa hal pada Yuke, termasuk apa yang tengah Ia rasakan saat itu.
"Sedikit pusing," ucap Yuke dengan terbata-bata. Ia merasa lehernya berat, Ia juga susah untuk menoleh.
"Mbak. Ada seseorang yang menitipkan surat ini untuk Mbak," ucap perawat.
"I-ini, dari siapa, Sus?" Tanya Yuke dengan suara yang berat.
"Emm Saya kurang tahu, yang jelas Dia laki-laki." Perawat itu menuturkan.
Perlahan, Yuke mengarahkan kertas itu ke depan wajahnya. Ia pun membaca tulisan yang ada, begitu terkejutnya Ia setelah membaca pesan itu.
__ADS_1
"Sus, apa orang ini kesini lagi?" Tanya Yuke.
"Belum, Mbak. Dia kesini sekitar dua hari yang lalu," ucap Perawat itu.
Yuke terdiam, seketika Yuke tampak begitu cemas. Ia membaca surat yang di tulis oleh Khafi, dan Yuke sangat ingin untuk bertemu dengan Khafi.
"Gimana kalau Khafi tahu Aku sengaja untuk menabrak Luna? Gimana kalau Khafi benci sama Aku? Atau gimana kalau... Khafi melaporkan Aku ke polisi? Nggak! Gak bisa! Khafi gak bisa laporin Aku ke polisi karena Dia gak punya bukti!" Seru Yuke dalam hatinya, Ia begitu takut jika harus berurusan dengan polisi.
"Erik. Sus, teman Saya yang ikut terlibat kecelakaan, gimana kondisinya?" Tanya Yuke.
"Oh, teman Mbak sudah sadar lebih dulu. Kondisinya semakin hari semakin membaik," jawab perawat.
"Sus. Saya mau ke ruangan teman Saya!" Pinta Yuke.
"Oh, belum bisa, Mbak. Kondisi tulang leher Mbak belum cukup aman untuk banyak bergerak, nanti kalau kondisi Mbak semakin membaik, Mbak boleh mengunjungi teman Mbak." Perawat menuturkan.
Yuke kecewa, kondisinya membuat Ia tak dapat berbuat banyak.
__ADS_1
Sementara itu, Erik tertegun setelah Ia bisa menghubungi Luna.
Erik teringat dengn ucapan Luna semalam, Erik bahkan sampai tak bisa tidur karenanya.
"Apa yang harus Aku lakukan?" Erik bertanya-tanya.
Semalam Erik mencoba menghubungi Luna, dan kenyataannya Luna tak marah padanya. Namun Luna malah bersikap lembut pada Erik, yang membuat Erik memikirkan hal itu semalaman.
"Kak, Aku gak tahu apa yang sebenarnya Kakak dan Mbak Yuke rencanakan. Tapi yang pasti, Tuhan masih menjaga Aku. Tentunya, Tuhan juga masih memberi kesempatan pada Kakak untuk tidak menjadi orang yang jahat, hanya karena sebuah nafsu yang tak bisa Kakak bendung. Aku tahu, Aku salah telah menyembunyikan status pernikahan Aku sama Mas Khafi, tapi semua itu Aku lakukan karena suatu hal yang gak bisa Aku jelaskan. Aku dan Mas Khafi menikah karena wasiat dari mendiang Bu Selina, tentunya awal menikah tak ada rasa diantara Kita.
Tapi setelah menikah, Aku sudah memutuskan untuk mencintai suamiku. Begitupula Mas Khafi, Aku bersyukur Dia sudah mau menerima Aku sebagai istrinya dan memperlakukan Aku dengan baik. Untuk perasaan Kakak sama Aku, Aku ngucapin terima kasih. Kalau boleh jujur, dulu Aku juga menaruh hati sama Kakak. Bahkan sebelum menikah dengan Mas Khafi mungkin rasa itu masih ada, tetapi setelah menikah Aku gak bisa lagi menaruh hati pada laki-laki selain suamiku. Aku harap, Kakak mengerti itu. Walaupun Aku gak bisa jadi milik Kakak, setidaknya apa Kita bisa masih bisa menjadi sahabat? Kakak orang yang begitu baik, Aku merasakan banyak kebaikam dari Kakak. Dan Aku berharap, kebaikan itu tidak berubah menjadi sebuah kejahatan yang di sebabkan oleh hasutan orang yang hanya ingin menghancurkan hubungan Kita. Kak, untuk kejadian waktu itu, Aku harap Kakak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan jika ada kesengajaan, semoga Kakak maupun Mbak Yuke mau bertanggung jawab, Aku hanya gak mau Kaliam hidup dengan rasa yang tak tenang karena kesalahan yang Kalian tutupi. Setelah itu, Aku juga bisa memaafkan Kalian, dan tentunya berharap hubungan Kita jauh lebih baik dari sebelumnya."
Erik termenung, ucapan Luna begitu melekat di benaknya. Ia begitu terenyuh dengan sikap Luna padanya, bahkan setelah Ia dan Yuke hampir meregang nyawanya.
"Aku harus lakukan itu!" Seru Erik.
Ia pun tampak meraih ponselnya, dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo. Kantor polisi?"