Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Kejutan


__ADS_3

Khafi telah sampai di depan rumahnya, Ia sengaja tidak memasukan mobilnya ke dalam rumah. Khafi berjalan pelan-pelan masuk ke dalam rumah, Ia juga meminta Bi Yuni tutup mulut ketika berpapasan dengannya di ambang pintu.


Khafi menemui Ibu, ayah, juga mertuanya yang kebetulan tengah berada di ruang keluarga.


Saat muncul, Khafi meminta semua untuk tidak bersuara.


"Fi. Pulang gak bilang-bilang!" Seru Pak Seno.


"Sstt! Luna sama anak-anak dimana, Pah?" Tanya Khafi sembari memelankan suaranya.


"Ada di kamar Ica, sama Brian. Kalau Rena lagi tidur," jawab Bu Windi yang ikut memelankan suaranya.


"Fi. Duduk dulu!" Pinta Bu Nuri.


Khafi pun duduk, mertua juga orang tuanya langsung menanyakan tentang kabar yang menimpa Yuke dan Erik.


"Iya, Pah, Mah. Aku mau kasih tahu, kalau Yuke resmi di tetapkan jadi tersangka!" Seru Khafi.


"Apa? Jadi Dia memang sengaja mau celakai Luna?" Tanya Bu Nuri.


Khafi mengangguk, hal yang membuatnya lebih kecewa adalah Erik.


"Yang bikin Aku kecewa, bukan cuma Yuke. Tapi Erik!" Lanjut Khafi.


"Erik? Memangnya Dia ngelakuin apa?" Tanya Pak Seno.


Khafi menunduk, kembali Ia mengingat bagaimana usaha Erik untuk bisa mendapatkan Luna. Khafi juga mengingat, bagaimana usaha Erik yang sampai menyusul dan menguntitnya hanya untuk menggagalkan bulan madunya bersama Luna.


"Erik... Suka sama Luna, jauh sebelum Luna datang ke rumah ini. Dan mungkin juga Luna punya perasaan yang sama, tapi itu terjadi sebelum Luna nikah sama Aku. Erik kecewa, Ia merasa di bohongi sama Aku dan Luna yang menyembunyikan status pernikahan Kita dari Dia. Erik bahkan nyusul Aku sama Luna ke Bali, disana Yuke dan Erik berniat untuk mengganggu bulan madu Kami. Sampai pada akhirnya Aku tahu bahwa Erik ngikutin Kita, Aku putusin buat pindah hotel tanpa sepengetahuan Mereka. Tapi di jalan, tiba-tiba aja Yuke melihat Luna yang waktu itu hendak menyeberang jalan. Aku gak tahu apa yang ada di pikiran Yuke, Dia menacap gas sampai hampir menabrak Luna." Khafi menjelaskan.


"Tapi kenapa bisa sampai Mereka yang kecelakaan, sedangkan Luna baik-baik aja?" Tanya Bu Windi.


Khafi menghela nafasnya, hal itulah yang menjadi beban dalam pikiran Khafi saat ini.

__ADS_1


"Ya. Semua itu berkat Erik, Dia sadar kalau Yuke berniat menabrak Luna. Dengan cepat Erik merebut kemudi, Dua banting stir sampai mobil itu menabrak pembatas jalan bahkan terpental dan berguling beberapa kali. Erik mengalami luka yang cukup serius, tapi Yuke. Luka Dia malah lebih serius dari Erik. Beberapa hari Aku nemuin Erik dan Yuke di rumah sakit, Aku coba untuk menanyakan kejadian sebenarnya pada Erik karena pada saat itu kondisi Erik lebih dulu stabil di banding Yuke. Erik menceritakan semuanya, bahkan Dia juga yang melakukan perbuatan Yuke ke polisi. Status Erik sekarang masih sebagai saksi," lanjut Khafi.


"Astaga. Kenapa si Yuke sampai tega berbuat hal kayak gitu? Apa Dia udah gila!" Hardik Bu Nuri.


"Yuke suka sama Aku sejak dulu, bahkan Dia semakin menjadi saat Selina sempat memintanya untuk selalu di samping Aku kalau terjadi apa-apa sama Dia. Tapi sayangnya, Selina bertemu dengan Luna dan melupakan perkataannya itu. Yuke gak terima, makannya Dia sampai bertindak sebodoh ini!" Seru Khafi.


"Mamah udah sadar sejak dulu, sejak masih ada Selina. Ternyata kebaikannya itu pada Selina karena ada maunya!" Seru Bu Nuri.


Khafi mengangguk, "ya. Aku gak nyangka kenapa semua ini bisa sampai terjadi, dua orang yang Aku anggap sahabat, malah berbiat untuk menghancurkan pernikahan Aku, bahkan sampai berniat mencelakai Luna." Khafi menuturkan.


"Hati manusia itu gak ada yang tahu, Fi. Ya udah, sekarang Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Fokus sama rumah tangga Kamu aja, sekarang lebih baik Kamu temui istri juga anak-anak Kamu. Mereka pasti seneng lihat Kamu pulang!" Pinta Bu Windi.


Khafi mengangguk, Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan beralih menuju kamar putrinya.


Sesampainya di depan pintu kamar Ica, Khafi mengetuk pintu. Ica yang mendengar ketukan, bermaksud untuk membukakan pintu.


Saat pintu di buka, Ica refleks berjingkrak karena merasa senang melihat sang ayah pulang. Namun dengan cepat Khafi meminta putrinya untuk tidak berisik.


"Ibu di dalam, lagi beresin buku-buku." Ica menjawab dengan balik berbisik.


"Kalau Kak Brian?" Tanya Khafi lagi.


"Kak Brian, ada. Mau Aku panggil?" Tanya Ica.


Khafi mengangguk, "panggil, Kak Brian tapi jangan sampai Ibu tahu kalah Papah udah pulang. Bisa?" Tanya Khafi.


Ica mengangguk, Ia pun kembali masuk ke dalam kamar untuk memanggil Brian.


"Kak. Keluar sebentar yuk!" Ajak Ica.


"Mau apa?" Tanya Brian.


"Udah hayu!" Bujuk Ica.

__ADS_1


"Mau apa sih, Ca?" Tanya Luna.


"Emm, Ibu tunggu disini dulu, ya!" Pinta Ica.


Tanpa rasa curiga, Luna menuruti permintaan Ica.


Brian pun ikut keluar kamar bersama Ica, dan Brian pun berreaksi sama ketika melihat sang ayah berada di luar kamar.


"Pap!"


"Ssst!" Pinta Khafi.


"Ibu gak tahu kan kalau Papah pulang?" Tanya Khafi dengan berbisik.


Brian menggelengkan kepalanya, Ia pun meminta izin pada kedua anaknya untuk menemui Luna.


"Papah nemuin Ibu dulu, boleh?" Tanya Khafi.


"Boleh dong," bisik Brian.


Brian dan Ica pun membiarkan sang ayah untuk menemui Ibu sambung Mereka, keduanya sangat senang karena sang ayah telah kembali ke rumah dengan selamat.


Khafi masuk ke dalam kamar, Luna yang tengah membereskan buku-buku, tak menyadari kedatangan sang suami.


Bruk!


Buku yang Luna pegang terjatuh, ketika tiba-tiba Khafi memeluknya dari belakang.


"Hay!" Bisik Khafi pada telinga Luna.


Luna menoleh, wajah Khafi kini berada sangat dekat dengan wajahnya.


"Mas."

__ADS_1


__ADS_2