
Setelah beberapa bulan lamanya, Yuke yang semakin membaik, harus menghabiskan waktunya di dalam sel dalam waktu dua tahun di kurangi masa tahanan.
Sementara Erik, Ia telah kembali ke Bandung. Berusaha untuk menjalani kehidupannya seperti semula, dan menjalani pekerjaannya lagi.
Sedangakan Khafi, Ia juga berusaha untuk berdamai dengan Erik.
Khafi bersikap sewajarnya, namun Erik terlihat sedikit canggung dari biasanya.
"Emm, Luna gimana sekarang? Di rumah aja?" Erik mencoba untuk mencairkan suasana.
"Heem, Luna kan emang biasanya di rumah. Dia punya keinginan pengen kuliah," jawab Khafi.
"Terus? Jadi kuliah?" Tanya Erik.
Saat tengah asik menikmati makan siangnya, tiba-tiba saja Khafi terdiam.
Khafi mengingat, beberapa minggu ini Luna sering mengeluh sakit di bagian bawah perutnya.
Khafi teringat pada ucapan dokter yang menangani istrinya, Khafi sering memaksa Luna untuk berobat namun selalu menolak.
"Kenapa diem?" Tanya Erik.
"Sebenernya, Gua juga gak tahu sih kondisi Luna. Akhir-akhir ini Dia sering ngeluh sakit, di ajak berobat gak mau. Beberapa kali harus masuk rumah sakit setiap kali datang bulan. Gua bener-bener khawatir, tapi Gua gak bisa berbuat banyak. Luna selalu menolak buat periksa," ujar Khafi dengan wajah cemas.
"Kalau gitu Lo paksa dong, Fi. Gimana kalau sakitnya serius terus Kita anteng-anteng aja? Penyakit yang gak terlihat mata itu harus lebih di perhatiin, Fi!" Seru Erik.
Khafi mengangguk, rasanya perkataan Erik memang ada benarnya.
"Lo bener sih, nantilah Gua ajak Luna buat ke rumah sakit lagi."
***
__ADS_1
Di rumah, Luna tengah berbaring di tempat tidur. Ia merasakan perutnya yang kembali kram, Luna menekan kuat bagian bawah perutnya.
"Astagfirulloh. Kenapa sakit banget," rintihnya.
Luna bermaksud untuk mengambil air minum yang ada di atas nakas, namun rasa sakit yang Ia rasakan begitu hebat.
Dan, Prang!
"Ah!" Luna terjatuh, nyeri di perutnya membuat Luna tak sadarkan diri.
Mendengar suara gaduh di dalam kamar Luna, Bu Nuri yang saat itu tengah menaiki tangga untuk menuju kamarnya, sontak menoleh dan berjalan cepat mencari sumber suara.
"Kayaknya di kamar Luna!" Serunya, Bu Nuri mempercepat langkahnya, dan segera membuka pintu kamar Luna.
"Luna!" Teriak Bu Nuri yang melihat Luna tergeletak di lantai dengan serpihan gelas di sekelilingnya.
"Astaga, Luna!" Bu Nuri semakin histeris ketika mendapati pelipis Luna yang tertusuk serpihan gelas.
Karena lama, Bu Nuri berlari keluar kamar dan berteriak sekencang mungkin.
"Tolong!" Teriak Bu Nuri.
Supir pribadi yang selalu ada di rumah segera berlari mendengar suara teriakan Bu Nuri.
"Iya, Bu. Kenapa?" Sahut Pak Ucup.
"Panggilin Ibu Windi dulu cepet!" Pinta Bu Nuri.
Pak Yusuf beralik, Ia berlari mencari keberadaan Bu Windi.
Pak Yusuf menuju halaman belakang, dan benar saja Bu Windi tengah berolahraga di halaman belakang.
__ADS_1
"Bu, Bu!" Teriak Pak Yusuf.
Bu Windi yang tengah mendengarkan musik, sontak mematikan musiknya dan menanyakan mengapa Pak Yusuf berteriak.
"Apasih, Cup!" Bentak Bu Windi.
"Itu Bu Luna!" Seru Pak Yusuf.
"Hah? Luna kenapa?" Mendengar itu, Bu Windi langsung berlari mendahului Pak Yusuf dan mengecek kondisi Luna.
"Nuri, kenapa Luna?" Tanya Bu Windi.
"Astaga, Luna." Bu Windi terkejut melihat kondisi Luna.
"Cup, angkat Luna! Kita ke rumah sakit sekarang!" Pinta Bu Windi.
Pak Yusuf mengangguk, Ia langsung berlari memangku Luna dan membawa ke mobil.
"Astagfirulloh, Bu Luna." Bi Yuni ikut terkejut melihat Luna yang tak berdaya.
Tak ada sahutan, namun Bu Nuri meminta Bi Yuni untuk menjaga rumah dan Rena.
"Yun, jaga rumah. Titip Rena, nanti Ica sana Brian pulang langsung Kamu urus, ya!" Pinta Bu Nuri.
"Baik, Bu." Bi Yuni menjawab.
Pak Yusuf dan yang lainnya, kini tengah di perjalanan menuju rumah sakit. Tak ada satupun yang mengingat untuk mengabari Khafi ataupun Pak Seno saat itu, semua fokus pada kondisi Luna dan ingin segera sampai di rumah sakit.
Di kantor, Khafi merasa tak enak hati. Beberapa kali Khafi menghentikan aktifitas pekerjaannya, bahkan Khafi yang biasanya jarang minum, kini telah menghabiskan beberapa botol air mineral.
"Ini kenapa sih, gak enak banget perasaan!" Keluh Khafi.
__ADS_1