
Khafi telah berada di Bali selama lebih dari dua minggu, beberapa hari terakhir pihak kepolisian mencari bukti tentang kejahatan Yuke, Mereka juga telah berhasil mengecek kamera yang ada di mobil yang di gunakan oleh Yuke dan Erik.
Hasil yang temukan ialah, beruapa suara dimana Erik melarang Yuke menabrak Luna juga kecepatan mobil yang melaju begitu cepat dan hampir menabrak Luna yang berdiri di depannya.
Kini Yuke resmi menjadi tersangka, sedangkan Erik masih berstatus saksi dalam kasus itu.
Selama menjalani perawatan, Yuke di awasi oleh pihak kepolisian di dalam ruangan.
Menurut pemeriksaan, Yuke bahkan mengalami gejala depresi yang di akibatkan oleh keputusan polisi yang menjadikannya sebagai tersangka.
Sedangkan Erik, Ia mengikuti setiap proses hukum dengan baik.
Sedangkan Khafi, setelah mendengar ketetapan Yuke dan Erik, Ia langsung memutuskan untuk pulang.
Si Bandara, Khafi tak memberitahukan kepada Luna dan orang tuanya tentang kabar kepulangannya. Ia bermaksud untuk memberi kejutan, bahkan Khafi merasa sangat merindukan istrinya.
Namun sebelum ke rumah, Khafi bermaksud untuk mengunjungi makam Selina.
Kini Khafi tengah berada di dalam pesawat, saat tengah berada di ketinggian 30.000 kaki.
Cuaca yang saat itu tengah mendung, sedikit mengganggu penerbangan.
__ADS_1
Saat tengah menikmati perjalanan udara, tiba-tiba saja lampu tanda untuk mengenakan sabuk pengaman menyala.
Semua penumpang terkejut, Mereka langsung mengenakan sabuk pengaman.
"Tetaplah duduk! Dan kenakan sabuk pengaman!" Terdengar seruan dari pramugari.
Tak lama, pesawat mengalami guncangan yang cukup dahsyat. Semua penumpang histeris, bahkan terdengar suara tangis seorang balita.
Khafi yang mendengar jeritan seorang anak, sontak terpancing panik dan ingatannya langsung tertuju pada anak-anaknya juga Luna.
"Astaga. Tenang, Khafi. Ini hanya turbulensi, sebentar lagi pasti akan berhenti!" Khafi memejamkan matanya, berbagai macam doa Ia ucapkan dalam hati.
"Allahu akbar!"
"Ya Tuhan!"
"Mamah!"
Berbagai suara terdengar, suasana di dalam pesawat begitu kacau.
Barang berjatuhan, bahkan trolly yang di gunakan untuk mengantar makananpun terjatuh dan menumpahkan makanan juga minuman.
__ADS_1
"Ya Tuhan, selamatkan Kami!" Khafi terus berdoa.
Hampir setengah jam lamanya turbulensi itu terjadi, pesawat kembali membaik dan membuat para penumpang lega.
Terdengar para penumpang mengucap syukur, begitupula dengan Khafi.
Pesawat mendarat, semua penumpang turun dengan tertib. Khafi segera mengambil mobilnya yang Ia titipkan pada kenalannya yang bekerja di Bandara, kini Ia segera melaju menuju makam mendiang istrinya.
Sesampainya di pemakaman, Khafi membeli sebuah bunga.
Khafi mendudukkan tubuhnya di samping pusara sang istri, Ia membersihkan tumbuhan kering dan membasuh nisan sang istri yang terlihat berdebu.
"Hey, Sayang. Apa kabar, Kamu? Aku harap, Kamu sekarang lagi bahagia. Oh iya, Aku mau cerita, tentang Aku... dan Luna," ujar Khafi.
"Sayang, Aku dan Luna sudah berbulan madu. Aku juga... sudah melakukan kewajibanku sebagai seorang suami, Kamu senang? Awalnya Aku merasa sangat bersalah, karena sejujurnya Aku masih tak menyangka akan melakukan hal itu dengan wanita selain Kamu. Nyatanya, Luna telah memiliki Aku sepenuhnya. Dan semakin hari, entah kenapa Aku merasa bahwa Luna memang wanita yang tepat. Sayang, terima kasih karena telah memilihkan wanita sebaik Luna. Jika dulu Aku melakukan pernikahan dengan terpaksa, kini Aku harap Kamu merestui pernikahanku dengan Luna. Bolehkah Aku bilang kalau sekarang Aku... mulai menyayangi Luna?" Khafi tertawa kecil, Ia masih tak percaya perempuan kecil, lugu, dan polos seperti Luna dengan mudahnya membuat Khafi tak bisa berpaling.
"Sayang. Aku harus pulang dulu, Aku sangat ingin bertemu dengan Luna sekarang. Nanti Aku balik lagi!" Seru Khafi.
Sebelum pergi, Khafi memanjatkan doa terlebih dulu dan menyiramkan air juga bunga di atas pusara.
Ia pun tampak berdiri, dan beranjak meninggalkan area pemakanan.
__ADS_1