
Luna baru saja sampai di rumah sakit, Ia langsung di larikan ke ruang unit gawat darurat. Sementara itu, kedua mertuanya tengah panik menunggunya di luar.
"Astaga! Khafi!" Seru Bu Windi.
"Cepet kasih tahu!" Pinta Bu Nuri.
Bu Windi mengangguk, Ia segera menghubungi Khafi sedangkan Bu Nuri Ia menemui Pak Yusuf untuk meminta menjemput Ica, Brian, dan Nuka di sekolah.
"Cup! Jemput anak-anak!" Pinta Bu Nuri.
"Siap, Bu!" Pak Yusuf bergegas menuju sekolah.
Khafi tak mengangakat panggilan telepon yang di lakukan oleh Ibunya, Bu Windi beralih menghubungi suaminya saat itu juga.
"Halo, Pah. Papah bisa ke rumah sakit sekarang? Luna pingsan! Tolong Kamu hubungi Khafi, Aku dari tadi nelpon Dia tapi gak di angkat!" Seru Bu Nuri.
Di kantor, Pak Seno tampak terburu-buru keluar ruangan. Saat berjalan menuju parkiran mobilpun Ia tak berhenti untuk menghubungi putranya, Pak Seno menghentikan panggilan teleponya.
Sesampainya di parkiran, Pak Seno segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Di kantor lain, Khafi baru saja selesai meeting. Ia langsung menuju ruangannya, dan terkejut ketika mendapati panggilan telepon dari orang tuanya yang tak terjawab.
"Papah sama Mamah ngapain nelpon? Sampai berkali-kali gini," gumam Khafi. Ia pun mencoba menelpon balik Pak Seno.
"Halo, Pah. Ada apa nelpon? Tadi Aku lagi meeting," ucap Khafi.
"Fi. Ke rumah sakit sekarang!" Pinta Pak Seno.
Khafi terkejut, "ke rumah sakit? Ada apa?" Tanya Khafi.
"Luna di UGD!" Pak Seno tak dapat menjelaskan panjang lebar sebab Ia pun tak tahu pasti bagaimana kondisi Luna.
"Apa? Ya udah, Aku kesana sekarang!" Seru Khafi. Ia segera keluar ruangan, dan bergegas menuju rumah sakit.
Melihat Khafi yang terburu-buru, Erik penasaran dan sontak menyusul Khafi.
__ADS_1
"Fi. Mau kemana?" Teriak Erik.
Khafi menoleh, dan menghentikan langkahnya sejenak.
"Ke rumah sakit, Luna di UGD!" Sahut Khafi.
"Apa? Gua ikut!" Seru Erik.
Khafi terdiam, namun Ia tak banyak berpikir dan langsung membiarkan Erik ikut bersamanya.
"Luna sakit?" Tanya Erik.
"Gak tahu, tadi orang rumah ngasih tahunya gak jelas!" Seru Khafi.
Khafi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya begitu tak karuan.
Pak Seno datang lebih dulu, Ia langsung berjalan cepat menuju ruang UGD
"Gimana Luna?" Tanya Pak Seno pada istrinya.
"Kok bisa ke UGD, gimana ceritanya?" Tanya Pak Seno lagi.
"Aku juga gak tahu, tiba-tiba Pak Yusuf teriak ngasih tahu Luna pingsan. Nuri yang pertama lihat," jawab Bu Windi.
"Nuri, gimana?" Tanya Pak Seno.
"Gak tahu, Aku cuma denger gelas pecah, jadi Aku lari ke kamar Luna. Terus lihat Luna udah pingsan, pelipisnya juga berdarah kena pecahan gelas!" Seru Bu Nuri.
"Apa? Pipi Luna terluka?" Tanya Khafi yang baru saja tiba.
Semua menoleh, dan melihat Khafi yang tampak panik.
"Iya, Fi. Tapi sekarang lagi di tangani Dokter!" Sahut Bu Nuri.
Khafi mencoba mengintip ke dalam ruangan, namun Ia tak dapat melihat apapun. Perasaannya begitu tak karuan, Ia begitu khawatir pada istrinya.
__ADS_1
Hampir setengah jam lamanya, barulah Dokter keluar menemui Khafi dan yang lainnya.
"Keluarga pasien?" Tanya Dokter.
"Saya Suaminya!" Khafi menjawab dengan cepat.
"Ada dua hal yang harus Saya sampaikan," ujar Dokter yang menangani Luna.
"Dua hal? Apa itu, Dok?" Tanya Khafi.
"Hal pertama yang ingin Saya sampaikan adalah, Istri Anda sedang hamil. Selamat!" Seru Dokter.
"Hah? Luna hamil? Alhamdulillah!" Seru Bu Windi yang tampak bahagia, begitupula Bu Nuri dan Pak Seno.
Berbeda dengan Khafi, Ia belum menunjukan reaksi apapun.
"Hal kedua apa?" Tanya Khafi.
Raut wajah Dokter mulai berubah, tampaknya ada hal serius yang terjadi pada Luna.
"Hal kedua yang ingin Saya sampaikan adalah... Terdapat kista di rahimnya."
Semua terkejut, Khafi pun tampak begitu terkejut sampai Ia hanya bisa diam tak berkutik sama sekali.
"Saya juga sangat mengkhawatirkan kondisi pasien, biasanya penderita kista sulit untuk hamil. Namun pasien malah tengah hamil dalam kondisi ada kista di rahimnya," ujar sang Dokter.
"Lalu, gimana? Maksudnya keterkaitan keduanya itu seperti apa?" Tanya Khafi.
"Kemunculan kista saat hamil dapat membuat si penderita merasa sangat khawatir, apalagi ini terjadi di kehamilan pertama dan terdeteksi pada trimester pertama kehamilan. Kista saat hamil bisa diatasi dengan beberapa pengobatan, tapi harus disesuaikan dengan kondisi pasiennya juga dan besarnya kista." Dokter menjelaskan.
"Terus kondisi istri Saya gimana? Apa kista itu berbahaya buat istri Saya juga janinnya?" Tanya Khafi lagi.
Dokter kembali menjelaskan pada Khafi, juga keluarganya.
"Biasanya Dokter SPOG akan memantau terlebih dahulu perkembangan kista tersebut untuk menentukan tindakan yang diperlukan. Alasannya, kista saat hamil belum tentu menyebabkan masalah selama kehamilan. Jika ukuran kista pada pasien kecil dan tidak berbahaya, dokter hanya akan menganjurkan pemeriksaan rutin dan USG ke dokter kandungan. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan kista, apakah sudah mengecil, hilang seluruhnya, atau justru membesar. Jadi sementara ini, pasien di anjurkan untuk rutin cek USG," tutur Dokter itu.
__ADS_1
Khafi tampak terdiam, Ia begitu sulit untuk menerima kedua kabar di saat itu juga. Satu sisi Ia bahagia mendengar Luna tengah mengandung buah hatinya, namun di sisi lain Ia lebih mengkhawatirkan kondisi kesehatan Luna.