Terpaksa Menjadi Ibu Sambung

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung
Jalan Berdua


__ADS_3

Hari itu, Khafi harus meeting dengan client penting. Sebenarnya Khafi tidak tenang meninggalkan Luna bersama Rena di ruangannya, namun Ia juga tak bisa jika harus membawa anak istrinya ke ruang meeting.


"Emm, Luna. Saya ada meeting penting sepuluh menit lagi, Kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana!" pinta Khafi.


"Oh, jadi Mas mau meeting. Ya udah gak apa-apa, Aku sama Rena nunggu disini." Luna menjawab.


Khafi mengangguk, Ia lalu mengambil beberapa berkas penting untuk dibawa ke ruang meeting.


"Sekali lagi, tunggu disini. Jangan kelayapan!" Seru Khafi.


"Iya." Luna menjawab dengan tenang.


Khafi lalu beranjak, dan Ia hendak keluar dari ruangannya.


"Mas, tunggu!" pinta Luna yang ikut beranjak dan berjalan mendekati Khafi.


Khafi berbalik, "kenapa lagi?" tanyanya.


Luna semakin berjalan mendekat, hal itu sedikit membuat Khafi canggung.


Luna mengangkat tangannya, Khafi semakin terlihat gugup.


"Ma-mau apa, Kamu?" tanya Khafi.


"Kerah bajunya gak rapih, Mas." Luna membenarkan kerah baju Khafi yang tak rapih.


Khafi menghela nafasnya, Ia berusaha menutupi rasa gugupnya.


"Makasih." Khafi kembali berbalik, dan segera keluar dari ruangan.

__ADS_1


Melihat suaminya yang pergi begitu saja, bukan menjadi hal yang aneh untuk Luna.


"Hemm, sama-sama." Luna kembali berjalan menuju sofa, Ia merasakan sedikit lelah dan berniat untuk merebahkan tubuhnya di sofa bersama Rena.


Khafi memasuki ruang meeting, ketika itu Erik melihat Khafi sekilas.


"Lah, lupa kalau Dia ada meeting. Ya udahlah ngobrol nanti aja kalau udah selesai," gumam Erik yang berniat untuk menemui Khafi namun Ia lupa bahwa Khafi harus meeting dengan client penting hari itu.


Saat hendak ke ruangannya, Erik teringat pada Luna.


"Oh iya, Shapira kan ada di ruangan Khafi. Dia lagi apa, ya? Aku kesana deh," Erik pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Khafi.


Erik mengetuk pintu ruangan Khafi, namun tak ada sahutan. Ia bermaksud untuk langsung masuk, dan tak menunggu Luna membuka pintu. Setelah berada di ruangan, Erik mendapati Luna yang tengah tertidur di sofa bersama Rena.


Erik tersenyum, lalu Ia berjalan perlahan menghampiri Luna.


Erik menepuk pelan bahu Luna, dan tak butuh waktu lama Luna menggeliat dan terkejut melihat Erik yang tengah menatapnya dengan jarak dekat.


Erik memundurkan langkahnya, Luna kini tampak merasa malu berdiri di depan Erik.


"Maaf, Ra. Aku bikin Kamu kaget, ya?" Tanya Erik.


"Emm, iya gak apa-apa. Kakak lagi apa disini?" Tanya Luna.


"Oh, itu tadinya Aku mau nemuin Khafi tapi ternyata Dia ada meeting." Erik menuturkan.


"Oh, gitu." Luna menoleh ketika mendapati Rena menangis terbangun dari tidurnya. Luna dengan sigap mendekati Rena, dan menenangkan putrinya itu.


"Ssstt, Rena sayang kenapa? Ibu disini, Nak!" Seru Luna.

__ADS_1


Erik mengerutkan keningnya, Ia heran mengapa Luna menyebut dirinya 'ibu' pada putri bungsu sahabatnya itu.


"Sorry, Ibu? Maksud... Kamu?" Tanya Erik.


Luna terdiam, Ia lupa bahwa Khafi menutupi statusnya di hadapan Erik.


"Oh, ini Kak semenjak Bu Selina meninggal semua anak-anak Pak Khafi manggil Aku, Ibu. Ya mungkin Mereka rindu sosok seorang Ibu," dalih Luna.


Erik mengangguk, Ia juga prihatin dengan kondisi ketiga anak Khafi yang harus kehilangan Ibu Mereka di usia yang masih sangat belia.


"Emm, iya sih. Kamu juga kelihatannya keibuan banget, makannya anak Khafi kayaknya nyaman banget sama Kamu."


"Emm, Iya. Sstt Rena, udah dong nangisnya. Kamu kenapa? Mau apa? Mau susu?" Luna masih mencoba untuk menenangkan putrinya namun Rena belum juga menghentikan tangisnya.


"Kayaknya Rena gak betah di ruangan deh, coba Kamu bawa Rena ke taman. Mungkin Dia bakal betah main di taman," usul Erik.


"Oh, ide bagus, Kak. Kalau boleh tahu, tamannya sebelah mana?" tanya Luna.


"Aku anterin ke taman, mau?" Tanya Erik.


Luna mengangguk, Ia akan senang sekali jika Erik mau mengantarkannya ke taman agar Rena segera merasa lebih baik.


"Boleh kalau gak merepotkan Kakak," jawab Luna.


"Nggak, lah. Ya udah, yuk!" ajak Erik.


Luna mengangguk, Mereka pun berjalan beriringan menuju taman.


Ketika hendak menuju taman, Erik memilih jalan yang mengharuskan melewati ruang meeting Khafi.

__ADS_1


Ketika keduanya melewati ruangan, tanpa sengaja melalui kaca ruangan, Khafi melihat istri dan sahabatnya berjalan bersamaan.


"Itukan, Luna sama Erik. Mereka mau kemana?" Khafi terdiam sejenak, Ia bahkan sampai menghentikan kegiatannya yang saat itu tengah menjelaskan sesuatu di hadapan clientnya.


__ADS_2