
Luna masih berada di dalam toilet, Ia tengah menunggu kabar dari Khafi.
Sementara itu, diam-diam Khafi kembali ke kamarnya dan berusaha untuk pindah hotel tanpa sepengetahuan Erik.
"Dari mana Erik tahu kalau Aku sama Luna ada di hotel ini?" Khafi bertanya-tanya. Namun Ia tak membuang-buang waktu, Khafi segera membereskan barang-barang miliknya dan sang istri.
Khafi segera keluar kamar, sembari terus berjaga-jaga agar lolos dari pantauan Erik.
Tak sengaja, Khafi melihat Yuke yang keluar dari kamar tak jauh dari kamarnya.
"Oh, Aku tahu sekarang!"
Khafi bergegas keluar hotel, setelah lolos dan sudah berada di luar hotel, Khafi seger mengabari istrinya.
"Halo, Luna. Kamu masih di toilet?" Tanya Khafi ketika panggilan teleponnya telah terhubung pada sang istri.
"Masih, Mas. Gimana sekarang?" Tanya Luna.
"Kamu keluar diam-diam, lihat sekitar takutnya masih ada Erik. Aku ada di luar hotel, di cafe seberangnya. Kamu keluar sekarang, Aku tunggu!" Pinta Khafi.
"Iya." Luna menutup panggilan telepon dari suaminya, dan segera keluar dari toilet sembari terus berjaga-jaga.
Luna melihat ke sekelilingnya, setelah di rasa aman, Ia langsung berjalan keluar hotel sembari mencari cara agar wajahnya tak terlihat.
__ADS_1
Ketika hendak sampai di pintu keluar, Luna melihat Erik yang tengah berdiri di dekat lobby hotel.
Luna segera bersenyumi dan berjalan di antara iringan orang asing yang hendak keluar hotel juga, Luna sangat takut jika Erik melihatnya. Setelah berhasil keluar hotel, Luna berjalan cepat menyeberang jalan dan menuju cafe yang di maksud oleh Khafi.
Sesampainya di cafe, Luna segera mencari keberadaan Khafi.
"Luna!" Panggil Khafi dari sudut cafe.
Luna menoleh, dan berjalan menghampiri suaminya. Setelah sampai, Luna langsung duduk di kursi yang berada tepat di depan suaminya.
"Huh!" Luna menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kenapa? Cape?" Tanya Khafi.
"Kita pulang sekarang!" Seru Luna.
Khafi mengerutkan keningnya, "pulang? Kok Kamu tiba-tiba ngajakin pulang?" Tanya Khafi.
"Ya mau apa Kita disini, Mas? Mau main petak umpet sama Kak Erik?" Tanya Luna dengan kesal.
"Ya Kita kan bisa pindah hotel," sahut Khafi.
Luna tak menimpal, Ia terdiam menunduk sembari mengatur nafasnya yang belum beraturan.
__ADS_1
"Jadi mau gimana sekarang?" Tanya Luna.
"Kita pindah ke hotel, dan menyembunyikan identitas Kita supaya Erik dan Yuke gak tahu Kita berada di hotel mana!" Seru Khafi.
"Mbak Yuke?" Tanya Luna.
Khafi mengangguk, "iya. Kayaknya yang bawa Erik kesini itu Yuke," ujar Khafi.
"Sebegitu cintanya Mbak Yuke sama Kamu, Mas. Sampai Dia bela-belain nyusul Kamu kesini," ucap Luna.
Khafi terhentak, untuk apa Luna berbicara tentang perasaan Yuke padanya.
"Kamu apa sih kenapa harus ngomong gitu?" Tanya Khafi.
"Ya memang begitu, kan? Mbak Yuke bakal ngelakuin apapun, untuk bisa dapetin Kamu, Mas. Sementara Kamu, malah mau menikahi perempuan yang jelas-jelas sulit untuk Kamu sambut di hidup Kamu!" Sindir Luna.
"Lun. Aku kan udah bilang, Aku janji Aku bakal memperlakukan Kamu jauh lebih baik lagi," ucap Khafi.
"Iya, janji itu belum lama Kamu ucapin. Nyatanya? Hanya karena ada Kak Erik, Kamu nyuruh Aku untuk sembunyi, diam-diam melarikan diri, udah kayak buronan tahu, gak! Usaha apa yang mau Kamu lakuin buat nepatin janji Kamu?" Tanya Luna.
"Untuk mengakui Aku aja kayaknya sulit buat Kamu, Mas!" Lanjut Luna.
Khafi masih diam, Ia memberikan Luna ruang untuk meluapkan semua emosinya. Khafi sendiri memang berniat untuk memberitahu pada Erik bahkan semua orang, siapa Luna sebenarnya. Namun saat ini, Khafi tengah mempersiapkan dirinya terlebih dulu untuk bisa menerima Luna sebagai wanita yang akan menggantikan peran istri pertamanya, Selina.
__ADS_1
Khafi juga tengah menyiapkan hatinya, untuk belajar mencintai Luna dan memperlakukan Luna layaknya seorang istri.