
Lelaki tampan itu, mengendarai dengan cepat mobil sport hitamnya menuju bar ternama di cina. Vue bar adalah salah satu bar terbesar di cina. Tempat berkumpulnya para elit dan bangsawan kota Beijing untuk sekedar melepas penat atau memperkuat posisi sosial mereka. Berada di pusat kota, tempat ini adalah tempat hiburan paling terkenal di Beijing. Tempat ini tidak dapat dengan mudah dikunjungi oleh banyak orang. Hanya orang-orang yang menjadi member saja yang dapat memasukinya.
William Choi, salah satu member VIP bar tersebut saat ini sudah memarkirkan mobilnya di basement bar. Dia menuju lift untuk masuk ke ruangan bar. Lift yang disediakan hanya untuk para member VIP yang mobilnya diparkirkan di basement. Melewati dua penjaga keamanan di luar lift, dia masuk ke dalamnya. Siapa yang tidak mengenal sosok William di kota ini. Seorang pria tampan yang terlahir dari sendok emas. Dan salah satu partner kerja dari pemilik bar tersebut.
Setelah lift tersebut sampai di lantai VIP Vue bar, pintu lift terbuka dan dia berjalan keluar. Sebelum memasuki ruangan VIP Vue bar, terdapat dua penjaga berbadan besar dan berjas hitam rapi. Mereka memnbungkukkan badan dan menyapa. "Selamat datang tuan, selamat menikmati suasana." William hanya melirik mereka tanpa membalas sapaan mereka.
Setelah memasuki ruangan tersebut, dia disambut dengan suara berisik. Ruangan itu bercahaya remang, lampu warna warni segera menghujani tubuh William. Musik dengan nada menghentak menjadi pengiring orang-orang gila di sana dalam melakukan berbagai aktifitas. Sedangkan para wanita berlalu lalang tanpa lelah.
William segera menuju meja bar, ia perlu minuman untuk meredakan rasa hausnya. Kehadirannya menjadi magnet terutama bagi para wanita. Beberapa wanita menghentikan kegiatannya dan manatap keberadaan William. William tak mempedulikan tatapan para wanita itu, karena ia tahu mengapa dia menjadi pusat perhatian. Kekayaan dan ketampanannya mampu menarik banyak kumbang betina. Ah, dia sudah bosan dengan itu semua.
"Tuan, minuman apa yang anda pesan?" tanya sang bertender.
"Wine paling mahal." sahut William.
Bartender itu segera menyiapkan pesanan William. Sedangkan beberapa wanita mulai mendekat untuk menarik perhatiannya. "Hai Will.. lama tak bertemu? Apa kau ingat aku?"
William menoleh ke arah suara itu. Dia melihat sosok wanita cantik dan seksi berdiri di sebelahnya. Dia mengerutkan keningnya untuk berusaha mengingat sosok wanita tersebut.
__ADS_1
"Will...aku Stefi. Kita bertemu di perjamuan perusahaan ayahku, tuan Han wang."
William diam sesaat untuk mengingat wanita ini. Namun saat mendengar nama tuan Han Wang, dia ingat kalau wanita ini adalah putri satu-satunya keluarga Wang. Dia pun menyambut sapaan wanita cantik itu dengan ramah dan senyuman terindahnya.
"Oh nona Stefi, senang bertemu anda lagi."
"Cukup baik, bahkan lebih baik saat saya bertemu dengan anda lagi." Jawab wanita itu dengan nada merayu. "Bagaimana kabar anda tuan William? Sepertinya sudah lama tidak mengunjungi tempat ini.
Belum sempat William jawab, ada suara lain yang menyambutnya. "Kabar Will baik-baik saja nona Stefi. Apalagi saat ini dia sedang kencan bersamaku. Benar begitu Will?"
Will dan Stefi menoleh dan menatap kedatangan wanita tersebut menuju meja mereka. Wanita ini, wanita yang menelepon Will untuk mengajaknya bertemu. Seorang wanita cantik dan tentunya berasal dari salah satu keluarga ternama di kota Beijing.
Stefi tersenyum kecil sambil mengeratkan genggaman tangannya. "Sialan wanita ini." gerutu Stefi. "Saya hanya menyapa rekan kerja keluarga saya nona Melda." Jawab Stefi sopan. "Baiklah, saya permisi. Silahkan dilanjut acaranya. Senang bertemu dengan anda lagi tuan William. Semoga kita bisa berjumpa lagi di waktu yang lebih tepat." ucap Stefi dengan lembut.
Setelah wanita yang bernama Stefi itu pergi meninggalkan mereka berdua, Melda langsung menatap William tajam. "Jaga matamu Will! Jangan sampai kau berani menemui wanita itu sendiri."
"Oh ayolah baby, kenapa nada bicaramu terlihat seperti orang cemburu. Masih ingat kan kalau kita tidak ada hubungan apapun. Kita hanya bersenang-senang. Saling memuaskan satu sama lain." Ujar William sambil menyesap minumannya.
__ADS_1
Melda mengeratkan rahangnya keras setelah mendengar perkataan William. Laki-laki ini kenapa sulit sekali ditaklukkan. Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku harus bermain cantik untuk bisa mendapatkan hatinya.
"Oke sayang...maafkan aku. Aku tadi cuma tidak suka dengan sikap genit Stefi. Wanita itu selalu mengganggu milik orang lain."
"Tapi aku bukan milikmu baby. Aku adalah aku, tidak akan ada wanita manapun yang berhak mengaturku."
Melda terkesiap mendengar kata-kata yang sebenarnya sudah sering ia dengar dari mulut pria tampan ini. Namun entah kenapa dia selalu merasa kesal tiap mendengarnya. Apa karena perasaannya yang memang sudah terpaut oleh pria ini? Siapa yang tidak bertekuk lutut oleh pria satu ini. Walaupun pria ini seorang casanova, namun dia memperlakukan teman kencannya dengan sangat baik dan lembut. Membuat semua wanita yang dekat dengannya merasa melambung tinggi seakan-akan begitu diinginkan.
Melda berusaha mengalihkan pembahasan selanjutnya. Dia melingkarkan tangannya ke lengan William dan meletakkan kepalanya di bahu William. "Sudahlah sayang, jangan merusak suasana dengan hal yang tidak penting. Aku ingin kita bersenang-senang malam ini. Aku sangat merindukanmu." ucap Melda sambil mendongakkan wajahnya ke arah wajah William.
William menoleh ke arah wajah Melda. Kemudian mereka saling bertatapan mesra. Melda, adalah teman kencannya selama enam bulan ini. Dia adalah putri semata wayang dari keluarga Linghe. Keluarga kaya raya dari perusahaan fashion terbesar di cina. Mereka bertemu pertama kali satu tahun yang lalu saat sama-sama menjadi narasumber di salah satu acara stasiun televisi. Kemudian menjalin hubungan tanpa status enam bulan terakhir. melda adalah wanita ambisius. Dia yang terlahir dari keluarga kaya raya, menganggap semua yang dia inginkan harus dia dapatkan. Begitupun juga dengan William. Dia menganggap hanya dia yang pantas mendampingi WIlliam. Dia akan menyingkirkan wanita manapun yang akan mendekati William.
Saat tatapan mata mereka bertemu, dan rasa kagum pada masing-masing timbul, maka percikan api gairah makin membara. William yang seorang casanova sejati tidak akan membiarkan kesempatan ini lewat dengan mudah. Ada daging segar di depan singa, tentu akan langsung diterkam. William mendekatkan wajahnya pada wajah melda, dan menyentuh bibir Melda dengan bibirnya sendiri. Dia kecup bibir Melda sedikit intens. Melda pun menyambutnya dengan senang hati. Akhirnya mereka saling berperang lidah di tengah hingar bingar keramaian bar.
Di tengah-tengah kegiatan mereka, timbul sesuatu yang lain. Sesuatu itu adalah keinginan untuk tak hanya sekedar bercumbu. Namun kegiatan yang dapat menguras tenaga mereka berdua dengan rasa nikmat yang memuncak. William segera menghentikan kegiatan itu. "Baby, bagaimana kalau kau singgah di rumahku. Bukankah sudah lama kau tidak bertamu?" ujar William dengan senyum liciknya,
"Ah sayang.. kau benar. Aku sudah lama tidak singgah ke rumahmu. Aku ingin tahu bagaimana keadaan kamar tidurmu saat ini. Apakah sudah dirapikan dengan benar oleh asisten rumah tanggamu?" Jawab Melda dengan kerlingan matanya.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, William menarik tangan Melda untuk segera pergi dari bar tersebut. Dengan sedikit berlari, Melda mengikuti langkah panjang William. Dia sangat bahagia, akhirnya bisa melakukan banyak hal dengan William lagi. Dia menganggap dengan seringnya mereka bersama, maka cepat atau lambat dia bisa mendapatkan hati William.