
William berada di dalam kamarnya saat ini. Dia duduk di salah satu sofa yang terletak di sudut kamarnya. Ia selonjorkan kakinya, ia pejamkan matanya untuk berpikir kembali. Berpikir dengan jernih segala sesuatu yang terjadi tidak lama ini. "Ayolah Wil.. berpikirlah. Kamu ini adalah seorang yang cerdas. Mana mungkin kamu berpikir ada hantu di rumahmu sendiri." Dia hembuskan nafasnya pelan untuk mengatur emosi dan mengulas kembali ingatan-ingatan yang lalu.
Yang pertama tentang kejadian kemarin malam saat Melda datang ke rumah ini, ia yang sedang berada di meja bartender, tanpa sengaja melihat sesosok wanita cantik lewat di depan matanya. lalu sekarang, ia melihatnya lagi dengan jelas, di siang bolong, wanita cantik itu duduk di taman sedang mengagumi bunga-bunga di taman dekat kolam renang.
Tidak, ini bukan hantu. Mana ada hantu kebetulan nongol di siang bolong. Ini pasti manusia, bukan makhluk tak kasat mata. Tapi siapa? Siapa wanita yang dua kali ini dia lihat. Wanita yang sangat cantik dan seksi.
Di rumah ini cuma ada dirinya dan dua asisten rumah tangganya. Mbok Rum tidak mungkin, jadi.. Aha! asisten rumah tangga yang baru! Kenapa aku tak terpikirkan dari tadi. bergegas ia membuka laci nakas tempat tidurnya. Ia ambil data-data asisten rumah tangga yang baru. Ia baca sekali lagi data diri asisten rumah tangga yang baru tersebut. Namanya Siti, sesuai dengan yang ia ucapkan. Lalu ia buka halaman berikutnya dari dokumen kontraknya. Ya, foto Siti. Akhirnya ia menemukan foto Siti.
Aneh, wajahnya tidak seperti wanita yang ia anggap halusinasinya. Lalu tanpa sengaja ia lihat tanda tangan yang tertera di fotokopi paspor, dengan tanda tangan di surat kontrak kerja. Kenapa berbeda ya? Dan kenapa nama yang tertera di bawah tanda tangannya juga berbeda. Angel? Angelina Xeena Mahendra?
Apa-apaan ini! Apa ada penipuan di sini? Apa ada yang sengaja melakukan ini padaku? Aku harus segera mencari tahu. Lebih baik aku panggil dia ke sini sekarang juga. Bergegas ia keluar dari kamarnya, lalu ia teriakkan nama asisten rumah tangganya yang baru. "Hei Siti! cepat ke kamarku sekarang!"
Mbok Rum dan Angel yang mendengar teriakan itu, terkejut dengan tubuh yang menegang. "Mbok, kok tuan manggil Angel kenapa ya? Apa Angel mau dikasih hukuman?"
"Bismillah, semoga aja kamu gak diapa apain sama tuan muda. Sudah cepetan sana!"
Angel bergegas lari untuk memenuhi permintaan tuan mudanya. Sesampainya di kamar tuan mudanya, ia mengetuk pintu pelan. "Tuan muda, saya di sini."
Klek! "Masuk" perintah William.
Angel berjalan masuk dengan langkah pelan. Ia berjalan dengan menunduk tak berani menatap wajah William.
"Tutup pintunya!" William memerintah lagi. "duduk!"
Angel sedikit mendongakkan wajahnya melirik William sejenak, kemudian beralih ke salah satu sofa di sudut kamarnya William. Dia duduk di sana dengan kikuk sambil bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada dirinya apabila tuannya marah.
"Siapa namamu?"
"Sa--saya tuan?"
"Siapa lagi?"
"Ehm, saya Angel."
"Angel siapa?"
__ADS_1
"Angelina Xeena Mahendra."
"Asal?"
"Saya dari Indonesia tuan."
"Berdiri!" perintah William sedikit membentak.
Angel terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya dari kursi sofa. Masih dengan kepala menunduk dan tubuh yang bergetar ketakutan.
Lalu William berjalan mendekatinya. Angel yang mengetahui itu, dengan spontan memundurkan tubuhnya untuk menjauhi William yang semakin mendekat. Angel terus menghindar kala tubuh William terus mendesaknya. Sampai pada Angel tak dapat menghindar lagi karena ada tembok yang menghalanginya untuk bergerak.
William mendekati tubuhnya sampai pada jarak sejengkal tangan. Itu karena Angel memegang dada William dengan tangannya. "Tu-tuan.." Ucap Angel dengan gagap.
"Siapa yang menyuruhmu untuk berpura-pura menjadi asisten rumah tanggaku? Apa yang kau inginkan dariku?"
Angel terkejut dengan tuduhan William. Ia mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah William. "Omegat, kasep bener sih ni cowok." Angel bicara dalam hati.
Angel begitu terpana malihat ketampanan pria yang sekarang ada di hadapannya. Sangat dekat sampai ia pun bisa melihat kemulusan kulit pria itu. "Etdah busyet, mulus amat tu kulit. Perawatan di mana sih, kok gak ada pori-porinya. bening bener dah." Batin Angel dalam hati sekali lagi.
Karena William melihat Angel menatapnya intens dengan penuh kekaguman, William tersenyum sinis. "Cih, beraninya kau menipuku di rumahku sendiri. Punya nyali besar kau rupanya."
William menatap mata Angel dengan seksama. Mata bulat yang dibingkai oleh bulu mata lentik dan alis tebal yang membentang. Mata yang sangat indah, kenapa baru ia sadari hari ini?
"Buka maskermu!" perintah William tegas.
'Mampus mak, ketahuan bener gue. Beneran bakal di kawinin ama robert nih. Beneran saingan ama sapi kesayangan Lia nih, si Mahmud. Mak..pengen nangis gue.' Kata Angel dalam hati.
Tidak ada pilihan lain. Saat Angel melihat tatapan marah tuan mudanya ini, nyali Angel menciut. Dia pasrah dengan keadaan ini. Lalu dia raih maskernya pelan. Ia buka sedikit demi sedikit sambil menunduk tak berani menatap William.
Setelah ia buka, dengan cepat William mengambil dengan kasar masker tersebut dan ia buang ke sembarang arah. Angel terkejut dan makin takut dengan sikap tuan mudanya yang menurutnya kasar.
Angel lalu memejamkan matanya sambil berkata, "Ampun tuan, jangan pukul saya."
William membeku saat melihat dengan jelas wajah asisten rumah tangganya ini. Wanita di depannya ini memiliki kulit putih mulus, rambut tergerai indah, hidup mancung dan,,, ah, semuanya terlihat sempurna. Apakah asisten rumah tangga dari Indonesia cantik-cantik? Ataukah wanita ini dikirim oleh musuhnya untuk memata-matainya?
__ADS_1
"Siapa kamu? Kenapa kau ada dirumahku?"
"Ampun tuan, saya tidak bermaksud menipu. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya di sini."
"Oh ayolah jangan berusaha membodohiku!"
"Tidak tuan suer deh. Angel takut dosa kalau bohong."
William mundur menjauhi tubuh wanita itu, kemudian memberikan perintah lagi. "Duduk! ceritakan semua!"
"Angel terkejut dengan bentakan William, lalu ia segera duduk lagi di kursi sofa yang tadi ia duduki. "Nama saya Angelina Xeena Mahendra. Rumah saya di Indonesia. Saya tidak tahu kenapa waktu saya di bandara, ada orang yang menggandeng tangan saya menuju rombongan tenaga kerja wanita tuan.. suer deh ga bohong."
"Kamu kira aku begitu mudah kau bodohi? Mana mungkin kamu tidak berontak saat di bawa ke dalam rombongan. Kamu kan bisa bicara."
"Tidak bisa tuan, karena saya memang mau melarikan diri dari rumah."
William ternganga mendengar jawaban tak masuk akal dari wanita ini. William masih tidak mempercayai alasan yang wanita ini berikan. "Kau tidak boleh keluar dari rumah ini. Awas saja kalau kau berusaha melarikan diri. Aku tak segan membawamu ke kantor polisi, dan kau pasti akan di penjara. Aku akan menyelidiki asal usulmu. Kau paham!"
"I-iya tuan. Saya tidak akan melarikan diri."
"Keluar dari kamarku!"
Angel mendengar titah tuannya, tidak menunggu lama ia berlari keluar dari kamar William. Ia berlari cepat menuju dapur untuk bertemu mbok Rum. Saat sampai di dapur, ia memeluk mbok Rum erat.
"Hiks, mbok, aku takut."
"Loh Angel, kamu kenapa? Maskermu mana? Jangan sampai tuan muda tahu keadaanmu ini."
"Tuan muda sudah tahu mbok. Tamat sudah hidupku mbok. Aku harus bagaimana?"
"Astagfirullah, tuan pasti marah besar."
"Tuan marah mbok, trus aku disuruh tinggal di rumah ini, gak boleh melarikan diri."
"Ya udah, kita tunggu saja bagaimana nanti. Sudah, jangan nangis lagi ya." ujar mbok Rum sambil menepuk pelan punggung Angel.
__ADS_1
Sedangkan William yang ada di kamarnya, segera mengambil ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaannya." Toni, aku ingin kau menyelidiki seseorang. Aku ingin besok siang kau sudah mendapatkan semua yang kuminta. Namanya Angelina Xeena Mahendra, Indonesia. Aku akan kirimkan fotonya padamu."
William menatap foto di ponselnya, wajah Angel yang sedang menutup matanya karena ketakutan saat William menginterogasinya tadi terpampang jelas di sana. Ya, tanpa Angel sadari, William telah memotret wajahnya. Itu William sengaja untuk dapat memperoleh info tentang jati diri Angel yang sebenarnya.