Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Melamar


__ADS_3

Tiba di bandara Shanghai, seluruh keluarga Choi segera menuju apartemen keluarga Mahendra. Apartemen yang terletak di distrik utama kota shanghai. Tempat yang tidak semua orang dapat menjangkaunya. Tempat para elite shanghai berada.


Sampai di lobby apartemen, para penjaga memeriksa seluruh pengunjung apartemen dengan ketat. Hingga membuat Gongyu bertanya-tanya. Saat mereka masuk ke dalam lift, Gongyu dengan sengaja bertanya.


"Paman Xian, apa paman yakin keluarga gadis itu tinggal di sini? Ini adalah tempat tak biasa untuk pembantu sepertinya."


Semua orang memandang ke arahnya. Ada yang mencibir dengan pertanyaannya, ada juga yang ikut penasaran namun sungkan untuk menanyakannya.


William tak mengindahkan. Ia hanya menatap lurus sambil menggenggam erat tangan Angel. Yang ada di pikirannya adalah tentang bagaimana cara membujuk keluarga Angel agar mengijinkannya untuk menikahi Angel.


Sedangkan Ayah Xian melirik dengan dingin ke arah Gongyu. "Gongyu, mereka memang sejak awal tinggal di sini sebagai persinggahan sementara selama mereka melakukan pencarian Angel. Untuk menjawab keingintahuanmu, aku akan sedikit menjelaskan. Angel melarikan diri dari rumah untuk menghindari masalah. Namun takdir membawanya ke cina tanpa rencana. Jadi saat nanti kau berada di hadapan keluarga Angel, kuharap kau bisa menjaga mulutmu."


Ketegasan ayah Xian membuat suasana di dalam lift itu menjadi sunyi. Bahkan kakek dan nenek pun tidak berani menginterupsinya. Karena ayah Xian adalah putra pertama keluarga Choi, jadi otomatis dialah pemegang kuasa keluarga Choi.


Ayah Gongyu ikut mengeluarkan suara. "Gongyu, jangan membuat keluarga kita malu. Jaga sikap dan jaga bicaramu. Kita di sini dengan niat meminta anak gadis orang. Jadi tunjukkan kesopananmu."


Sejenak suasana hening. Hingga sampailah mereka pada unit apartemen keluarga Mahendra. Pintu lift terbuka, tampaklah pintu besar di depannya. Apartemen itu memiliki lift pribadi. Jadi saat ada pengunjung, semua harus atas konfirmasi pemilik apartemen agar tamu dapat menuju unit yang ingin dituju.


Tombol bel pintu ditekan dua kali. Hingga pintu itu terbuka dari dalam. Nampak wanita paruh baya yang begitu cantik dengan paras khas seorang wanita barat.


"Selamat malam nyonya Mahendra. Kami datang sesuai janji kami." ucap ayah Xian dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Mama.." panggil Angel dengan lirih.


Semua orang di sana memberikan jalan untuk Angel mendekati wanita paruh baya itu.


"Ya tuhan... Putriku. Putriku! Kau pulang. Oh tuhan, terima kasih kau kembalikan putriku."


Wanita paruh baya itu tak lain adalah mama Jasmine. Saat ia melihat putrinya di depan matanya, perasaannya membuncah. Ia rengkuh tubuh putri kecilnya itu dengan air mata yang deras. Ia usap wajah cantik Angel, memandangnya penuh rindu.


"Mama, Angel rindu." pecah juga tangis Angel saat melihat wajah wanita yang paling ia cintai dalam hidupnya.

__ADS_1


"Ayo nak, masuk. Temui papamu." mama Jasmine menarik tangan Angel masuk ke dalam apartemen. "Oh ya, maaf tuan Choi, saya hampir lupa. Maaf ketidaksopanan saya. Mari silahkan masuk semuanya."


Masuk ke ruang utama apartemen, nampak ayah Xian duduk di sofa sambil membaca buku dengan kaca mata terpasang di wajahnya. Ia membolak balikkan halaman buku itu, hingga suara lain menghentikan tangannya.


"Papa." lirih Angel memanggil papa Ronan.


Papa Ronan mendongakan wajahnya. Terkejut, ia kedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan.


Papa Ronan berdiri, segera ia berjalan mendekati sosok yang sangat dirindukannya. Ia peluk erat tubuh mungil itu.


"Angel, putriku." panggilnya lirih dengan meneteskan air mata. Papa Ronan menjauhkan kepalanya, ia tatap lekat wajah putrinya. "Bagaimana keadaanmu sayang"


"Pa, maafkan Angel."


"Tidak sayang, papa yang seharusnya minta maaf. Papa yang salah. Maafkan papa yang egois. Ayo kemarilah, duduk berasama papa."


"Tunggu pa. Angel datang bersama mereka semua." ujar Angel dengan menoleh ke arah belakang. Nampak keluarga Choi menunggu dipersilahkan untuk duduk.


Nampak di sana Angel duduk diapit oleh papa dan mamanya. Ayah Xian dan mama Berta duduk di samping kanan, dan kakek nenek yang duduk di samping kiri. Begitupun juga dengan keluarga adik ayah Xian dipersilahkan duduk di kursi yang juga sudah di sediakan di ruang utama.


Ayah Xian menyampaikan kata-kata sebagai pemecah suasana canggung di sana. "Tuan Mahendra, saya sudah menepati janji saya untuk mengantarkan Angel pulang."


Papa Ronan tersenyum dengan tatapan mata yang berbinar. "Terima kasih tuan Choi, entah bagaimana kami berterima kasih kepada keluarga anda karena sudah melindungi putri kami. Maaf apabila Angel selalu merepotkan keluarga tuan."


"Angel gadis baik, sama sekali tidak merepotkan. Ah, saya juga ingin memperkenalkan keluarga Choi yang lain. Beliau adalah ayah dan ibu saya, dan adik saya beserta keluarganya. Dan yang duduk di sebelah saya ini adalah putra saya William." jelas ayah Xian dengan menunjuk semua orang yang duduk di sana.


Papa Ronan menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan senyum ramahnya. Kemudian pandangannya jatuh pada sosok pria tampan yang disebutkan sebagai putra tuan Choi. Dapat ia lihat pria itu sangat berwibawa. Pembawaannya yang tenang, membuat semua orang segan jika berhadapan dengannya.


Mengerti arah pandang tuan Mahendra, ayah Xian pun berusaha menjelaskan.


"Ehm, tuan Mahendra. Ini adalah William, putra saya, yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Untuk itulah kami semua datang ke sini. Selain mengembalikan Angel, kami juga akan meminta kembali Angel untuk putra kami."

__ADS_1


Mendengar itu mama Jasmine mengeratkan genggamanya pada tangan Angel. Papa Ronan pun melihat itu dan memahami.


"Ehem, tuan Xian. Maaf ini begitu cepat untuk kami. Kami bahkan belum melepas rindu pada putri kami."


Ayah Xian sedikit tersenyum mendengarnya. "Tuan Mahendra, jangan khawatirkan itu. Sudah saya katakan sejak awal, keluarga kami tidak mempermasalahkan itu. Semua akan kami serahkan pada anak-anak. Sejujurnya kami ingin William segera menikahi Angel. Namun kami juga tidak akan mempersulit kehidupannya. Apalagi kalau kelak ia ingin meneruskan pendidikannya. Kalau memang terpaksa, William yang akan mengalah untuk pindah ke Indonesia agar dapat membimbing Angel."


"Apa!"


Suara asing terdengar. Semua orang menoleh dan menatap orang yang berteriak. Nampak wajah Melda yang gugup ditatap oleh semua orang di sana. Ya, orang itu adalah Melda. Melda terkejut saat ayah Xian mengutarakan kepindahan William ke indonesia. Tidak, Melda tidak bisa membiarkan William jauh darinya.


Ia tersenyum kikuk. "Ehm, maaf semua. Tadi ada semut menggigit kaki saya."


Ekspresi ayah Xian dan mama Berta memburuk. Mengerutkan kening dengan tatapan mata tajam menghunus mereka tujukan pada wanita yang dekat dengan keponakan mereka.


William berusaha untuk mengalihkan suasana yang hampir tak terkendali. "Ehem, tuan dan nyonya Mahendra, perkenalkan saya William Choi, putra kedua dari ayah Xian Choi. Kebetulan kakak pertama saya belum dapat ikut berkunjung datang ke sini karena masih berada di luar kota. Tuan Mahendra, saya beserta keluarga saya datang kesini dengan tujuan mengantarkan Angel pulang, sekaligus melamar Angel untuk menjadi istri saya."


Ucapan William yang tanpa basa basi jelas membuat banyak pemikiran berkecamuk pada ayah Xian. Ia jelas tahu siapa William. Seorang pengusaha muda yang sukses dan penuh dengan skandal. Ia menghembuskan nafas berat.


"Tuan William, saya sangat tahu bagaimana sepak terjang anda." ucap papa Ronan lugas dan langsung pada inti.


"Iya tuan Mahendra. Saya bukan pria baik-baik. Dan saya sedang belajar memperbaiki diri saya. Sejak bertemu dengan Angel, saya malu dengan diri saya sendiri. Angel begitu muda, namun pemikirannya jauh lebih baik dibanding saya yang lebih dewasa. Ketulusannya membuat saya menyadari banyak hal dalam hidup. Bahwa saya belum jadi apa-apa selain pengusaha. Tetapi belum layak disebut manusia beradab. Untuk itulah saya ingin memperistri Angel, sebagai pelengkap dan penuntun hidup saya menuju ke arah lebih baik lagi. Saya jatuh cinta pada kecantikaannya, kecantikan hatinya. Tuan, saya mohon beri saya kesempatan."


Mendengar ucapan William yang begitu menyentuh, semua orang si sana tertegun. Bahkan terdengar isakan lirih dari Xialin.


"Hiks, Oh kakak sepupu, romantis sekali. Kapan Toni melamarku seperti itu."


Bug!


Dengan spontan nenek melempar tas jinjingnya ke arah cucu perempuan kecilnya yang tak berakhlak. Nenek benar-benar tak menyangka, di saat suasana haru, celetukan Xialin menghancurkan kekhusyukan.


"Astaga Xialin. Nenek menyesal mengajakmu ke sini."

__ADS_1


__ADS_2