
Setelah David dan Alia sampai di hotel, mereka berdua langsung menuju ke resepsionis untuk memesan kamar. Kebetulan mereka mendapatkan kamar yang bersebelahan, jadi lebih mudah bagi mereka untuk berkomunikasi. Office boy membantu mengantarkan koper-koper yang mereka bawa untuk dibawa masuk ke kamar mereka. Tidak lupa mereka berikan tips untuk jasa yang office boy itu berikan.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Alia langsung menghubungi abahnya. "Assalamualaikum bah, Alia sudah sampai cina."
"Waalaikumsalam neng. alhamdulillah kalau sudah sampai. Abah sama emak nungguin kabar eneng dari tadi. Gimana kabar di sana?"
"Alia baik bah. Ini Alia ada di kamar hotel. Mau istrirahat bentar."
"Di kamar hotel sama siapa neng? sama abangnya neng Angel ya?"
"Ih abah. Masa berduaan sama cowok sih. Belum Mahrom abah.. Nungguin sudah mahrom dulu baru bisa sekamar dong. hehehe Alia ketahuan ngarep banget ya bah."
"Abah sama emak tidak masalah kalau Alia nikah dulu sebelum kuliah. Si mahmud aja udah berkembang biak, masa anak gadis abah belom."
Alia ternganga mendengar ucapan abahnya yang tiada batas tandingan. Benar-benar tidak terduga angan-angan abah dan emaknya. "Bah, kok ngomongin nikah sih. Ama siapa Alia nikah sih bah?"
"Yah sama den David kasep atuh neng. Calon mantu idaman abah sama emak banget. Udah kasep, pinter, sopan, kaya raya lagi neng. Abah bakal adain pesta rakyat tujuh hari tujuh malam kalau eneng jadi ama anaknya pak Ronan itu."
"Aamiin bah.. doain yang baik-baik aja ya bah. Ucapan adalah doa. Apalagi doa orang tua. Alia juga minta doanya biar si Lince juga keadaannya baek-baek ya bah, tapi jangan doain cepet ketemu. Alia masih pengen deketan ama bang David. hehe"
"Dasar kamu itu neng. Tidak kamu minta abah juga berdoa kaya gitu. Semoga dengan perjalanan kalian di sana, gusti allah makin mendekatkan hati kalian. Kamu jaga kesehatan, dan jaga kesopanan selama di sana. Semoga gusti allah menggerakkan hati den David untuk nikahin eneng."
__ADS_1
"Hais, abah tu de poin banget sih. Aamiin..aamiin.. pokoknya Alia aminin terus deh. Sudah ya bah, Alia mau mandi dulu. Nanti mau makan siang sama calon suami. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, iya sana mandi, dandan yang cantik, jangan lupa keteknya disemprot biar wangi."
Sedangkan di kamar sebelah, David pun menghubungi kedua orang tuanya di Indonesia. Memberikan kabar kalau dia sudah sampai di cina bersama Alia. Setelah itu dia menghubungi para anak buahnya untuk menyebar mencari info tentang keberadaan semua tenaga kerja wanita yang baru saja dikirim ke cina baru-baru ini. Dia tidak keberatan kalau harus mendatangi satu persatu rumah yang didiami para tenaga kerja wanita tersebut untuk dapat menemukan keberadaan adiknya. David sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya di negeri orang. Apalagi keadaan dia yang menjadi pekerja rumah tangga. Adiknya yang tidak pernah menginjak lantai dapur, harus berkecimpung dengan pisau dapur dan alat rumah tangga yang lain. Membayangkan itu David tersenyum tanpa sadar.
Angel yang tidak bisa membedakan antara gula dan garam, Angel yang tidak pernah tahu bagaimana menggunakan sapu, Angel yang tidak tahu apa itu kemoceng, dan Angel yang tidak tahu bagaimana menyalakan kompor gas. David yakin, nasib sial menghampiri orang yang telah mempekerjakan Angel untuk menjadi asisten rumah tangganya. David menggeleng kepalanya cepat, karena tersadar sesuatu. Wah, aku yakin sebentar lagi ada salah satu rumah yang meledak atau terbakar karena ulah adiknya itu.
************
Di rumah salah seorang yang memakai jasa tenaga kerja Indonesia di cina saat ini memang benar terjadi ledakan. Bukan ledakan sesungguhnya, namun ledakan amarah. William, saat ini berdiri sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Dia menghadap pada kedua asisten rumah tangganya. Menatap dua orang itu dengan lekat. Bukan menatap lebih tepatnya melotot dengan garang pada kedua sosok itu. Sial untuknya mendapatkan asisten rumah tangga seperti wanita ini. Sebulan berpuasa tanpa sentuhan wanita bagaikan akhir hidupnya. Bagaimana nasib si mungil peliharaan dia kalau lama tak menyemprotkan bisanya. Atau bagaimana nasib para wanita yang akan sangat merindukan sentuhannya. Willi berpikir, dia sangat berperan besar bagi para wanita untuk dapat merasakan surga dunia. Ini tidak bisa dibiarkan!
Willi terus memberikan tatapan garang kepada dua asisten rumahnya, terutama pada asisten rumah tangganya yang baru, yang baru saja membuat masalah di hidupnya. "Kau!" bentak Willi sambil mengacungkan telunjuknya di depan wajah Angel. "Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan?"
"Memangnya siapa lagi!" seru Willi makin keras.
"Ampun tuan, jangan pecat saya." jawab Angel dengan tubuh yang bergetar.
"Ehm, tuan maaf. Saya juga salah tuan." suara mbok Rum menginterupsi. "Saya juga salah karena saya tidak pernah memberitahu tentang kon**m yang sering tuan gunakan."
Willi menepukkan tangannya pada dahinya dengan pelan. "Astaga mbok Rum, bukan salahmu. Tapi aku kurang yakin dengan dia. Mana mungkin dia tidak tahu apa itu kon**m. Aku yakin dia pasti sengaja menjebakku untuk memberitahu mamahku tentang apa yang sudah kulakukan di kamarku."
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi Angel memang tidak tahu apa-apa, dia masih kecil tuan. Dia memang belum pernah melihat penampakannya." bela mbok Rum terhadap Angel.
"Angel? Bukannya namanya Siti?"
"Ehm, dia lebih suka dipanggil Angel tuan.."
"Cih belagu. Siti kok jadi Angel. Aku akan memberi hukuman padanya mbok. Dia yang sudah membuatku harus puasa sebulan."
"Angel mengangkat kepalanya untuk melihat wajah tuannya, lalu berkata, "Iya tuan, saya bersedia dihukum apa saja. Tapi saya ingin tanya pada tuan sebelum diberi hukuman. Apa salah saya tuan? Apa karena balon-balon kecil milik tuan? Saya kan tidak membuangnya atau mengambilnya."
"Astaga tuhan, wanita dari planet mana sih, bego amat jadi orang. Nanti aku ajari kalau kau memang ingin tahu apa itu balon kecil yang kau maksud." jawab Willi dengan sedikit tarikan sinis di bibirnya.
"Iya tuan, saya bersedia. Saya orangnya paling cepat ngerti kalau diajari. Saya punya ingatan yang kuat, jadi sekali diajari pasti langsung bisa." ujar Angel bersemangat.
Mbok Rum menghela nafasnya berat. Sepertinya pertanyaan tuan tadi sangat tepat. Angel ini peranakan planet mana sih. Bego sama lugu kok tipis banget bedanya ya.
"Sudah sana kalian pergi, aku mau istirahat di kamarku dulu. Rasanya ga tahan pengen kuremes mukanya Siti kalau terus-terusan lihat dia." perintah Willi sambil melangkah menuju tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.
Mbok Rum dan Angel menghembuskan nafas lega saat tuan mudanya sudah pergi dari hadapan mereka. Angel mengelus daddanya, bersyukur tuan mudanya tidak jadi memecatnya. Dia takut sekali harus kembali ke tanah air untuk dipaksa kawin sama Albert. Jadi dia harus berusaha untuk bertahan di rumah itu saat ini.
Dia menoleh pada mbok Rum, kemudian bertanya. "Mbok, balon-balon kecil di kamar tuan itu apaan sih?"
__ADS_1
"Allahuakbar Angel. Kamu itu baru netes rupanya." ujar mbok Rum sambil mengelus dada.