Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Berebut Mainan


__ADS_3

Setelah makan malam bersama dan segala keramah tamahan di apartemen keluarga Mahendra, William segera berpamitan dan pulang ke rumahnya. Dia saat ini tengah menunggu suatu kabar berita dari seorang yang ditugaskannya untuk memata matai Melda.


Di ruang kerjanya, William berdiri menghadap kaca jendela besar yang terletak di samping meja kerjanya. Menggoyang goyangkan gelas kacanya, dan sesekali menyesap wine di dalamnya. Menunggu dengan diam sambil berpikir tentang segala kemungkinan yang akan muncul suatu saat nanti.


Tok, tok, tok. Terdengar tiga kali ketukan di pintu.


Tanpa menunggu jawaban dari dalam, pintu itu terbuka dari luar oleh seseorang. Masuklah seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dan gagah dengan memakai jas kantornya. Berjalan tenang dan penuh wibawa. Dia duduk di  sofa kemudian meraih sesuatu di lehernya dan..


Sret!


"Hah..lega sekali." keluh pria itu setelah membuka topengnya.


"Apa yang kau dapat?" William bertanya tanpa menoleh.


"Seharusnya kau bertanya tentang keadaanku saat ini. Bukan tentang hal lain." jawab pria itu.


"Cih! aroma sp*rmamu saja masih tercium. Untuk apa aku bertanya tentang keadaanmu."


"Masa? Padahal sudah kubersihkan sebelum datang kesini." jawab pria itu dengan setengah menunduk sambil mengendus celana panjangnya.


"Toni! Aku tidak mau membuang waktuku dengan hal tidak penting seperti itu." Bentak William kepada pria yang menjadi asistennya sekaligus sahabatnya."


William berbalik dan berjalan mendekati Toni dan duduk berhadapan. "Sudah cukup kau bermain main. Apa kau sudah melakukan semua yang kita rencanakan?"


"Oh ayolah, biarkan aku bernafas dulu. Untuk bisa menjalankan misi ini, sangat tidak mudah untukku."


"Apa maksudmu dengan tak mudah? Apakah kau berkelahi melawan beberapa orang?"


Toni menghela nafas. "Bukan itu. Ini lebih buruk dari melawan sepuluh preman."


Kening William mengernyit tanda bingung. Ia meneliti tubuh Toni seksama. Tidak nampak bekas perkelahian dari tubuhnya. Bahkan pakaiannya masih serapi sejak pertama ia memakainya. "Aku tidak mengerti."


"Menahan diri untuk tak menyentuh wanita seksi itu adalah hal yang sangat berat untukku. Bisa kau bayangkan, aku harus diam dan pasrah saat dia mengulum milikku. Bukan aku namanya kalau hanya berdiam diri tanpa perlawanan saat diserang seperti itu. Rasanya ingin kubanting tubuhnya ke ranjang dan ku sodok seg--"


"Toni! aku heran kenapa adikku Xialin sangat menyukai pria sepertimu."


"Oh ya? Wah, aku belum pernah merasakan meniduri gadis perawan."


"Hei! Kalau kau macam-macam pada Xialin, akan kugantung si gundul milikmu!"


"Milikku tidak gundul! Milikku sudah rimbun! Apa kau tahu, kalau kau sudah mengacaukan jadwalku untuk ke salon. Gara-gara kau menugaskanku untuk proyek di luar kota, aku belum sempat melakukan waxing si bawang."


"Bawang?"


"Iya, karena kepalanya mirip bentuk bawang."


"Hahahaaha!" William tertawa terbahak-bahak. Ia melihat resleting celana panjang Toni sambil membayangkan ujungnya yang berbentuk bawang.


Toni mengerti saat pandangan mata William mengarah pada resletingnya. "Bawang bombay! bukan bawang emprit. Milikku sudah pasti dengan ukuran maksimal dan dengan produktifitas yang tinggi!"


"Ehem," William berusaha untuk menahan tawanya sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Aku cuma takut Melda mencurigai sesuatu saat melihat dan mencicipi milikmu. Aku terlalu memikirkannya tadi. Baguslah kalau si bawang sudah ditumbuhi rerumputan."

__ADS_1


"Cih! aku tahu apa yang kau pikirkan. Apa kau lupa kita sama-sama bule? Bentuk tubuh kita sama, tinggi badan sama, dan parfum kita sama. Kupikir master kita juga sama ukurannya."


"Lalu kenapa kau tadi lama sekali?"


"Tentu saja lama. Aku harus membiarkannya untuk mentritmen si bawang terlebih dahulu."


**Flasback on**


Saat Toni yang tengah menyamar menjadi William, selesai meletakkan beberapa kamera cctv berukuran mini di beberapa sudut apartemen Melda, ia menuju dapur untuk mengambil kaleng bir di kulkas. Sebelum ia kembali ke kamar, ia terlebih dahulu membuka tutup kaleng itu dan menaburkan obat tidur di dalamnya. Lalu ia berikan kepada Melda untuk diminumnya.


Setelah itu Melda melancarkan aksinya untuk merayu pria yang dianggapnya William. Dengan tubuh berbalut lingerie tembus pandang, ia melenggak lenggokkan tubuhnya untuk menarik minat sang pria. Seorang Toni yang gemar dengan permainan ranjang tentu menyambut niat baik Melda yang sukarela memberikan jamuan.


Melda yang terus menggerakkan kepalanya naik turun, benar-benar memanjakan sang bawang milik Toni. Itulah mengapa Toni mematikan lampu kamar Melda, agar Melda tidak mencurigai bila ada keganjalan yang ia temukan saat ******* inti tubuh Toni.


Ia tengadahkan kepalanya ke atas dengan mulut menganga menahan desa'han yang ia rasa dapat membuat Melda curiga. Ia menyadari bila sedang keenakan, dia dapat lepas kontrol. Ia takut mengeluarkan kata-kata fulgar yang dapat memecah konsentrasi Melda saat mengulum inti tubuhnya


Lima belas menit kemudian, Toni akhirnya dapat mengerang panjang saat si bawang memuntahkan laharnya. Namun saat ia selesai dengan pelepasannya, Melda mengutarakan rasa aneh di tubuhnya. Entah mengapa dia menjadi sangat mengantuk dan sangat lemas. Kemudian ia meminta untuk rehat sejenak sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya. Dan akhirnya Melda tertidur pulas.


Saat itulah Toni langsung berdiri dan memakai kembali pakaiannya. Ia meraih handphone Melda dan mengoperasikan sistem pengendalian dari jarak jauh. Ia meretas handphone Melda agar ia dapat mengetahui siapa saja yang berhubungan dengannya.


**Flashback off**


William menganggukkan kepalanya dan kembali bertanya, "Apakah kau menemukan keganjilan dengan keluarga pamanku di handphone nya?"


"Tidak, itu murni adalah rencana keluarga besarnya. Tidak mendapatkanmu, maka Gongyu incaran selanjutnya. Dengan masuk ke dalam keluarga Choi, maka itu dapat mempermudah jalan mereka untuk mengembalikan kejayaan keluarga. Kau tahu sendiri sekarang nasib keluarganya. Mereka makin tertelan bumi. Hanya Melda satu-satunya jalan untuk mengembalikan kejayaan mereka dulu."


"Menurutmu, apakah pamanku tahu tentang Melda?"


"Tidak. AKu tidak bisa melakukannya. Aku harus menjaga hati Angel."


"Ah...si cantik Angel. Pantas saja kau tobat. Kau mendapatkan gadis ranum dan suci. Di usianya yang begitu muda, pertumbuhannya benar-benar maksimal. Bisa kubayangkan bagaimana dia di usia matang. Pasti bentuk tubuhnya makin menjadi."


Tuk!


"Au!" teriak Toni sambil mengusap keningnya yang terkena lemparan pena dari William.


"Akan ku kupas si bawang kalau kau berani menjadikan calon istriku sebagai bahan imajinasimu!"


"Kalau begitu biarkan aku membayangkan tubuh Xialin!"


"Kau benar-benar ingin aku mengiris bawangmu?"


"Kalau kau tidak suka dengan sikapku, pecat saja aku!"


"Teruslah bermimpi! Aku tak akan memecatmu seumur hidupmu! Kau akan terus menjadi budakku. Hahahaha!"


Toni berdiri dari duduknya. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar ia melihat William terlebih dahulu. "Akan kuhamili Xialin kalau kau terus memasung kebebasanku." Lalu ia segera berlari keluar dan menutup pintu dengan keras. Hingga membuat William marah dan berteriak.


"Toniiii!!!!"


**

__ADS_1


Di apartemen keluarga Mahendra, David tengah berjalan menuju kamarnya. Ia buka pintu dengan semangat, namun itu sirna dengan tiba-tiba. Dapat ia lihat saat ini Alia tengah merebahkan dirinya bersama Angel. Dengan wajah berbalut masker putih tebal dan irisan mentimun di kedua mata mereka yang tertutup.


lalu ia tutup kembali pintu itu dan keluar. Ia berjalan menuju ruang keluarga di mana ada seluruh keluarganya di sana, Ada mama, papa, abah, dan juga emak yang tengah asik menonton acara televisi dengan berbagai cemilan di atas meja sebagai teman nonton mereka.


David ikut duduk di antara mereka. Ia mendengus kesal. Ia menatap papa Ronan dan berkata, "Pa. kapan Angel menikah?"


"Tiga hari lagi." Jawab papa Ronan acuh.


"kenapa tidak besok saja?"


Semua orang terhenti dan mengalihkan pandangannya dari televisi ke arah David.


Papa Ronan mengerutkan keningnya dengan bingung. "Ada apa son? Kenapa kau ingin adikmu segera menikah?" Papa Ronan sudah mulai dirayapi pikiran negatif saat David mengemukakan pendapatnya. Apakah selama ini Angel telah menghancurkan kepercayaan keluarga? Apakah selama ini Angel telah menyalahi aturan dan norma? Apakah Angel telah kehilangan kesuciannya?"


"Lihatlah pa. Angel terus memonopoli istriku. Lalu bagaimana nasibku?"


Abah Sofian dan emak Titin menahan tawa mendengar perkataan David. Merasa lucu sekaligus senang saat menantunya begitu mencintai putrinya hingga tidak bisa lama berjauhan.


Sedangkan papa Ronan mengusap keningnya karena merasa malu dengan sikap kekanak kanakan yang ditunjukkan oleh putranya. Lalu ia melirik istrinya dengan bingung. "Memangnya apa yang sedang Angel lakukan bersama Alia mah?"


"Biar mama sendiri yang memeriksanya pa." Kemudian mama Jasmine bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar david. Membuka pintu itu dan terperanjat.


"Astaga!" teriak mama Jasmine sambil meraih mentimun di atas mata Angel yang tertutup. "Bangun ANgel! pindah ke kamarmu sekarang!"


Teriakan mama jasmin membangunkan Angel dan Alia. Hingga mereka bangkit dari tidurnya dan duduk tegak di atas ranjang.


"Mah, ada apa sih?" tanya Angel ingin tahu.


"Angel sayang, ini adalah kamar kakakmu. Dan Alia sekarang adalah milik kakakmu. Jadi kau tidak boleh seenaknya merebut waktu Alia dari kakakmu."


"Apa?" tanya Angel heran. Ia melirik Alia yang juga memasang wajah bingungnya. "Mah, ini pasti kakak yang mengadu kan?"


"Sayang, kakakmu benar. Mama lihat kau memang menguasai Alia. Sama sekali tidak memberikan kesempatan kakakmu untuk berdekatan dengan istrinya sendiri. Ayo cepat kembali ke kamarmu sekarang." ucap mama Jasmine sambil menarik tangan Angel keluar dari kamar. Sebelum melewati pintu, mama Jasmine menoleh ke arah Alia sejenak dan berkata, "Alia sayang, suamimu akan segera datang. Jadi persiapkan dirimu oke?" Mama Jasmine berucap pada menantunya dengan mengedipkan satu matanya. Dan Angel hanya menurut dan mengikuti langkah mamanya dengan masker wajah yang masih menempel.


Dengan langkah berat dan sedikit menghentak, Angel berjalan menuju arah kamarnya dengan tangan yang masih dalam genggaman mama Jasmine. Saat melewati ruang keluarga, dapat ia lihat kakaknya yang juga tengah memandangnya dengan sinis. Dengan refleks ia hempaskan tangan mamanya dan berjalan mendekati kakaknya. Saat berdiri di hadapan David, dengan tangan yang ia letakkan di kedua pinggangnya, ia menantang David.


"Abang! Denger ya. Jangan lupa, sebelum ia menjadi milik abang, Alia adalah milikku. Dia adalah sahabatku. Kami tidur bersama, kami makan bersama, dan kami mandi bersama. Dan sekarang dengan seenaknya abang merebut posisiku di samping Alia! Jangan mentang-mentang abang sudah menikah dengannya lantas memasung kebebasannya! Aku tidak terima abang memperlakukan Alia semena-mena. Ini sudah melanggar hak asasi manusia. Abang akan dikenai pasal--a, a-a-auuuu! Sakiit!"


Mama Jasmine melayangkan tangannya menggapai telinga Angel dan menjewernya. Mama Jasmine lantas berjalan menuju kamar Angel dengan tangan yang masih menyeret telinga Angel. Mama Jasmine tidak habis pikir dengan tingkah putra putrinya yang masih manja dan kekanak kanakan. David dan Angel bertengkar bagai sedang berebut mainan.


David yang melihat adiknya kesakitan pun tertawa puas. "Hahaha! Rasain kamu!"


"Ehem!" papa Ronan berdehem sambil melirik sinis David yang terbahak.


David terdiam. Ia tersenyum sungkan saat kedua mertuanya tengah menutup mulut dengan kedua tangannya untuk menahan tawa melihat tingkahnya.


"Ehm, papa, abah, emak, David masuk ke kamar dulu. Permisi.." ucap David dengan setengah berlari menuju ke kamarnya.


Sedangkan papa Ronan menggelengkan kepalanya. "Maaf besan, kalian melihat tingkah putra putri kami yang sangat manja."


Abah tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa besan. Saya dan istri saya justru bahagia melihat kehangatan di dalam keluarga Mahendra. Kami makin mantab melepas Alia kepada keluarga yang penuh kasih sayang seperti keluarga Mahendra."

__ADS_1


__ADS_2