
Setelah penampilan Angel yang memukau semua mata, William makin mengaguminya. Seorang gadis kecil yang menurutnya sangat luar biasa. Terlihat polos, namun menyimpan daya tarik yang tak dapat dianggap remeh.
"Angel, bagaimana kau bisa malakukannya? Darimana kau belajar memainkan sitar? Dan lagu yang kau mainkan itu, ah...darimana kau tau penyanyi itu?"
Baru saja duduk, Angel sudah diberondong dengan banyak pertanyaan dari Xialin. Ia tersenyum manis sambil menatap Xialin yang bertanya dengan antusias. "Ehm, aku belajar di rumah. Beberapa alat musik sudah tersedia di rumah."
"Wow, kak Willi begitu perhatian kepadamu. Sampai menyediakan banyak alat musik untukmu." ucap Xialin.
Angel tidak berani banyak bicara. Namun dia cukup terkejut dengan tanggapan Xialin yang mengira kalau rumah yang ia maksud adalah rumah William. Hingga ia hanya menanggapinya dengan senyum dan anggukan pelan.
"Cih, ternyata Willi memberikanmu banyak fasilitas. Pantas saja." sahut Gongyu.
"Apa maksud ucapanmu Gongyu?" potong William.
"Kau memberikannya segala kemewahan. Sama seperti kau sedang mencoba merubah seekor bebek menjadi angsa." jawab Gongyu sinis.
"Gongyu! Mana tata kramamu!" Bukan William yang berucap, namun suara nenek menginterupsi dengan nada kesal.
Nenek dan kakek menatap tajam pada salah satu cucunya. Gongyu, entah mengapa dia berbeda dengan cucunya yang lain. Selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Tanpa mau dikoreksi oleh orang lain. Sifatnya terlalu egois, bahkan sulit untuk menghargai orang lain.
"Maaf nek, aku lepas kendali." jawab Gongyu mengalah. Ia melirik Angel sepintas. Wanita ini belum resmi masuk ke dalam keluarganya, namun sudah membawa masalah baginya. Tidak bisa dibiarkan!
"Maafkan cucuku Angel. Dia terlalu ekspresif. Mulutnya itu seperti mulut wanita. Suka mencibir sana sini." ucap nenek sekali lagi.
"Tidak apa-apa nek. Angel tidak tersinggung. Mungkin karena kemampuan berpikirnya hanya sampai di situ."
Hemmpp!
Xialin menutup mulutnya untuk menahan tawa. Ucapan Angel sangat menyentil hati.
"Nek, aku ini cucumu." protes Gongyu.
__ADS_1
"Justru karena kau cucuku, jadi aku menasehatimu. Hargailah orang lain kalau kau ingin orang lain juga menghargaimu. Angel adalah pilihan Willi. Willi tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri." ujar nenek
"Justru itu nek. Kenapa nenek membiarkan Willi menikah dengan seorang pembantu. Sebagus bagusnya dia, tidak bisa kita pungkiri statusnya. Apa tanggapan orang-orang terhadap keluarga kita. Gongyu berkata dengan menggebu gebu.
Tanpa menunggu lama, William segera berdiri dari duduknya. "Nenek, kakek, ijinkan aku membawa Angel ke kamar tamu. Lebih baik dia istirahat di kamar saja daripada mendengarkan ucapan tidak penting dari sepupuku." Tanpa menunggu jawaban semua orang, William sudah menggandeng Angel untuk dibawanya menuju kamar tamu.
Keheningan terjadi di sana. Kakek dan nenek menatap tajam ke arah Gongyu. Lalu suara kakek terdengar. "Gongyu, kenapa kau melusak suasana. Kita di sini untuk bersenang-senang. Hargailah kami sebagai tuan lumah."
"Maaf kek. Aku terlalu berlebihan." ucap Gongyu sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Sedangkan Melda yang menjadi salah satu tamu di sana terlihat diam tak berkata-kata. Namun yang sebenarnya yang ia rasakan adalah kepuasan. Ia menarik sudut bibirnya sedikit, hingga hampir tak terlihat. Dia senang saat wanita pilihan William itu dihina habis habisan oleh Gongyu. Dia yang sudah sedikit mempengaruhi Gongyu untuk mengintervensi keberadaan Angel di antara keluarga Choi.
Di suatu ruangan, William menuntun Angel masuk. "Sayang, ini kamar untukmu istirahat."
Angel masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menghela nafas dalam dan memejamkan mata. Untuk datang ke acara keluarga besar Willi sudah membuatnya tegang. Dan sekarang, kejadian tak terduga telah ia alami. Ia benar-benar lelah saat ini. Untung jiwa mudanya mendominasi, jadi kejadian tadi sama sekali tidak mempengaruhi mentalnya. Namun kemudian tubuhnya tersentak saat ia rasakan sebuah tangan membelai wajahnya. Ia membuka matanya, dan melihat wajah William tepat berada di depannya.
William yang melihat kekasihnya merebahkan diri di atas tempat tidur, ikut menyusulnya. Ia amati Angel yang menghembuskan nafas beberapa kali. Ia tahu apa yang dirasakan Angel saat ini. Dan ia merasa bersalah. Dialah yang sudah menyembunyikan jati diri Angel sehingga mendapatkan banyak hinaan dari keluarganya.
"Maafkan aku sayang. Akulah yang membuatmu menerima semua ini. Aku yang telah menyembunyikan identitas aslimu dari semua orang."
"Apakah kakakku sudah mulai menemukan jejakku?" tanya Angel hati-hati.
"Iya, kakakmu sudah berada di cina, dua hari setelah kedatanganmu."
Angel memalingkan wajahnya dari William. Dia berpikir langkah apa yang dapat ia ambil untuk dapat menghindari keluarganya.
William menarik dagu Angel untuk menghadap ke wajahnya dan berkata, "Jangan khawatir, semua sudah kuatasi. Yang penting sekarang kita menikmati acara kita di sini. Tidak usah terlalu kau pikirkan."
William berkata sambil mengelus pipi Angel. Mereka saling menatap dalam. Lalu jari William meraba pelan bibir Angel, kemudian ia dekatkan dengan bibirnya. Ia kecup bibir Angel sekilas. Saat ia menjauhkan wajahnya, ia melihat mata Angel terpejam. Kemudian ia manfaatkan situasi itu dengan kembali mencium bibir Angel. Mengecup, menghis*p, dan menjil*t bibir merah itu.
Angel saat menerima kecupan dari William, merasa bahagia. Kecupan yang menurutnya penuh dengan kasih sayang. Namun saat kecupan itu kembali terulang, ia pun hanya pasrah dan menikmati. Apalagi kecupan itu berubah menjadi lebih dalam dan menuntut.
__ADS_1
William menghis*ap bibir Angel sampai bibirnya terbuka. Dan itu William manfaatkan untuk memasukkan lidahnya ke dalam. Ia sapu seluruh sudut mulut Angel. Ia obrak abrik tiap ruangan. Ciuman yang begitu menggebu membuat suasana makin panas di antara cuaca kamar yang dingin.
Tangan William menyentuh tengkuk Angel untuk memperdalam ciumannya. Ia mengelus leher Angel pelan. Kepalanya sesekali ia miringkan ke kanan dan ke kiri untuk memperdalam ciumannya. Dan tangan satunya ia pakai sebagai penyangga tubuhnya agar tidak menindih tubuh Angel.
Suasana makin panas saat tangan William makin turun ke dada Angel. Ia arahkan tangannya untuk menangkup satu buah da** Angel.
"ahk,"
Des*han tertahan Angel masih dapat didengar William. Dan itu membuat ia makin bersemangat. Dapat ia rasakan gerak tubuh Angel yang menggelinjang resah saat tangannya mengelus lembut bukit kembar Angel.
Di saat suasana makin tak terkendali, William melepaskan ciumannya. Wajahnya sedikit ia jauhkan. Ia melihat Angel yang terengah engah dengan mata yang masih terpejam. Sangat menggairahkan di matanya.
Angel membuka mata, melihat wajah William yang tersenyum manis. Dapat ia lihat pipi William yang merona. Dan ia yakin kalau wajahnya saat ini pun tak kalah merahnya.
"Wajahmu merona sayang. Cantik sekali. Apa kau malu?" tanya William.
"Tidak, aku tidak malu. Aku sangat menikmatinya. Tadi rasanya tubuhku panas. Rasa yang aneh, namun enak. Entahlah bagaimana menjelaskannya."
"Itu namanya hasr"t. Naluri manusia saat menginginkan sesuatu yang lebih."
"Maksudnya menginginkan sesuatu yang lebih itu seperti apa?"
"Itu... Itu... sesuatu yang selalu kau sebut dengan proses pembentukan embrio sayang."
"Oh ya? Ayo kita lakukan. Aku ingin tahu bagaimana caranya."
William mendesah berat, lalu menjawab. "Tapi kita harus menikah dulu sayang. Baru bisa melakukannya." Kekasihnya ini masih sangat polos dengan persoalan persetub*han. Jadi ia akan sedikit demi sedikit menuntunnya. Menuntunnya ke arah lebih baik.
...****************...
Arah lebih baik maksudnya gimana ya Wil?? Tanya otor polos.
__ADS_1