Terpaksa Menjadi Tkw Cantik

Terpaksa Menjadi Tkw Cantik
Relaksasi


__ADS_3

slurp.. Ehm..


"Tidak Mel... Kamu tidak boleh melakukan ini. Kita sudah bukan partner lagi. Ahhh..." d*sah William. "Baiklah jika kau memaksaaaahhh.... ahhh...yaahhh... Benar begitu..."


Melda terus mengu*lum dan menj*lat sang maestro di bawah sana hingga William merem melek keenakan.


Wanita ini memang tak tertandingi dalam hal mengasah dari dua mulutnya. Dan itu sudah terbukti dari pengakuan banyak mulut lelaki yang pernah menjadi partner ranjangnya.


Melda sang mantan mainan William sedari pagi sudah mempersiapkan diri untuk menemui William di kantornya. Memang William tipe lelaki yang tidak suka urusan pribadi dibicarakan di kantor. Namun Melda tidak punya pilihan lain lagi. Hanya ini satu-satunya cara untuk bisa bertemu dan bicara dengan William.


**Flashback on**


"Bisa saya bantu nona?" tanya sang resepsionis sopan.


"Aku ingin bertemu dengan tuan William Choi. Dan namaku Melda."


"Apakah anda sudah membuat janji dengan CEO kami?"


"Aku tidak perlu membuat janji. Cukup beritahu tuan William kalau Melda tidak akan pergi sebelum bertemu dan bicara dengannya. Hanya sepuluh menit. Yah, sampaikan padanya untuk menyediakan sedikit waktu untuk bertemu denganku"


"Baik nona, mohon tunggu sebentar. Silahkan duduk di ruang tunggu terlebih dahulu."


Beberapa menit kemudian, sang resepsionis datang menemui Melda yang sedang duduk dengan anggun di ruang tamu gedung.


"Nona Melda, silahkan menuju lantai empat belas untuk ke ruangan tuan William."


Melda yang mendengar segera berdiri dengan antusias dengan senyum mengembang. Dia berjalan dengan anggun menuju lift.


Setelah lift sampai di lantai empat belas, pintu lift terbuka. Dia berjalan keluar, menengok kanan dan kiri. Nampak di sebelah kanan lift ada sebuah ruangan yang bertuliskan ceo di atas pintu. Kemudian ia berjalan ke arahnya. Di sana sudah ada sekretaris yang menyambutnya dan membukakan pintu untuk mempersilahkannya masuk.


Dia masuk, dan menoleh ke kanan. Nampak sebuah meja kerja yang di atasnya terdapat laptop dan beberapa tumpukan berkas. Dan yang paling menarik dari itu semua adalah sosok pria gagah yang sedang mengotak atik laptopnya.


Melda berjalan sambil membuka kaca mata hitamnya. Tersenyum manis dan memanggil nama pria itu.


"William.." sapa Melda mendayu.


William mendongak dan menatap seorang wanita yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Kau punya nyali juga untuk datang ke kantorku." ucap William ketus.


"Maaf, tapi hanya ini satu-satunya cara agar kita bisa bicara." jawab Melda sambil meletakkan tas jinjingnya ke meja. Lalu ia berjalan mendekat ke tempat duduk William.


William duduk menyender sambil menatap Melda yang mendekat dan meletakkan ke dua tangannya di atas meja kerja hingga saat ini posisi mereka bersebelahan. William yang duduk santai di kursi kerjanya, dan Melda yang berdiri sambil menyender di meja kerja William.


"Maaf Wil.. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk bertemu denganmu. Tidak akan mengganggu pekerjaanmu. Justru dengan bertemu denganku, kau bisa makin semangat bekerja."


"Apa maksudmu? Cepat bicara jangan membuang waktuku. Kau adalah kekasih sepupuku. Aku tidak ingin ada kesalahpaham di antara kami."


"Baiklah, tapi janji dulu kau mau memberikanku kesempatan untuk membuat hubungan kita makin baik. Aku tidak ingin kau terus menghindariku."


"Baiklah, silahkan bicara."


Sudut bibir Melda sedikit tertarik. Sambil menatap wajah tampan William dia berpikir apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan perhatian pria itu.


"Aku akan bicara, dan kau boleh mendengarkan sambil mengerjakan pekerjaanmu. Bukankah kau sedang memeriksa berkas? Maka lakukanlah."


William berpikir lebih baik seperti itu karena dia tidak menganggap penting dengan pembicaraan mereka. Kemudian ia menjatuhkan pandangannya ke atas meja kerjanya. Ia raih berkas proyek untuk kembali ia baca. Namun ia terkesiap. Ia mengalihkan pandangannya ke bawah. Wanita itu tengah terduduk di bawah mejanya dan menyeret resletingnya agar terbuka.


"Apa yang kau lakukan!" bentak William terkejut.


Dengan sedikit memaksa, wanita itu begitu cepat meraih resleting dan membuka celana William. Ia sibak cela-na da*am William dan dengan gesit mengeluarkan isinya.


Dan terjadilah penyergapan dari mulut lihai wanita itu kepada si sotong kebanggaan William yang tadinya tersimpan rapi di balik celana.


**Flashback off**


Berawal penolakan namun sepertinya William masih memberikan kesempatan Melda untuk dapat menunjukkan niat baiknya.


"ouh.." des*hnya lagi. Memandang ke bawah, akhirnya ia pun terpaksa memberikan dukungan untuk wanita itu mengerjakan pekerjaannya dengan memegang kepala Melda. Ia maju mundurkan kepala Melda untuk memaksimalkan gerakan.


Ia tengadahkan kepalanya ke atas dengan mata terpejam. "Yasshhh.. Enak sekali."


Melda yang sedang mengerjakan pekerjaannya itu, tersenyum puas melihat William mend*sah dan memejamkan matanya dengan mulut ternganga. Apalagi saat kedua tangan William yang memegang kepalanya sebagai dukungan untuknya.


Ia berpikir kalau pria ini memang tak akan pernah berubah. Tetap sebagai petualang lubang berjalan. Karena nyatanya William tidak mencegahnya, bahkan sangat menginginkannya.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu, dan akhirnya...


Cr*t!!!


Tinta sotong William mengalir bahkan muncrat dengan sangat deras di atas wajah Melda. Rasa lega dan puas tergambar jelas di wajah William.


Tak kalah puas dengan William. Melda pun sangat puas dengan ekspresi wajah William. Ia telan dan ia j*lat lava yang baru saja keluar. Kemudian ia usap sisa-sisa lava yang menempel di wajahnya dengan tissue.


William tarik resleting celananya dan merapikannya lagi. Senyum di wajahnya sangat ketara. Ia pandang Melda yang juga tengah tersenyum menatapnya.


"Apa hanya ini yang mau kau sampaikan?" tanya William dengan senyum tipisnya.


"Aku bisa malakukan banyak hal lain. Melakukan seperti yang selalu kita lakukan dulu." jawab Melda sambil tangannya mengusap lengan William pelan.


"Pergilah. Aku masih banyak pekerjaan. Kau masih ingat kalau ini kantor bukan?"


"Tentu saja. Aku akan pergi sekarang. Kalau kau masih penasaran dengan hal apa saja yang bisa aku lakukan.. Kau bisa datang langsung ke apartemenku." ucapnya dengan mengedipkan satu matanya.


Melda berdiri tegak, merapikan pakaiannya dan meraih tas jinjingnya. Ia berbalik berjalan ke arah pintu keluar. Sebelum ia membuka pintu itu, ia menoleh kembali ke arah William. Dan memberikan gerakan cium jauh kepada William.


Setelah Melda keluar, rak buku di belakang meja kerja William terbuka tiba-tiba.


Klek kretek! Srett...


Seorang pria muncul dari dalam rak buku yang terbuka itu. "Sepertinya kau sangat menikmati." ucap pria itu.


William yang duduk di kursi kerja segera berdiri dan berpindah tempat duduk ke sofa tamu. Setelah ia duduk, ia raih sesuatu di lehernya.


Srettt


Terdengar suara asing yang ternyata itu suara dari topeng wajah yang dibuka paksa. Ternyata pria yang sedari tadi duduk di kursi meja adalah orang lain yang menyamar menjadi William. Ia tutupi wajah aslinya dengan topeng yang sama dengan wajah William. "G*la! Nikmat sekali sep*ngan wanita itu.


"Cih! Lihatlah ruang kerjaku ini jadi terkontaminasi aroma sp*rmamu!" ucap sinis dari pria yang keluar dari pintu rahasia ruangan itu, yang ternyata adalah William yang asli.


"Thank you bro. Atas relaksasinya. Sekarang otakku sudah bisa bekerja maksimal lagi." ucapnya sambil berdiri dan melangkah pergi dari ruangan William.


"Hei! Kunyuk! Bersihkan ruang kerjaku!*

__ADS_1


Si pria itu hanya melambai sambil memberikan gerakan cium jauh kepada William yang berteriak padanya. Ia berlalu pergi dengan sedikit berlari.


"Toniiiii!!!!"


__ADS_2